News

Special Plan: Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Tempe Jabar Bertahan dengan Keuntungan Menipis

Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Tempe Jabar Bertahan dengan Keuntungan Menipis Kenaikan Harga Kedelai Impor Menekan Pelaku Usaha Tahu dan Tempe Special Plan

Desk News
Published Juni 10, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Tempe Jabar Bertahan dengan Keuntungan Menipis

Kenaikan Harga Kedelai Impor Menekan Pelaku Usaha Tahu dan Tempe

Special Plan – Kemenaikan harga kedelai impor terus memberi tekanan pada para perajin tahu dan tempe di Jawa Barat. Meskipun pasokan bahan baku tetap terjamin dan tidak mengalami kelangkaan, fluktuasi harga yang meningkat secara signifikan membuat margin keuntungan produsen terus menurun. Zamaludin, ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, mengungkapkan bahwa harga kedelai impor telah naik hingga Selasa, 9 Juni 2026. Ini menyebabkan tantangan serius bagi usaha kecil menengah yang bergantung pada bahan baku tersebut.

Kedelai dengan merek Bola, Panda, dan Kanadian menjadi pilihan utama para perajin. Harga kedelai merek Bola mencapai Rp11.200 per kilogram, sedangkan merek Panda dan Kanadian berada di kisaran Rp10.500 dan Rp10.600 per kilogram. Meskipun kualitas kedelai ketiga merek ini hampir serupa, merek Bola lebih diminati karena keterkenalannya di kalangan produsen. Zamaludin menjelaskan bahwa permintaan akan kedelai merek Bola cenderung lebih tinggi, sementara merek lainnya mengalami penurunan sedikit.

“Sebetulnya kedelai tidak pernah kosong, selalu ada. Yang menjadi persoalan adalah harganya yang terus naik. Kualitasnya hampir sama, hanya merek Bola memang lebih terkenal,” ujarnya, Selasa, 9 Juni 2026.

Tindakan dan Harapan Perajin

Para perajin tahu dan tempe di Cibuntu, Kota Bandung, menyatakan bahwa meski biaya produksi meningkat, mereka masih mempertahankan harga jual produk kepada konsumen. Zamaludin mengaku, produksi per hari membutuhkan sekitar 3 hingga 5 kuintal kedelai. Jumlah ini cukup besar, mengingat permintaan pasar lokal tetap stabil meskipun ada tekanan harga.

Tidak hanya harga, ukuran tahu yang dijual juga tidak berubah. Perajin menjamin bahwa produk tetap memenuhi standar kualitas yang dikenal oleh masyarakat. Namun, hal ini membuat keuntungan perajin terus berkurang. “Kami masih mempertahankan harga dan ukuran yang normal. Tidak ada kenaikan harga maupun pengurangan ukuran. Hanya saja keuntungan perajin yang berkurang,” katanya. Meski demikian, keputusan untuk menaikkan harga atau mengurangi ukuran produk belum diambil.

Langkah Protes yang Diancamkan

Zamaludin menambahkan bahwa para perajin mulai mempertimbangkan langkah protes jika harga kedelai terus melonjak. Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat berencana melakukan aksi jika harga kedelai mencapai Rp12.000 per kilogram. “Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk menstabilkan harga, agar usaha kami tidak terus terpuruk,” imbuhnya.

Menurut Zamaludin, sejumlah lembaga pemerintah, baik dari tingkat kota maupun provinsi, telah melakukan kunjungan ke sentra-sentra produksi untuk memahami kondisi para perajin. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada langkah konkret yang mampu mengatasi kenaikan harga tersebut. Para produsen mengharapkan kebijakan yang bisa mengurangi ketergantungan pada kedelai impor, terutama jika harga bahan baku terus melambung.

Analisis Pasar dan Dampak Ekonomi

Kenaikan harga kedelai tidak hanya memengaruhi biaya produksi, tetapi juga mengurangi daya beli konsumen. Pasar lokal mulai berubah, dengan banyak pengusaha kecil yang berupaya mengoptimalkan penggunaan bahan baku yang tersedia. Namun, perajin tetap harus beradaptasi dengan fluktuasi harga, terutama karena tidak ada alternatif bahan yang bisa menggantikan kedelai secara langsung.

Dari segi ekonomi, harga kedelai yang meningkat berdampak pada keterjangkauan produk tahu dan tempe. Kebutuhan akan kedelai yang tinggi membuat para perajin terus-menerus memantau pasokan dan harga. “Kita harus ekstra hati-hati, karena harga kedelai terus mengalami peningkatan. Apabila tidak segera stabil, usaha ini bisa terganggu,” lanjut Zamaludin.

Upaya Mengatasi Kenaikan Harga

Meskipun terbatas, para perajin mencoba berbagai strategi untuk mengurangi dampak kenaikan harga. Sebagian memperluas jaringan pasokan, sementara yang lain mencari cara efisien dalam pengelolaan bahan baku. Zamaludin menekankan bahwa produksi tahu dan tempe tetap menjadi pilihan utama masyarakat, sehingga perajin tetap harus berjuang mempertahankan kualitas produk. “Produk kami tetap diminati, meskipun harus beradaptasi dengan biaya produksi yang naik,” katanya.

Kebijakan pemerintah yang relevan, seperti bantuan subsidi atau insentif produksi, diharapkan bisa memberi dampak positif. Namun, sampai saat ini, para perajin belum melihat adanya kebijakan yang mampu meringankan beban mereka. Zamaludin menilai bahwa kenaikan harga kedelai berdampak pada tingkat penghidupan para produsen, terutama yang berasal dari kalangan pedesaan. “Kenaikan harga kedelai telah memengaruhi sekitar 90 persen pengusaha kecil, karena bahan baku ini menjadi komponen utama produksi,” pungkasnya.

Perajin tahu dan tempe di Jawa Barat kini berada dalam situasi yang menantang. Meskipun mereka berusaha bertahan dengan mengatur biaya dan harga, tekanan terus berlanjut. Dengan harapan bahwa pemerintah segera mengambil langkah nyata, para produsen tetap siap mengambil tindakan jika situasi tidak membaik. Kenaikan harga kedelai bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga krisis yang mengancam keberlanjutan usaha tradisional di wilayah tersebut.

Leave a Comment