Kemarau Picu Selokan Kering, Warga Keluhkan Bau dan Banyak Nyamuk hingga Gatal-Gatal
Kemarau Picu Selokan Kering – Kemarau yang berkepanjangan semakin menggangu masyarakat di sejumlah wilayah. Dampaknya terasa nyata di Kampung Cieunteung Babakan, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya. Di sini, saluran drainase yang biasa mengalirkan air kini mulai kering, menciptakan masalah baru bagi warga setempat. Banyak sampah dan endapan lumpur yang tergenang di dasar saluran menjadi sumber bau tidak sedap, yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, kekeringan juga memicu peningkatan populasi nyamuk, menyebabkan keluhan tentang gatal-gatal di kulit.
Kondisi Selokan yang Mengering
Di Kampung Cieunteung Babakan, kekeringan saluran drainase telah terjadi beberapa minggu terakhir. Murjito, seorang warga yang tinggal di area tersebut, mengatakan bahwa kondisi ini sudah terjadi selama dua pekan. “Air di selokan sudah habis sejak beberapa minggu belakangan,” ujarnya. Menurut Murjito, sebelumnya saluran masih berair meski debitnya tidak terlalu besar. Namun, karena curah hujan yang menurun drastis, aliran air terus berkurang hingga akhirnya mengering.
“Kalau saya sih paling gak kuat sama baunya itu. Terus jadi banyak nyamuk, sampah juga berceceran kan pada nyangkut,” kata Murjito. Ia menjelaskan bahwa sisa-sisa sampah yang mengendap di saluran berubah menjadi sumber bau yang menyengat, sementara air yang kering memungkinkan nyamuk berkembang biak dengan cepat. Hal ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membawa risiko kesehatan bagi warga karena sering terkena gigitan nyamuk yang menghasilkan rasa gatal.
Kondisi ini membuat sejumlah warga memilih untuk menggunakan air dari sumur bor mereka untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, kekeringan di selokan juga memengaruhi kualitas air sumur. “Air sumur bor kami mulai terasa berubah, lebih keruh dan bau,” lanjut Murjito. Ia menambahkan bahwa sebelum kemarau, air sumur tersebut cukup bersih dan bisa digunakan untuk mandi, mencuci, serta kebutuhan rumah tangga lainnya. Kini, kekeringan membuat air sumur menjadi sumber bau yang tidak nyaman, terutama saat cuaca panas menghangatkan udara.
Langkah Warga untuk Mengatasi Masalah
Menghadapi permasalahan ini, warga setempat mulai berupaya mengatasi dampak kemarau. Beberapa dari mereka memasang jaring anti-nyamuk di sekitar rumah untuk mengurangi gigitan. Ada pula yang membersihkan saluran drainase secara rutin agar tidak terlalu banyak sampah yang menumpuk. Meski demikian, upaya ini terbatas karena warga masih mengharapkan bantuan dari pihak pemerintah.
Kemarau yang melanda daerah ini bukanlah fenomena baru, tetapi intensitasnya tahun ini tergolong ekstrem. Menurut data cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kota Tasikmalaya mengalami penurunan curah hujan hingga 60 persen dibandingkan rata-rata tahunan. Hal ini menyebabkan permukaan air di selokan turun tajam, terutama di musim kemarau yang kini lebih lama daripada biasanya.
“Kami sedang berharap pihak pemerintah segera memberikan solusi untuk mengatasi kekeringan ini,” ujar Murjito. Ia menegaskan bahwa selokan yang kering tidak hanya memengaruhi kualitas udara, tetapi juga mengurangi kenyamanan lingkungan. “Jika tidak segera diperbaiki, situasi ini bisa terus berlanjut hingga musim hujan tiba,” tambahnya.
Kondisi selokan yang kering juga memicu keluhan dari warga sekitar terhadap pemerintah daerah. Mereka menilai bahwa pengelolaan air permukaan perlu ditingkatkan agar tidak terjadi kekeringan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Selain itu, beberapa warga menyebut bahwa terdapat dugaan masalah pada sistem saluran drainase yang kurang efisien, sehingga air tidak bisa dialirkan secara optimal.
Di sisi lain, permasalahan kemarau juga menggerakkan komunitas lokal untuk melakukan langkah-langkah pencegahan. Beberapa warga mengumpulkan dana untuk memperbaiki saluran drainase secara sederhana, sementara yang lain mengadakan gotong royong untuk membersihkan sampah di sekitar selokan. Meski upaya ini belum sepenuhnya mampu mengatasi masalah, langkah-langkah sederhana ini menjadi upaya untuk menjaga lingkungan tetap sehat.
Kemarau yang berkepanjangan tidak hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga berpotensi menyebabkan kekeringan di sejumlah area pertanian di sekitar kampung. Murjito menyebut bahwa ketidaknyamanan ini memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk kegiatan ekonomi warga yang mengandalkan pertanian dan perikanan. “Kami perlu memperhatikan air sumur bor agar tidak tercemar, karena ini sangat penting untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Menurut para ahli, kekeringan di selokan merupakan tanda awal dari ketidakseimbangan sistem hidrologi daerah tersebut. Dengan berkurangnya air hujan, sistem aliran air yang sebelumnya stabil mulai terganggu. Para warga mengharapkan bahwa pemerintah setempat segera melakukan evaluasi terhadap infrastruktur saluran drainase, sehingga bisa mengatasi masalah ini secara efektif. Dengan demikian, kekeringan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan dan kesejahteraan warga.
