News

Saat Jawa-Bali Gelap – Puluhan Rumah di Kampung Tangsijaya KBB Tetap Terang Gunakan Listrik dari Sungai

Saat Jawa-Bali Gelap, Puluhan Rumah di Kampung Tangsijaya KBB Tetap Terang Gunakan Listrik dari Sungai Saat Jawa Bali Gelap - Di tengah pemadaman listrik yang

Desk News
Published Juni 20, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Saat Jawa-Bali Gelap, Puluhan Rumah di Kampung Tangsijaya KBB Tetap Terang Gunakan Listrik dari Sungai

Saat Jawa Bali Gelap – Di tengah pemadaman listrik yang menimpa sebagian wilayah Pulau Jawa dan Bali, situasi berbeda terjadi di Kampung Tangsijaya, Desa Gununghalu, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Warga kampung yang terletak di lereng pegunungan ini tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari berkat sistem listrik mandiri yang mereka kembangkan. Sebelum akses listrik dari jaringan nasional mencapai daerah tersebut, masyarakat sudah mengupayakan solusi alternatif yang memanfaatkan sumber daya lokal, khususnya aliran Sungai Ciputri.

Sistem Listrik Mandiri yang Berkelanjutan

Kini, pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang dikelola oleh Koperasi Produsen Rimba Lestari (Kopbari) berhasil memenuhi kebutuhan energi bagi sekitar 90 rumah warga. Teknologi ini memanfaatkan aliran air sungai sebagai sumber tenaga, memberikan penerangan yang stabil meski daerah lain mengalami kesulitan. Opan Sopandi, ketua Kopbari dan pengelola PLTMH, menjelaskan bahwa sistem ini bukan sekadar pengganti listrik umum, tetapi juga membantu masyarakat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Sekitar tahun 1990-an kami masih menggunakan lampu tempel dan minyak tanah karena belum ada akses listrik,” ujar Opan saat ditemui, Jumat, 19 Juni 2026.

Dulu, warga menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan penerangan. Tanpa jaringan listrik, mereka terpaksa mengandalkan bahan bakar minyak tanah yang mahal dan tidak ramah lingkungan. Namun, kondisi ini justru memicu inisiatif kreatif untuk membangun sistem energi sendiri. Opan menceritakan bahwa aliran Sungai Ciputri, yang memiliki debit air konsisten sepanjang tahun, menjadi titik awal pengembangan solusi ini.

Pengembangan Teknologi Sederhana dari Awal

Sejak awal 1990-an, masyarakat Tangsijaya mulai mengeksplorasi potensi aliran sungai. Mereka membuat kincir air sederhana dari bahan kayu, lalu merakit dinamo pembangkit listrik menggunakan magnet bekas dari kendaraan bermotor. Teknologi ini memang belum canggih, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar penerangan rumah tangga.

“Satu kincir biasanya hanya melayani satu rumah, sehingga hampir setiap keluarga memiliki kincir sendiri yang dipasang di sungai,” ucap Opan.

Opan menyebutkan bahwa daya listrik hasil dari sistem ini awalnya sangat terbatas, berkisar antara 100 hingga 300 watt. Meski demikian, hal ini cukup untuk menyalakan lampu rumah-rumah warga. Dengan adanya PLTMH, penggunaan bahan bakar minyak tanah berkurang drastis, mengurangi biaya pengeluaran dan dampak lingkungan.

Keterlibatan Masyarakat dalam Pengelolaan

Sistem listrik mandiri di Tangsijaya tidak hanya menjadi hasil inovasi teknis, tetapi juga refleksi partisipasi aktif warga dalam pengelolaan sumber daya. Opan menegaskan bahwa pengembangan PLTMH adalah hasil kolaborasi bersama, dengan warga terlibat langsung dalam merancang, membangun, dan memelihara infrastruktur ini. “Kami membentuk kelompok kerja yang bertanggung jawab atas pengoperasian PLTMH,” jelasnya.

Dengan kontribusi masyarakat, sistem ini berkembang menjadi lebih canggih. Pada masa awal, penggunaan kincir air masih bersifat sederhana, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka memperbaiki desainnya untuk meningkatkan kapasitas. Saat ini, PLTMH berkapasitas 30.000 watt mampu memenuhi kebutuhan listrik di seluruh kampung, memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Kondisi Infrastruktur yang Membatasi

Opan menyoroti peran Sungai Ciputri sebagai faktor utama keberhasilan sistem listrik mandiri. Aliran air yang terus-menerus dan stabil memungkinkan masyarakat mengembangkan teknologi alternatif tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari. “Sungai Ciputri menjadi sumber daya yang tidak pernah kehabisan,” katanya.

Kondisi ini membuat masyarakat Tangsijaya tidak terlalu tergantung pada jaringan listrik nasional, yang hingga kini masih belum menjangkau seluruh wilayah desa. Meski terdapat perbedaan dalam akses infrastruktur, kampung ini tetap bisa menikmati penerangan yang cukup untuk keperluan sehari-hari. Penggunaan PLTMH juga berdampak pada perekonomian lokal, karena masyarakat bisa memproduksi energi sendiri tanpa biaya mahal.

Kemajuan Berkelanjutan dan Harapan Masa Depan

Kehadiran PLTMH telah mengubah kualitas hidup warga Tangsijaya secara signifikan. Selain menyelesaikan masalah penerangan, sistem ini juga menjadi contoh bagaimana komunitas dapat mengatasi keterbatasan infrastruktur. Opan berharap pengalaman ini bisa menjadi referensi untuk daerah-daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.

Dengan progres yang terus terjadi, Kopbari berkomitmen untuk memperluas sistem ini ke lebih banyak rumah. Mereka juga berencana meningkatkan kapasitas produksi listrik agar bisa menjangkau kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang. Opan menuturkan, inisiatif ini membuktikan bahwa kemandirian energi bukan hanya mungkin, tetapi juga bisa menjadi pilihan yang efektif dan ramah lingkungan.

Para warga kampung ini juga melihat PLTMH sebagai langkah penting menuju keberlanjutan. Dengan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak, mereka berhasil mengurangi penggunaan bahan bakar minyak yang sebelumnya dominan. Opan menekankan bahwa keberhasilan ini didasari rasa tanggung jawab dan semangat kolaborasi warga, yang terus menggerakkan inovasi lokal.

Konteks Nasional dalam Pengembangan Energi

Kasus Tangsijaya menjadi bagian dari pergerakan energi terbarukan di Indonesia. Meski jaringan listrik nasional terus berkembang, daerah-daerah terpencil seperti KBB masih membutuhkan solusi alternatif. Penggunaan PLTMH di kampung ini menunjukkan bahwa teknologi sederhana bisa menjadi pilihan yang efektif dalam mengatasi masalah energi.

Keberhasilan sistem ini juga menjadi bukti bagaimana komunitas mampu memanfaatkan lingkungan sekitar untuk keperluan hidup mereka. Dengan berbagai perbaikan dan penyesuaian, warga Tangsijaya kini mampu menjaga kualitas penerangan sepanjang hari, meski kondisi di sekitarnya masih gelap. Opan menuturkan bahwa langkah ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan, tetapi juga meningkatkan kemandirian ekonomi dan lingkungan.

Dengan pendekatan lokal dan kearifan adat, kampung Tangsijaya

Leave a Comment