Jakarta Menjadi Kota dengan Kualitas Udara Terburuk di Asia, Dilaporkan DLH
Kualitas Udara Jakarta Terburuk Kedua di Asia – Pada Rabu, 17 Juni 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengungkapkan penyebab utama penurunan kualitas udara yang terjadi di kota tersebut. Kondisi ini menyebabkan Jakarta masuk dalam kategori wilayah dengan udara tidak sehat, dengan posisi kedua terburuk di Asia. Pengumuman ini dikeluarkan sebagai bagian dari laporan rutin DLH, yang mencakup data penilaian kualitas udara berdasarkan indeks tahunan dan kondisi musim kering.
Faktor yang Berkontribusi pada Penurunan Kualitas Udara
Dudi Gardesi, kepala DLH DKI Jakarta, menjelaskan bahwa kualitas udara Jakarta memburuk secara bertahap sejak pascapandemi. Peningkatan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat menjadi faktor utama yang memperparah kondisi, terutama setelah kegiatan usaha kembali normal setelah pembatasan yang diterapkan selama pandemi. Selain itu, fenomena El Nino Godzilla yang sedang berlangsung juga memainkan peran kritis, karena menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan lebih kering.
“Pada tahun ini, kondisi tersebut diperkuat oleh fenomena El Nino Godzilla yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan lebih kering, sehingga memperbesar potensi terjadinya penurunan kualitas udara,” kata Dudi kepada wartawan.
El Nino, yang merupakan peristiwa iklim global, memengaruhi pola cuaca di banyak negara. Di Indonesia, dampaknya terasa lebih kuat karena kawasan Indonesia terletak di daerah yang rentan terhadap fluktuasi iklim. Fenomena ini mengurangi curah hujan dan memperpanjang durasi musim kering, yang memicu peningkatan kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran ini menjadi sumber polusi udara yang signifikan, terutama di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah, yang kemudian berdampak ke Jakarta melalui angin timur.
Menurut Dudi, aktivitas industri, transportasi, dan konsumsi energi juga berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi partikel halus (PM2.5) dan gas beracun seperti karbon monoksida (CO) serta nitrogen dioksida (NO2). Peningkatan jumlah kendaraan bermotor di jalan raya, khususnya mobil dan motor, menjadi salah satu penyumbang utama emisi polutan. Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil yang tidak efisien dan pembangunan infrastruktur yang berlangsung intensif selama beberapa tahun terakhir juga memperparah masalah ini.
Perbandingan dengan Kota Lain di Asia
Dalam laporan tersebut, DLH DKI Jakarta menyebutkan bahwa kondisi kualitas udara di kota ini tidak bisa dibandingkan langsung dengan kota-kota besar di Asia lainnya. Namun, berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta berada di urutan kedua sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Asia, setelah kota seperti Bangalore di India atau Chengdu di Tiongkok. Kota-kota tersebut terutama mengalami penurunan kualitas udara akibat kombinasi kebakaran hutan, aktivitas industri, dan kepadatan populasi.
Menurut penelitian yang dilakukan BMKG, El Nino Godzilla tidak hanya memengaruhi Indonesia, tetapi juga menyebabkan peningkatan kekeringan di sejumlah wilayah Asia Tenggara. Hal ini berdampak pada peningkatan kebakaran hutan yang menyebabkan asap membanjiri kota-kota besar di sekitar wilayah pesisir. Dudi mengungkapkan bahwa efek El Nino di Jakarta terasa lebih jelas sejak akhir 2025, dengan beberapa bulan kemarau yang berkepanjangan.
Impak pada Kesehatan Masyarakat
Kualitas udara yang memburuk tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat. Menurut data DLH, tingkat polusi udara di Jakarta mencapai angka yang mengkhawatikan, dengan PM2.5 mencapai lebih dari 150 µg/m³ dalam beberapa hari terakhir. Angka ini jauh melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menyebutkan bahwa konsentrasi PM2.5 di bawah 50 µg/m³ dianggap aman untuk kesehatan.
Pasien yang mengalami gejala seperti sesak napas, batuk, dan gangguan saluran pernapasan menunjukkan peningkatan drastis sejak akhir tahun lalu. DLH DKI Jakarta juga mencatat bahwa kejadian ini memicu peningkatan jumlah pasien rawat inap di rumah sakit karena asma dan bronkitis. Dudi menyatakan bahwa pemerintah sedang berupaya keras untuk mengurangi dampak polusi udara dengan meningkatkan pengawasan emisi, mendorong penggunaan bahan bakar bersih, dan memperkuat kerja sama dengan daerah lain yang terkena dampak serupa.
Menurut Dudi, DLH telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, seperti memperketat aturan penggunaan alat pengendali polusi di pabrik, serta mendorong penggunaan transportasi umum untuk mengurangi emisi kendaraan pribadi. Namun, ia mengakui bahwa tantangan terbesar masih berasal dari kekeringan yang berkepanjangan dan kegiatan manusia yang berkelanjutan. “Kami sedang mengevaluasi efektivitas kebijakan yang sudah diambil dan berencana meluncurkan program baru untuk mengatasi masalah ini,” tambahnya.
Dalam konteks global, kondisi kualitas udara Jakarta mencerminkan masalah lingkungan yang semakin kompleks di era perubahan iklim. BMKG mengingatkan bahwa fenomena El Nino Godzilla diperkirakan akan berlangsung hingga akhir 2026, sehingga risiko penurunan kualitas udara tetap menjadi perhatian utama. DLH DKI Jakarta berharap bahwa langkah-langkah yang diambil dapat memberikan dampak positif dan mengurangi risiko kesehatan masyarakat. “Kami meminta dukungan dari seluruh masyarakat agar upaya peningkatan kualitas udara dapat berjalan lebih efektif,” pungkas Dudi.
Di sisi lain, masyarakat Jakarta juga diminta untuk memperhatikan kondisi cuaca dan membatasi aktivitas luar ru
