Berita

Meeting Results: Hampir Sebulan, 5 Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Masih Dirawat di RS

bulan, 5 Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Masih Dirawat di RS Meeting Results - Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, memberikan keterangan

Desk Berita
Published 24/05/2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Hampir Sebulan, 5 Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Masih Dirawat di RS

Meeting Results – Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, memberikan keterangan kepada wartawan pada hari Minggu (24/5/2026). Menurutnya, kecelakaan yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur masih menyisakan lima korban yang sedang menjalani perawatan di berbagai rumah sakit. Budi menyebutkan bahwa kejadian ini telah berlangsung hampir sebulan, namun kondisi para korban belum membaik. Ia menjelaskan bahwa korban tersebut terpencar di empat tempat perawatan yang berbeda, dengan rincian dua orang berada di RS Primaya Bekasi Timur, satu orang di RSUD Kabupaten Bekasi, satu di RS Primaya Bekasi Barat, dan satu di Eka Hospital Harapan Indah. Selain itu, korban lain yang sebelumnya dirawat telah kembali ke rumah masing-masing, menurut Budi.

“Korban kecelakaan yang terdampak masih ada lima orang yang menjalani perawatan di berbagai rumah sakit. Mereka tersebar di empat lokasi berbeda,” kata Budi Hermanto.

Kecelakaan tersebut terjadi akibat tabrakan antara kereta rel listrik (KRL) dan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek. Menurut Menhub Dudy Purwagandhi, insiden ini berawal dari adanya taksi yang mogok di perlintasan sebidang, menyebabkan kecelakaan yang mengakibatkan kematian puluhan orang dan luka-luka pada ratusan penumpang. Dudy menjelaskan kronologi lengkap kecelakaan tersebut saat rapat kerja bersama Komisi V DPR RI pada hari Kamis (21/5/2026). Ia juga menunjukkan video ilustrasi kejadian yang terjadi pada hari Senin (27/4/2026) lalu.

Kronologi Lengkap Kecelakaan

Kecelakaan terjadi pada pukul 20.34 WIB ketika KRL nomor 5568A tiba di Stasiun Bekasi lebih awal satu menit dari jadwal. Dudy mengatakan, kereta tersebut merupakan bagian dari layanan Commuter Line, yang dalam waktu kurang dari lima menit kemudian dilanjutkan oleh KA Sawunggalih 116B. KA Sawunggalih tiba di stasiun yang sama pada pukul 20.35 WIB, terlambat lima menit dari jadwal, dan langsung diberangkatkan pada pukul 20.37 WIB menuju Stasiun Bekasi Timur.

“KA Sawunggalih berangkat dari Stasiun Bekasi pada pukul 20.37 dan melintasi Stasiun Bekasi Timur pukul 20.39,” ujarnya.

Kurang lebih 14 menit setelahnya, pada pukul 20.48 WIB, taksi berwarna hijau dilaporkan mogok di tengah rel kawasan Bekasi Timur. KRL 5181B relasi Cikarang-Jakarta yang melintas saat itu mengalami tabrakan dengan kendaraan tersebut. Menurut Dudy, taksi mogok tersebut menghalangi jalur KRL, sehingga menyebabkan kerumunan warga sekitar karena banyak orang berhenti untuk menyaksikan kejadian.

“Kereta rel listrik itu terhenti karena warga mengumpul di depan untuk melihat temperan,” imbuh Dudy.

Sebentar setelahnya, pada pukul 20.49 WIB, KRL 5568A yang bergerak dari jalur berlawanan (Jakarta-Cikarang) tiba di Stasiun Bekasi Timur. Kereta tersebut mengalami keterlambatan hingga delapan menit dari jadwal aslinya, karena tertunda di perlintasan. Dudy menjelaskan bahwa KRL itu sudah terlambat sembilan menit ketika mencapai stasiun tersebut.

