Prabowo Dorong Gerakan RANA, Ruang Aman dan Nyaman Anak dari Sekolah hingga Dunia Digital
Topics Covered – Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus pada upaya pencegahan kekerasan terhadap anak melalui pembentukan lingkungan yang aman dan nyaman bagi mereka. Kebijakan ini diterapkan tidak hanya di institusi pendidikan, tetapi juga mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk rumah tangga, ruang publik, dan dunia digital yang kini menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari anak-anak. Tujuan utama dari langkah ini adalah memastikan setiap anak Indonesia dapat berkembang secara optimal, tanpa terganggu oleh ancaman pelanggaran hak, seperti kekerasan fisik, psikologis, perundungan, atau eksploitasi. Arahan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno setelah memimpin rapat tingkat menteri terkait program Gerakan Ruang Aman dan Nyaman Anak (RANA) di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, pada Selasa, 23 Juni 2026.
Menurut Pratikno, Presiden secara tegas menekankan bahwa satuan pendidikan harus menjadi tempat yang benar-benar aman bagi anak, baik secara fisik maupun sosial. Hal ini menjadi bagian dari strategi nasional yang mengintegrasikan upaya perlindungan anak dari berbagai sektor. “Presiden menekankan bahwa lingkungan belajar harus menjadi ruang yang tidak hanya bebas dari bahaya fisik, tetapi juga dari tekanan sosial dan gangguan digital,” jelas Pratikno. Ia menambahkan bahwa program RANA dirancang untuk melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga, sekolah, komunitas, dan platform digital, dalam menciptakan sistem perlindungan yang komprehensif.
“Kita bersepakat untuk membuat gerakan nasional yang kita beri nama RANA, yang bertujuan membangun ruang aman dan nyaman bagi anak,” kata Pratikno.
Gerakan RANA diharapkan dapat memperkuat koordinasi antarlembaga dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya melindungi anak dari segala bentuk ancaman. Pratikno menyatakan bahwa pemerintah memandang perlindungan anak sebagai tanggung jawab bersama, yang tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari keluarga hingga dunia usaha, serta lembaga pemerintah dan organisasi masyarakat. “Dengan adanya RANA, kita bisa mengintegrasikan berbagai upaya yang telah dilakukan sebelumnya, agar lebih efektif dan berkelanjutan,” tambahnya.
RANA dirancang sebagai gerakan nasional yang menyasar berbagai lingkungan anak, termasuk ruang digital. Dalam era kemajuan teknologi, anak-anak semakin sering terpapar media sosial, game online, dan platform digital lainnya. Hal ini menimbulkan risiko baru, seperti pelecehan verbal, penipuan, atau eksploitasi seksual yang dapat terjadi di bawah naungan layanan digital. Oleh karena itu, pemerintah menekankan pentingnya regulasi dan pemantauan yang ketat terhadap ruang digital agar menjadi lingkungan yang sehat dan aman. Pratikno menjelaskan bahwa kehadiran RANA bertujuan memastikan bahwa anak-anak tidak hanya dilindungi di dalam ruang fisik, tetapi juga di dunia maya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Program ini juga menekankan peran keluarga dalam membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak. Pratikno menekankan bahwa orang tua harus menjadi pengawas utama dalam memberikan perlindungan, baik di dalam rumah tangga maupun di luar. “Keluarga adalah tempat pertama di mana anak belajar tentang kasih sayang dan keamanan,” ujarnya. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang terlibat dalam rapat tersebut, diberi tugas khusus untuk memastikan bahwa sistem pendidikan tidak hanya mengajarilah pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk sikap dan nilai-nilai kehidupan yang positif bagi anak.
Di samping itu, ruang publik juga menjadi fokus utama dalam upaya ini. Pratikno menjelaskan bahwa taman, pasar, jalan raya, dan tempat ibadah harus dirancang dengan pertimbangan keamanan anak. Misalnya, kota-kota besar perlu memperbaiki infrastruktur publik agar anak tidak mudah terkena bahaya, seperti kecelakaan atau penelusuran oleh pelaku kekerasan. Selain itu, media massa dan komunikasi sosial juga diminta berperan aktif dalam mempromosikan kesadaran akan perlindungan anak. “Masyarakat harus terus diberi informasi tentang cara mengidentifikasi dan mencegah kekerasan, terutama di ruang digital,” kata Pratikno.
Menko PMK menambahkan bahwa RANA bukan hanya sekadar program, tetapi juga menjadi komitmen politik dan sosial yang dijalankan secara berkelanjutan. Program ini akan diimplementasikan melalui kebijakan yang terukur dan partisipasi aktif dari semua pihak. “RANA akan menjadi kerangka kerja yang menghubungkan berbagai inisiatif lokal dan nasional, sehingga menciptakan sistem yang lebih efektif,” ujarnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah berencana menyiapkan mekanisme pengawasan, pelatihan, dan penilaian terhadap lingkungan anak di berbagai sektor.
Prabowo Subianto, yang juga menjadi tokoh sentral dalam pencegahan kekerasan terhadap anak, menegaskan bahwa keberhasilan RANA bergantung pada partisipasi aktif seluruh masyarakat. Ia menekankan bahwa sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu bekerja sama secara sinergis, terutama dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi di ruang digital. “Kita harus memastikan bahwa teknologi menjadi alat pendidikan, bukan alat merusak,” kata Prabowo. Kebijakan ini juga menyoroti pentingnya mengedukasi anak agar mampu memanfaatkan dunia digital dengan bijak.
Sebagai bagian dari upaya ini, RANA akan melibatkan berbagai kebijakan dan inisiatif, seperti pengembangan kurikulum pendidikan yang mencakup materi tentang kesadaran digital dan anti kekerasan. Selain itu, pemerintah juga berencana meningkatkan akses anak-anak ke layanan perlindungan, seperti hotline khusus dan pusat pengaduan. Pratikno menyatakan bahwa gerakan ini akan diterapkan secara bertahap, dengan fokus pada peningkatan kesadaran dan kebijakan yang selaras dengan kebutuhan anak-anak di era digital.
Dengan diterapkannya RANA, pemerintah berharap dapat menciptakan lingkungan yang harmonis dan mendukung pertumbuhan anak. Pratikno menegaskan bahwa keberhasilan gerakan ini memerlukan keseriusan dari semua pihak, termasuk perusahaan teknologi dan platform digital. “Kolaborasi ini adalah kunci untuk memastikan bahwa setiap anak merasa aman, baik di dalam kelas maupun di dalam layar komputer mereka,” tutupnya. Gerakan RANA diharapkan menjadi solusi terpadu yang dapat memberikan perlindungan menyeluruh bagi anak-anak Indonesia di berbagai aspek kehidupan.
