Berita Penting: Bom! Houthi Yaman Ikut Perang AS-Israel vs Iran, Akan Rudal Laut Merah
Bom! Houthi Yaman Ikut Perang AS-Israel vs Iran, Akan Rudal Laut Merah
Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran kini semakin memanas, terutama di wilayah Timur Tengah. Pada Jumat (6/3/2026), situasi memanas dengan ancaman baru dari kelompok Houthi di Yaman. AFP melaporkan bahwa Houthi, yang sebelumnya terlibat dalam perang di wilayah sendiri, kini mulai terlibat dalam pertarungan lebih luas.
Pernyataan Pemimpin Houthi
Abdul Malik al-Houthi, pemimpin kelompok tersebut, dalam sebuah pidato yang disiarkan televisi pada hari Kamis, menyatakan kesiapannya untuk melakukan tindakan militer jika situasi memerlukan. “Jari kami berada di pelatuk,” ujarnya, seperti yang dikutip AFP. “Kita siap merespons kapan saja.”
“Solidaritas dengan Republik Islam Iran dan rakyat Iran yang terkasih adalah kewajiban Islam dan moral bagi semua Muslim, dan demi kepentingan dunia Islam, karena Iran saat ini sedang berperang melawan tirani Israel-Amerika yang biadab dan menargetkan seluruh bangsa,”
tegas al-Houthi dalam kesempatan lain. Ia juga menegaskan bahwa Iran kuat, posisinya teguh, dan responsnya tegas, bahkan memulai seluruh pertempuran bangsa Islam melawan tirani Amerika-Israel-Zionis.
Dampak Ekonomi Global
Kelompok Houthi mulai menyerang aktivitas Israel dan negara-negara Barat di Laut Merah, yang menjadi jalur vital untuk menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez. Wilayah ini membawa sekitar 10% hingga 15% dari total perdagangan maritim global, dengan 30% dari kontainer dunia melewati sana. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Houthi tidak hanya fokus pada perang di wilayahnya, tetapi juga mulai memengaruhi jalur ekonomi internasional.
Sebelumnya, serangan AS-Israel ke Iran telah terjadi sejak 28 Februari, memicu balasan dari Teheran terhadap Tel Aviv serta beberapa pangkalan militer Amerika di negara-negara Arab seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA, dan Arab Saudi. Kini, Houthi bergerak lebih aktif, dengan instruksi serangan di Laut Merah sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.
Situasi di Laut Merah kini menimbulkan kekhawatiran serius. Pelayaran terganggu setelah Houthi menyerang kapal-kapal aktivitas Israel dan Barat. Ini memaksa banyak kapal mengambil rute alternatif melalui Tanjung Harapan, sehingga memperpanjang waktu perjalanan hingga dua minggu dan meningkatkan biaya bahan bakar. Pernyataan resmi menyebutkan bahwa lalu lintas kontainer di laut ini turun hingga 67%, sementara kapal pengangkut Gas Alam Cair (LNG) terhenti sejak awal 2024.
Strategi dan Perbandingan Jalur
Menurut laporan Arab News, Houthi memperlihatkan kemampuan mereka dalam menargetkan perairan kritis. Laut Merah memiliki peran strategis yang serupa dengan Selat Hormuz, yang membawa 20% minyak dan 25% gas dunia. Kini, Iran juga memblokir Selat Hormuz, memengaruhi 12% dari total pengangkutan minyak global. Serangan Houthi menambah tekanan pada ekonomi dunia, memicu kenaikan biaya pengiriman dan asuransi.
Dalam pernyataannya, Mohammad Ramazani, utusan Houthi di Iran, menyebutkan bahwa serangan tidak hanya terfokus di Laut Merah, tetapi juga mencakup Bab Al-Mandab. Ia menegaskan bahwa Houthi akan terus bergerak untuk mendukung Iran dalam konflik ini, menunjukkan peran mereka yang semakin penting dalam geopolitik Timur Tengah.