Pada pukul 20.51 WIB, KA Argo Bromo Anggrek melintas di Stasiun Bekasi, lebih awal tiga menit dari jadwal. Dudy mengungkapkan bahwa kereta tersebut melaju dengan kecepatan 108 kilometer per jam. Tabrakan terjadi sekitar pukul 20.52 WIB, saat KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL 5568A yang sedang berhenti karena adanya kerumunan warga. Insiden ini memicu kerusakan serius di sekitar area perlintasan, dengan korban meninggal mencapai 16 orang dan 90 penumpang lainnya mengalami cedera.

“Tumburan terjadi pada jam 20.52 WIB, dengan dampak yang sangat besar,” kata Dudy Purwagandhi.

Menurut Dudy, kecelakaan ini tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga berdampak pada keselamatan para penumpang. Ia menegaskan bahwa semua korban yang terkena dampak adalah penumpang KRL, sedangkan penumpang KA Argo Bromo Anggrek tidak ada yang terluka. Dudy menambahkan bahwa investigasi terus berlangsung untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut, termasuk peran taksi yang mogok dan pengaturan lalu lintas di sekitar stasiun.

Kejadian ini memperlihatkan betapa pentingnya kehati-hatian dalam pengoperasian transportasi kereta api, terutama di area perlintasan sebidang. Budi Hermanto mengatakan bahwa pihak kepolisian terus memantau kondisi para korban, dengan harapan sembuh total dalam waktu dekat. Ia juga menyebutkan bahwa penanganan medis yang diberikan kepada korban telah terus berlangsung, meski beberapa dari mereka masih membutuhkan perawatan intensif.

“Kami sedang berupaya maksimal untuk menjamin pemulihan kondisi para korban,” kata Budi Hermanto.

Dudy Purwagandhi menjelaskan bahwa kecelakaan ini menjadi pembelajaran bagi pihak penyelenggara transportasi. Ia menekankan perlunya evaluasi terhadap sistem pengawasan di perlintasan sebidang, terutama pada jam sibuk, agar kejadian serupa tidak terulang. Selain itu, Dudy juga mengapresiasi kerja sama antara tim medis dan pihak berwenang dalam menangani korban, termasuk mengelola alur pasien yang terpencar di berbagai rumah sakit.

Dalam wawancara, Dudy mengungkapkan bahwa kecelakaan terjadi secara mendadak, dengan taksi hijau yang mogok tepat di titik berpotensi bahaya. KRL yang melintas di saat itu tidak bisa menghindar karena mengalami hambatan dari kerumunan warga. Menurutnya, kondisi lalu lintas di stasiun dan sekitarnya menjadi faktor penting yang perlu diperbaiki. “Kami sedang melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan,” jelas Dudy.

Kecelakaan tersebut menjadi sorotan publik dan pemerintah, dengan berbagai upaya dilakukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Budi Hermanto menegaskan bahwa pihak kepolisian telah melakukan pengecekan rutin terhadap kondisi perlintasan, termasuk mengamati kecepatan kereta dan kepadatan lalu lintas. Ia menyebutkan bahwa para korban yang masih dirawat diberikan perlakuan yang optimal, meski masa pemulihan memerlukan waktu lama.

“Kami sangat berharap korban yang masih dirawat bisa segera pulih, karena mereka membutuhkan perhatian khusus,” ujar Budi.

Kelima korban yang masih menjalani perawatan di rumah sakit tersebut diberikan layanan kesehatan yang terus menerus, sesuai dengan protokol medis. Dudy Purwagandhi juga menambahkan bahwa korban yang terluka mungkin mengal

Rizki Santoso

Rizki Santoso fokus pada edukasi keamanan donasi dan literasi digital. Ia sering menganalisis berbagai kasus penipuan donasi serta memberikan panduan verifikasi informasi sebelum berdonasi. Melalui pendekatan berbasis riset, Rizki membantu pembaca memahami risiko dalam donasi online serta cara melindungi diri dari praktik penipuan yang semakin berkembang.

Leave a Comment