News

Sebut Pengelolaan Sampah Jakarta Lebih Baik dari Washington – Pramono Anung Buka-bukaan soal Survei

Sebut Pengelolaan Sampah Jakarta Lebih Baik -

Desk News
Published Juni 22, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Survei Menyebut Jakarta Lebih Unggul dalam Pengelolaan Sampah daripada Washington DC

Pramono Anung Buka-Bukaan tentang Asal Survei dan Langkah Pemprov DKI

Sebut Pengelolaan Sampah Jakarta Lebih Baik – Dalam wawancara terbaru, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan adanya survei yang menunjukkan kinerja pengelolaan sampah di kota metropolitan tersebut tetap lebih baik dibandingkan ibukota Amerika Serikat, Washington DC. Meski pihaknya tidak menyebutkan detail penyelenggara atau metode survei, pernyataan ini menimbulkan perhatian publik terutama dalam konteks kota yang tengah berjuang melawan tantangan manajemen limbah. “Survei terbaru menunjukkan bahwa Jakarta masih unggul dalam pengelolaan sampah dibandingkan Washington DC,” ujarnya saat memberi wawancara di Monas, Minggu (21/6).

Menurut Pramono, hasil survei ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen Jakarta dalam mengubah paradigma pengelolaan sampah. Ia menekankan bahwa metode open dumping, yang selama ini digunakan, tidak lagi efektif menghadapi volume limbah yang terus meningkat. “Berdasarkan data terkini, metode ini kurang mampu memenuhi kebutuhan Jakarta,” tambahnya. Ia menyoroti bahwa perlu dilakukan penyesuaian strategi untuk menghadapi masa depan yang lebih kompleks.

“Dari hasil survei terakhir, ternyata Jakarta masih lebih baik daripada Washington DC,” kata Pramono di Monas, Minggu (21/6).

Pramono menjelaskan bahwa data survei tersebut juga memberikan gambaran tentang kapasitas tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantar Gebang, yang telah bertahun-tahun menjadi tumpuan utama Jakarta. “Setiap hari, volume sampah Jakarta mencapai 9.000 ton, sementara TPST Bantar Gebang kini mendekati batas maksimumnya,” katanya. Dengan angka tersebut, ia memaparkan bahwa sistem pengumpulan sampah saat ini tidak cukup efisien, terutama jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya.

Kota Jakarta, sebagai pusat aktivitas ekonomi dan penduduk terbesar di Indonesia, terus menghadapi tekanan terhadap infrastruktur lingkungan. Pramono mengatakan bahwa survei menjadi bukti bahwa masyarakat dan pemerintah daerah sudah memperlihatkan kemajuan dalam upaya mengurangi dampak limbah. “Peningkatan kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam hasil survei ini,” terangnya. Namun, ia juga menyatakan bahwa masih ada jalan panjang sebelum Jakarta benar-benar dianggap sebagai model pengelolaan sampah yang baik.

Langkah strategis yang diambil Pemprov DKI adalah menerbitkan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber. Dokumen ini memuat arahan untuk mendorong partisipasi masyarakat dari tingkat dasar dalam memilah sampah rumah tangga sebelum dikumpulkan. “Dengan instruksi ini, Jakarta berharap bisa mengurangi beban pengelolaan sampah yang kini semakin berat,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini selaras dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya pemberdayaan kecil-kecilan dalam menghadapi permasalahan lingkungan.

Pramono mengungkapkan bahwa penerapan pemilahan sampah dari sumber merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan. “Ini bukan hanya solusi sementara, tapi langkah awal menuju pengelolaan sampah yang lebih terpadu dan berbasis komunitas,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa TPST Bantar Gebang, meski menjadi pilihan utama, tidak bisa menjadi solusi tunggal. “Dengan volume sampah yang terus meningkat, kita perlu beradaptasi dengan sistem yang lebih modern,” lanjutnya.

Dalam konteks ini, Pramono menyoroti bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada jumlah pengumpulan, tetapi juga pada efisiensi pemilahan dan daur ulang. “Kita harus mengubah pola pikir masyarakat bahwa sampah bukan hanya masalah pemerintah, tetapi juga tanggung jawab individu,” tuturnya. Ia juga menyebut bahwa hasil survei ini menjadi semangat untuk terus berinovasi, terutama dalam memastikan bahwa Jakarta tidak hanya menjadi kota yang maju secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan.

Sebagai tindak lanjut, Pemprov DKI Jakarta berencana memperluas program pengelolaan sampah dengan melibatkan berbagai pihak, seperti pelaku usaha dan komunitas. “Kolaborasi antar sektor akan menjadi kunci keberhasilan,” katanya. Ia menargetkan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, Jakarta bisa mencapai tingkat pemilahan sampah yang lebih optimal, sekaligus mengurangi ketergantungan pada TPST Bantar Gebang. “Ini adalah bagian dari visi Jakarta untuk menjadi kota yang berkelanjutan,” pungkas Pramono.

Survei yang disebutkan menjadi bukti bahwa Jakarta terus menunjukkan kemajuan dalam manajemen sampah. Meski masih ada tantangan, seperti kepadatan volume limbah dan kapasitas TPST yang terbatas, Pramono yakin bahwa langkah-langkah yang diambil akan membawa perubahan signifikan. “Survei ini membuktikan bahwa kita bisa lebih baik lagi,” tegasnya. Ia berharap hasil survei ini bisa menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah adalah prioritas utama dalam pembangunan kota modern.

Leave a Comment