Kebijakan Baru: Wamendagri apresiasi stabilitas pertumbuhan ekonomi di Kepri
Wamendagri Nyatakan Kemantapan Pertumbuhan Ekonomi Kepri Tahun 2025
Dalam pidato sambutan yang disampaikan secara daring dari Jakarta, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya memuji stabilitas pertumbuhan ekonomi di Kepri tahun lalu. Menurutnya, pertumbuhan tersebut mencapai angka 7,89 persen di triwulan IV, yang menjadi urutan keempat tertinggi se-Indonesia.
“Angka ini menunjukkan bahwa Kepri berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Semoga prestasi ini terus dipertahankan dan ditingkatkan di masa depan,” ujar Bima.
Pertumbuhan Daerah Tertinggi Disumbangkan Anambas
Bima juga menyoroti bahwa Kabupaten Anambas menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tercepat tahun lalu, dengan realisasi sebesar 17,36 persen. Namun, ia menekankan bahwa distribusi pertumbuhan ekonomi di Kepri belum merata.
Contohnya, Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Lingga masih mengalami pertumbuhan yang tergolong rendah, masing-masing 3,31 persen dan 3,53 persen di 2025.
Inflasi dan Pengangguran Terbuka di Kepri Berjalan Stabil
Bima menyebutkan bahwa inflasi 2025 di Kepri berhasil dipertahankan dengan angka 3,54 persen. Selain itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) terus menunjukkan penurunan signifikan sejak 2020.
Menurutnya, indeks pembangunan manusia (IPM) Kepri 2025 mencapai 80,53, menempati posisi ketiga tertinggi setelah Jakarta dan Yogyakarta.
Kondisi Fiskal dan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kepri dikenal sebagai provinsi yang memiliki kondisi fiskal kuat, karena pendapatan asli daerah (PAD) mencapai 54 persen, lebih tinggi dari dana transfer pusat yang sebesar 45 persen. Realisasi pendapatan Kepri 2025 menempati urutan ke-10 secara nasional, sebesar 16,97 persen.
Di sisi lain, Bima menyoroti bahwa realisasi belanja daerah Kepri masih tergolong rendah, sehingga harus menjadi fokus pemerintah daerah.
Tantangan Global dan Target Pertumbuhan Nasional
Dalam pidato tersebut, Bima juga mengingatkan bahwa Kepri tetap harus waspada terhadap tantangan kondisi geopolitik global. Salah satu dampaknya adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan bahan pangan di dalam negeri.
“Pemerintah pusat menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7-8 persen hingga 2029,” demikian Wamendagri.

