Strategi Penting: Bapanas antisipasi fluktuasi harga pangan saat Idul Adha sejak dini
Bapanas Antisipasi Perubahan Harga Pangan Sebelum Idul Adha
Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah mengambil langkah proaktif lebih awal untuk mengendalikan perubahan harga pangan menjelang Idul Adha 1447 H. Langkah ini melibatkan peningkatan pasokan, distribusi, serta pengawasan harga secara berkala di seluruh daerah. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan bahwa persiapan dilakukan jauh sebelumnya agar permintaan saat Idul Adha tidak menyebabkan kenaikan harga signifikan.
“Bulan Mei nanti akan dihadapi Idul Adha. Ini berpotensi meningkatkan permintaan, sehingga kita perlu bergerak lebih dini untuk menjaga stabilitas harga,” jelas Ketut dalam wawancara di Jakarta, Selasa.
Menurut Ketut, upaya antisipatif terutama fokus pada stabilisasi komoditas daging kurban. “Semoga kita dapat mengendalikan harga secara efektif, terutama terkait daging kurban,” imbuhnya. Pihaknya menjelaskan bahwa pengawasan harga dilakukan secara kolaboratif melalui beberapa sektor, salah satunya Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan yang aktif sejak sebelum Ramadan.
Langkah tersebut mendukung penurunan inflasi pangan yang terjadi seiring ketersediaan stok pangan yang lebih stabil. Satgas Saber Pangan melakukan pemantauan di sekitar 74 ribu titik wilayah dari 5 Februari hingga 4 April 2026. Ketut mengapresiasi peran Polri dan pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.
Sebagai strategi utama, pemerintah memperkuat cadangan pangan untuk menghadapi permintaan meningkat pada Idul Adha dan dampak fenomena El Nino. Berdasarkan data hingga 6 April 2026, stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) mencapai 4,4 juta ton beras, 168 ribu ton jagung pakan, 120 ribu kiloliter minyak goreng, 49 ribu ton gula pasir, 8.000 ton daging sapi, 3.000 ton daging kerbau, serta 39 ton dan 17 ton untuk daging ayam serta telur ayam.
Stabilitas Harga Pasca Ramadhan
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), tekanan inflasi selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026 lebih terkendali dibanding tahun sebelumnya. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan bahwa lonjakan harga pada periode tersebut tidak sebesar tahun lalu. “Harga yang diterima masyarakat tahun ini lebih rendah dibandingkan pada bulan puasa dan Lebaran tahun sebelumnya,” kata Amalia.
“Artinya, kenaikan harga tidak terlalu signifikan dibandingkan masa Ramadhan dan Lebaran tahun lalu,” tambah Amalia.
Tren positif ini terus berlanjut setelah Idul Fitri. Data terbaru menunjukkan jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) semakin berkurang. Misalnya, daerah dengan kenaikan IPH untuk daging ayam ras turun dari 237 menjadi 148, telur ayam ras berkurang dari 256 menjadi 145, serta cabai rawit mengalami perubahan dari 200 menjadi 130 daerah. Daging sapi menjadi komoditas yang paling signifikan menunjukkan penurunan kenaikan IPH, dari 186 menjadi 80 daerah.

