Program Terbaru: Wall Street & Bursa Eropa Kebakaran Hebat, Dihajar 4 ‘Teror’ Sekaligus
Markets Global Terpuruk, Dihantam Serangkaian Ancaman Ekonomi
Pada hari Jumat (6/3/2026), pasar saham Amerika Serikat dan Eropa mengalami penurunan tajam dalam perdagangan mingguan terakhir. Pergerakan ini dipicu oleh kekacauan di berbagai sektor, termasuk krisis energi, perang geopolitik, serta data ekonomi yang tidak menjanjikan.
Konflik Timur Tengah dan Kenaikan Harga Minyak
Bursa saham dihantam oleh empat tekanan berbarengan. Pertama, situasi ketegangan di Timur Tengah yang terus memanas, kedua lonjakan harga minyak, ketiga data lapangan kerja AS, dan keempat risiko stagflasi. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mencapai level US$90 per barel, melampaui kenaikan 35% dalam seminggu, yang merupakan lonjakan terbesar sejak 1983.
“Kenaikan harga minyak ini bisa berpotensi mencapai US$150 per barel jika konflik terus berlanjut,” kata Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi kepada Financial Times.
Menurut Jed Ellerbroek dari Argent Capital Management, perbedaan antara proyeksi harga tertinggi dan terendah saat ini sangat signifikan. Bahkan jika prediksi tertinggi dikurangi 20%, harga minyak tetap berada di level yang menimbulkan kekhawatiran.
Data Lapangan Kerja AS Memicu Ketakutan
Sementara itu, laporan kerjaan terbaru menambah tekanan. Bureau of Labor Statistics mengungkapkan bahwa jumlah pekerja nonfarm turun 92.000 pada Februari 2026, berlawanan dengan kenaikan 126.000 di Januari. Angka ini juga lebih rendah dari ekspektasi 50.000 yang diajukan ekonom.
Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4% dari 4,3% sebelumnya. Data ini muncul saat bank sentral global masih hati-hati dalam menentukan kebijakan moneter, sementara harga energi melonjak ke level tertinggi beberapa bulan terakhir.
Perang AS-Iran dan Dampaknya
Harga minyak terus naik setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran harus melibatkan “penyerahan tanpa syarat” dari pihak tersebut. Ini memicu reaksi investor terhadap kemungkinan gangguan pasokan energi global.
“Kondisi ini membuat Federal Reserve berada dalam posisi yang sangat berat,” jelas Angelo Kourkafas, ahli strategi global Edward Jones.
Kebutuhan Stagflasi dan Kecemasan Investor
Kenaikan biaya energi meningkatkan risiko inflasi yang beriringan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi, yaitu stagflasi. Jeremy Siegel, mantan profesor Wharton, mengingatkan bahwa kondisi ini bisa mengulangi kekacauan seperti era 1970-an.
Saham-saham yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi seperti Royal Caribbean dan Caterpillar turun signifikan. Royal Caribbean mencatat penurunan 1% pada hari Jumat, sementara Caterpillar merosot lebih dari 3%.
Analisis dari Ahli Pasar
Kristina Hooper, Chief Market Strategist di Man Group, menilai bahwa penurunan pasar saham hari ini diakibatkan oleh dua faktor utama: laporan kerjaan yang lemah dan kenaikan harga minyak.
Tim Holland, Chief Investment Officer Orion, menyatakan angka tersebut sangat mengecewakan, mungkin menunjukkan awal dari penurunan daya beli tenaga kerja. “Wall Street mulai membicarakan risiko stagflasi,” tambahnya.
Kinerja Indeks Saham Minggu Ini
Selama pekan ini, S&P 500 mengalami penurunan sekitar 2%, sedangkan Dow Jones turun hingga 3%. Nasdaq Composite juga melemah sebesar 1,2%. Pasar saham terpuruk akibat ketidakpastian geopolitik yang memperburuk tekanan inflasi.

