Penangkapan Tersangka dan Modus Operandi
Kecot Si Perampok Jual Mobil Teman – Kapolsek Cisauk, AKP Dhady Arsya, mengungkap bahwa Kecot, yang dijuluki sebagai pelaku pencurian, bekerja sama dengan teman kencannya, Kapui, untuk menjual mobil yang dibawanya. Ponsel iPhone korban, yang berhasil dirampas, kemudian dibuang oleh pelaku di area Cicayur, Cisauk, Tangerang. Selama kejadian, uang yang diperoleh dari hasil penjualan digunakan untuk membiayai kegiatan yang beragam, termasuk hiburan perempuan.
“Mobil itu dijual oleh Kapui, yang dikenal dengan nama panggilan Pupu, dengan harga Rp25 juta. iPhone 11 korban ditinggalkan di Cicayur, Cisauk, Tangerang oleh Senet, tersangka lain yang masih buron,” jelas AKP Dhady Arsya saat dihubungi, Minggu (24/5/2026).
Dalam penjelasannya, Dhady menyebutkan bahwa uang hasil dari penjualan mobil dan ponsel tersebut dibagi ke antara para pelaku. Kecot memperoleh bagian Rp18 juta, sementara Senet dan Kapui masing-masing mendapat Rp3 juta. Uang itu digunakan untuk berbagai tujuan, seperti bermain judi online dan menghabiskan waktu bersama wanita.
Kecot akhirnya ditangkap pada Kamis (21/5) pukul 05.00 WIB di sebuah kamar hotel di Pagedangan, Tangerang. Dalam pemeriksaan, ia mengakui peran dalam kejahatan yang terjadi. Sementara itu, polisi masih terus berupaya menangkap Senet dan Kapui, yang diduga berada di daerah lain.
Kronologi Peristiwa
Menurut AKP Dhady Arsya, kejadian berawal pada Selasa (19/5) pukul 01.00 WIB. Sehari sebelumnya, korban berinisial MK telah bertemu dengan Kecot di Tangerang berdasarkan janji yang sudah disepakati. Mereka kemudian bergerak menuju sebuah apartemen di Serpong, Tangerang Selatan, untuk melanjutkan pertemuan tersebut.
“Setelah bertemu, mereka keluar dari apartemen sekitar pukul 11.30 WIB. Saat itu, Kecot belum memberikan uang kepada korban, karena menurut perjanjian, korban harus membayar Rp2 juta untuk empat kali berhubungan badan,” tambah AKP Dhady Arsya.
Kecot memperkenalkan korban kepada rekan kencannya, Senet, yang kemudian duduk di kursi belakang mobil. Saat perjalanan, pelaku langsung mengambil ponsel korban yang sedang digunakan. Ia memberikan ancaman bahwa jika korban tidak menuruti permintaannya, mobil akan diambil dan dijual untuk memperoleh uang.
“Kecot menyampaikan, ‘Lu diem jangan banyak omong, kalau lu kaga mau celaka, ini mobil mau gua ambil gua mau jual,’ lalu iPhone langsung dipegang oleh Senet,” kata AKP Dhady Arsya. Setelah itu, korban dibawa berkeliling sebelum akhirnya dianiaya dengan celurit. Pelaku menodongkan senjata ke leher dan perut korban, lalu mengikat tangan korban dan meninggalkannya di tepi jalan sepi Cisauk, Kabupaten Tangerang.
Detil Peristiwa dan Motif Pelaku
Sebelum kejadian utama, Kecot dan korban telah berencana untuk berselingkuh. Kecot menjanjikan uang kepada korban sebagai imbalan untuk empat kali hubungan badan. Namun, setelah korban memenuhi syarat tersebut, uang yang dijanjikan tidak diberikan seperti yang disepakati.
Kecot dan Senet mempermainkan korban dengan memanfaatkan kepercayaannya. Mereka mengajak korban ke sebuah restoran setelah kejadian hubungan badan. Setelah makan, keduanya mengarah ke Cisauk untuk menjemput Kapui, yang kemudian bergabung dalam perjalanan tersebut. Di sana, pelaku menyalahgunakan kekuasaan mereka, dengan mempercepat proses penjualan mobil.
“Tersangka Kecot mengambil ponsel korban selama perjalanan, sementara mobil dibiarkan berpindah tangan ke Kapui. Niat mereka adalah mengumpulkan dana sebelum melakukan tindakan lebih lanjut,” jelas Dhady.
Modus operandi ini menunjukkan bahwa para pelaku mengatur perencanaan dengan matang. Mereka memanfaatkan hubungan personal korban untuk memperoleh akses ke barang-barang berharga. Mobil dan ponsel korban menjadi sasaran utama karena nilai ekonominya tinggi.
Kecot, yang berusia 33 tahun, tercatat sebagai pelaku utama dalam kasus ini. Ia mengaku bahwa uang dari hasil penjualan digunakan untuk berbagai kebutuhan pribadi. Selain itu, kegiatan berjudi online juga menjadi bagian dari penggunaan dana tersebut. Korban, yang tidak menyadari rencana jahat pelaku, terjebak dalam situasi yang tidak ia harapkan.
Upaya Penyelidikan dan Perkembangan Kasus
Polisi sedang mengumpulkan bukti-bukti lebih lanjut untuk mengungkap seluruh jaringan kejahatan. Menurut AKP Dhady Arsya, Kecot dan Senet memiliki strategi yang terencana. Mereka memanipulasi korban dengan memberikan janji keuntungan, lalu menyembunyikan niat sebenarnya.
Dalam penangkapan Kecot, petugas menemukan barang bukti seperti ponsel dan mobil yang telah dirampas. Namun, beberapa barang masih hilang, termasuk iPhone yang ditinggalkan di Cicayur. Penyidik juga sedang mengecek lokasi terakhir keberadaan Senet dan Kapui untuk mempercepat proses penangkapan.
“Kecot mengatakan bahwa uang dari penjualan mobil digunakan untuk kegiatan pribadi, seperti berjudi dan membeli kebutuhan sehari-hari. Namun, sebagian besar dana dialihkan kepada Senet dan Kapui sebagai bagian dari keuntungan bersama,” terang AKP Dhady Arsya.
Kasus ini menunjukkan bagaimana pencurian bisa terjadi melalui hubungan yang terlihat harmonis. Korban tidak memperkirakan bahwa teman kencannya akan menyalahgunakan kepercayaan. Penyelidikan terus berjalan, dengan polisi berharap dapat menemukan semua pelaku sebelum terjadi peristiwa serupa di masa depan.
Sejumlah warga setempat menyatakan bahwa Kecot dan teman-temannya sering melakukan aktivitas serupa. Mereka memanfaatkan situasi kepercayaan untuk merampok barang-barang berharga. Dengan adanya penangkapan Kecot, harapan masyarakat meningkat untuk menangkap pelaku lainnya yang masih berlarian.
Peran dan Penjelasan Tersangka
Dalam wawancara, Kecot mengakui bahwa ia telah merencanakan kejahatan dengan teman kencannya. Ia menyebutkan bahwa uang hasil penjualan mobil digunakan untuk membiayai kegiatan judi online dan hiburan perempuan. Motif utama kejahatan ini, menur
