Angkutan Barang Sumbang Hampir Sepertiga Emisi – padahal Jumlahnya Tak Sampai 4 Persen Populasi
Pengungkapan Kemenhub: Angkutan Barang Sumbang Hampir Sepertiga Emisi
Angkutan Barang Sumbang Hampir Sepertiga Emisi - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) baru saja mengungkap fakta mengejutkan mengenai kontribusi emisi dari sektor transportasi darat di Indonesia. Meskipun jumlah angkutan barang, atau truk, hanya menyumbang sekitar 4 persen dari total populasi kendaraan di negara ini, modus transportasi ini justru memberikan kontribusi hampir 31 persen terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) secara nasional. Dalam laporan inventarisasi emisi terbaru tahun 2024, angkutan barang diketahui menjadi penyumbang utama polusi, dengan total emisi mencapai 137.455.211 ton GRK, atau setara dengan 87 persen dari seluruh emisi transportasi darat.
Perbandingan Jumlah dan Kontribusi Emisi
Banyak yang terkejut melihat angkutan barang menjadi penjaga emisi terbesar meskipun jumlahnya tidak seberapa. Dalam konteks jumlah populasi kendaraan, truk hanya menempati sekitar 4 persen dari total kendaraan di Indonesia. Namun, kontribusi emisinya mencapai hampir sepertiga, menunjukkan bahwa efisiensi emisi per unit kendaraan pada modus ini jauh lebih tinggi dibandingkan jenis transportasi lain. Hal ini berdampak signifikan pada upaya pengurangan emisi global, terutama dalam rangka mencapai target Net Zero Emission.
Faktor Penyebab Dominasi Emisi dari Angkutan Barang
Menurut Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB) Kemenhub, Reza Hertantyo, dominasi emisi dari angkutan barang disebabkan oleh tingginya mobilitas logistik dan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Meski truk jumlahnya lebih sedikit dibandingkan mobil pribadi atau sepeda motor, mereka memiliki daya bawa yang jauh lebih besar dalam menghasilkan emisi. "Angkutan barang masih beroperasi dengan mesin yang tidak terlalu efisien dan konsumsi bahan bakar yang tinggi," jelas Reza dalam sebuah wawancara. Selain itu, pertumbuhan industri dan kebutuhan transportasi bahan bakar yang terus meningkat juga memperburuk situasi.
"Kita perlu mengevaluasi penggunaan bahan bakar fosil dan mendorong adopsi teknologi lebih hijau untuk angkutan barang," tambah Reza. Ini menjadi tantangan utama dalam upaya mewujudkan transportasi darat yang lebih ramah lingkungan.
Upaya Pemerintah untuk Mengurangi Emisi Angkutan Barang
Kemenhub telah merumuskan beberapa strategi untuk mengurangi emisi dari angkutan barang. Salah satu langkah utama adalah mendorong penggunaan bahan bakar alternatif, seperti biodiesel atau elektrifikasi, serta penerapan standar emisi yang lebih ketat. Program pengurangan emisi ini juga melibatkan kolaborasi dengan pengusaha logistik, agar mereka bisa mengadopsi kendaraan ramah lingkungan. "Kami sedang mengembangkan kebijakan yang lebih komprehensif untuk mengintegrasikan keberlanjutan dalam industri transportasi," kata Reza.
Konteks Global dan Tantangan Lokal
Di tingkat global, angkutan barang sering kali dianggap sebagai bagian dari solusi distribusi barang, tetapi di Indonesia, kontribusinya terhadap emisi sangat dominan. Faktor seperti jaringan jalan yang belum optimal dan ketergantungan pada jalan darat sebagai utama untuk distribusi logistik, memperparah masalah ini. Namun, pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kebutuhan transportasi yang meningkat membawa tantangan tambahan bagi pemerintah dalam mengurangi emisi secara signifikan.
Menurut laporan internasional, angkutan barang bisa menyumbang hingga 40 persen emisi global dari sektor transportasi. Di Indonesia, angka tersebut sekitar 31 persen, yang tetap menempati posisi dominan. Para ahli lingkungan menyoroti bahwa keberhasilan mengurangi emisi dari angkutan barang sangat krusial untuk mencapai target pengurangan emisi sebesar 50 persen pada 2030, sesuai dengan komitmen pemerintah.
Peran Teknologi dan Infrastruktur dalam Penurunan Emisi
Reza Hertantyo menekankan bahwa perbaikan teknologi dan infrastruktur adalah kunci untuk mengurangi emisi angkutan barang. "Adopsi teknologi ramah lingkungan, seperti kendaraan listrik, dan pengembangan infrastruktur jalan bebas hambatan bisa mengurangi kepadatan lalu lintas dan emisi," imbuhnya. Selain itu, penerapan sistem pengurangan emisi berbasis kebijakan daerah, seperti perpajakan untuk kendaraan berbahan bakar fosil, diharapkan bisa memberikan dampak positif.
Dengan data yang terus berkembang, angkutan barang tetap menjadi fokus utama dalam upaya pengurangan emisi. Kemenhub bersama pihak terkait terus berupaya mengoptimalkan pola transportasi dan mendorong pergeseran ke moda transportasi yang lebih hijau. Dalam jangka panjang, ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk memerangi perubahan iklim dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.