Yang Dibahas: Densus 88 Perketat Pengawasan Ancaman Terorisme Buntut Memanasnya Timur Tengah
Densus 88 Intensifkan Pengawasan Terhadap Ancaman Terorisme Akibat Ketegangan di Timur Tengah
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan perintah kepada Densus 88 Antiteror Polri untuk meningkatkan kewaspadaan menjelang libur Idul Fitri 1447 H, terutama dalam kondisi situasi global yang kini semakin dinamis. Selama tiga tahun terakhir, pihak kepolisian berhasil mempertahankan rekor tanpa adanya serangan teror, yang dianggap sebagai pencapaian penting. Menurut Mayndra, juru bicara Densus 88, timnya telah bersiap untuk menambah intensitas pengawasan terhadap kelompok-kelompok yang mengancam stabilitas masyarakat.
“Sesuai arahan Kapolri, kita harus memperkuat pengawasan karena situasi global kini semakin memanas. Hal ini melibatkan berbagai negara dan kelompok yang memiliki kepentingan berbeda,” ungkap Mayndra kepada media, Selasa (3/3/2026).
Mayndra menambahkan bahwa peningkatan kewaspadaan ini bertujuan untuk mencegah gangguan teror yang bisa terjadi. “Densus 88 terus memantau potensi ancaman yang mungkin mengancam keamanan publik,” pungkasnya.
Keberhasilan Mencegah Serangan Teror Selama Tiga Tahun Terakhir
Dalam rapat koordinasi lintas sektor yang diadakan di Auditorium Mutiara, STIK-PTIK Lemdiklat Polri, Senin (2/3), Kapolri Sigit menekankan bahwa pencapaian zero terrorist attack dari 2023 hingga 2025 patut dipertahankan. Ia menyebutkan bahwa selama periode tersebut, polisi telah menangani 51 tersangka teroris, termasuk mengamankan tujuh individu yang berencana melakukan aksi teror saat mudik tahun lalu.
Situasi geopolitik yang kritis saat ini dianggap sebagai faktor krusial dalam memperkuat pengawasan. “Konflik global saat ini berpotensi memicu aktivitas teroris,” kata Sigit. Ia juga menyoroti bahwa ketegangan di Timur Tengah menjadi perhatian utama, karena dapat membangkitkan semangat kelompok-kelompok penindasan di dalam negeri.
Koordinasi Lintas Instansi untuk Memastikan Kebutuhan Keamanan Lebaran 2026
Kapolri meminta kerja sama yang lebih erat antara Densus 88 dengan intelijen, TNI, dan pemerintah daerah. “Kita perlu memantau ulang dan mengawasi secara ketat kelompok teroris serta aktor-aktor yang terlibat dalam ancaman keamanan,” lanjut Sigit. Ia juga menambahkan bahwa seluruh lembaga harus berupaya maksimal untuk menjaga ketenteraman selama momentum libur Lebaran 2026.
Sebelumnya, Densus 88 telah menangkap dua penjual bahan peledak di Surabaya, dengan barang bukti satu kilogram bubuk mesiu disita. Peristiwa ini mencerminkan upaya polisi dalam mencegah aksi teror sebelum terjadi.
Timur Tengah sebagai Faktor Pemicu Potensi Terorisme
Sigit menyoroti bahwa kondisi di Timur Tengah bisa memengaruhi keamanan nasional. “Pembalasan yang dilakukan Iran melalui bendera merah menunjukkan adanya tanda-tanda peningkatan ancaman,” imbuhnya. Hal ini dianggap sebagai tantangan besar bagi Densus 88 untuk mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai sejauh ini.
Dengan tema “Mudik Aman, Keluarga Bahagia,” Kapolri bersama menteri dan kepala lembaga melakukan sinkronisasi langkah pengamanan. Ia menegaskan bahwa langkah-langkah ini sangat penting untuk memastikan masyarakat dapat merayakan Idul Fitri tanpa gangguan dari ancaman terorisme.

