BGN Pastikan Motor Listrik Pengadaan 2025 Dimanfaatkan Maksimal, Belanja Serupa Tahun 2026 Dihentikan
Main Agenda – Badan Gizi Nasional (BGN) telah mengambil langkah strategis untuk memastikan seluruh barang yang diperoleh pada tahun 2025, termasuk motor listrik sebagai bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), digunakan secara optimal. Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menegaskan bahwa pengelolaan anggaran akan dilakukan dengan lebih teliti di masa depan, terutama dalam menghindari pemborosan dana. Dalam konferensi pers di Gedung BGN, Kamis, 19 Juni 2026, ia menjelaskan bahwa tim lembaga telah menyisir setiap pengeluaran yang dilakukan tahun lalu. “Kita sudah menganalisis setiap kebutuhan yang ada, termasuk pengadaan motor listrik,” ujarnya. Tahun 2026 tidak akan mengulangi pembelian serupa, jika hasilnya tidak lebih baik dari tahun sebelumnya.
Langkah Efisiensi: Peninjauan Lengkap atas Pengeluaran Tahun 2025
Agustina Arumsari menyampaikan bahwa BGN telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengeluaran yang dilakukan pada tahun 2025, termasuk program MBG. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap dana yang dialokasikan memberikan manfaat maksimal. “Kita tidak hanya menghitung jumlah belanja, tetapi juga mengevaluasi efektivitas setiap item yang dibeli,” kata wakil kepala BGN. Menurutnya, motor listrik yang telah dibeli menjadi fokus utama karena jumlahnya cukup besar dan menyangkut kebutuhan operasional program MBG. “Jika di 2026 ada kebutuhan belanja yang outputnya mirip dengan 2025, kita akan membatalkan pengadaan tersebut,” tambah Agustina.
“Saya menjawabnya selalu secara umum. Secara umum segala sesuatu yang sudah dikeluarkan pada tahun 2025 kita sudah sisir satu demi satu. Kalau di 2026 ada belanja BGN yang outputnya kurang lebih sama dengan 2025, itu 2026 tidak akan kami eksekusi. Itu salah satu bentuk efisiensi juga,” kata Agustina.
Efisiensi dan Penataan Aset: Kebutuhan Optimalisasi
Agustina menegaskan bahwa aset yang dibeli dengan anggaran negara harus memberikan dampak yang lebih besar dari biayanya. Selain itu, pihaknya sedang berdiskusi dengan tim lain untuk mengevaluasi cara penggunaan barang-barang tersebut secara lebih efektif. “Kita masih mengumpulkan data dan membahas detailnya, termasuk jenis motor listrik yang sudah dibeli, apakah bisa dimanfaatkan dalam jangka waktu lebih lama,” ujarnya. Proses ini dilakukan sambil menunggu persetujuan dari Kejaksaan untuk memastikan tidak ada kesalahan administratif dalam penggunaan dana.
“Lalu bagaimana yang sudah keluar di 2025, itu kami akan memanfaatkannya secara maksimal. Satu demi satu barangnya apa dan sebagainya, itu masih kami bahas dengan teman-teman yang lain, apalagi masih dalam proses di Kejaksaan,” ujarnya.
Revisi Anggaran: Rencana Output (RO) sebagai Penyaring Efisiensi
BGN juga mengungkapkan bahwa beberapa pos anggaran telah diblokir oleh Kementerian Keuangan melalui mekanisme Rencana Output (RO). Ini berdampak pada kemampuan lembaga untuk langsung merealisasikan dana tersebut, sehingga harus mengajukan izin khusus jika ingin menggunakan belanja serupa. “Beberapa mata anggaran itu sudah dimasukkan oleh Kemenkeu di dalam rencana output, diambil untuk diblokir, tidak boleh dibelanjakan dulu oleh kami. Malahan sebagian besar, jika ingin menggunakan harus izin dari presiden,” katanya. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk mengoptimalkan penggunaan dana, terutama dalam menyaring kebutuhan belanja yang bisa diulang di masa depan.
Pengadaan Motor Listrik Tahun 2025: Anggaran dan Spek Teknis
Sebelumnya, BGN menganggarkan sekitar Rp1 triliun untuk memperoleh 21.801 unit motor listrik. Kebutuhan ini dianggap penting dalam mendukung operasional program MBG, yang bertujuan menyediakan makanan bergizi kepada masyarakat. Motor listrik yang dibeli diproduksi dalam negeri, dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 48,5 persen. Harga estimasi per unit motor tersebut sekitar Rp47 juta. “Produk dalam negeri ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada impor dan lebih efisien dalam penggunaannya,” jelas Agustina.
“Beberapa mata anggaran itu sudah dimasukkan oleh Kemenkeu di dalam rencana output, diambil untuk diblokir, tidak boleh dibelanjakan dulu oleh kami. Malahan sebagian besar, jika ingin menggunakan harus izin dari presiden,” katanya.
Strategi Keuangan: Menekan Pengeluaran yang Tidak Efektif
Dalam rangka mengurangi pengeluaran tidak perlu, BGN juga meninjau kembali strategi penggunaan dana. Wakil kepala BGN menjelaskan bahwa anggaran akan dialokasikan berdasarkan kebutuhan aktual dan hasil evaluasi dari berbagai aspek. “Kita tidak ingin ada belanja yang tidak memberikan manfaat optimal, terutama untuk kebutuhan yang bisa diimbangi dengan solusi lain,” ujarnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari pengulangan keputusan yang belum terbukti efektif.
Program MBG: Motor Listrik sebagai Alat Pendukung
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu proyek utama yang mendapat perhatian besar di tahun 2025. Motor listrik yang dibeli dianggap penting untuk meningkatkan efisiensi distribusi makanan, terutama di daerah terpencil. Selain itu, keberadaan motor listrik juga diharapkan bisa mendukung keberlanjutan program ini, karena mengurangi biaya operasional jangka panjang. “Kita ingin menjaga konsistensi program MBG tanpa mengorbankan anggaran,” tambah Ag
