Diumumkan: Petinggi Intelijen AS Mundur, Tolak Perang Iran dan Kecam Israel

Petinggi Intelijen AS Mundur, Tolak Perang Iran dan Kecam Israel

Jakarta, CNBC Indonesia – Perang AS-Israel terhadap Iran telah berlangsung selama tiga minggu. Tiba-tiba, seorang pejabat keamanan utama dalam pemerintahan Donald Trump mengundurkan diri, memicu perdebatan. Joe Kent, Kepala Pusat Kontraterorisme Nasional, menjadi pejabat senior pertama yang memutuskan pensiun karena menentang kebijakan militer yang dijalankan oleh pemerintahan Trump terhadap Iran.

Di surat yang diunggah ke media sosial, Kent secara terbuka menyebut Israel sebagai penyebab ketegangan di Timur Tengah. Ia menegaskan, “Dengan hati nurani yang bersih, saya tidak bisa mendukung konflik di Iran. Iran tidak membahayakan negara kita secara langsung, dan perang ini dimulai karena tekanan Israel serta pengaruh lobi yang kuat.”

“Presiden Trump memiliki bukti yang meyakinkan bahwa Iran akan menyerang AS terlebih dahulu,” kata Karoline Leavitt, juru bicara Gedung Putih, menanggapi surat Kent. “Bukti ini dikumpulkan dari berbagai sumber dan faktor,” tambahnya.

Kent tidak memberi respons terhadap permintaan wawancara, sementara Kantor Direktur Intelijen Nasional juga belum memberi pernyataan resmi. Sebelumnya, Kent kerap menentang intervensi militer AS di luar negeri, tetapi pengunduran dirinya dianggap mengejutkan oleh pejabat dalam pemerintahan.

Kent memiliki hubungan dekat dengan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard. Gabbard belum merilis pernyataan publik sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai. Ia hanya muncul di depan umum saat upacara pemakaman tentara AS yang gugur dalam operasi tersebut.

Dewan Intelijen Nasional, yang dipimpin oleh Gabbard, telah merilis beberapa laporan, baik sebelum maupun sesudah serangan dimulai. Laporan tersebut menyatakan bahwa pemerintahan Iran kemungkinan besar tidak akan jatuh, dan negara itu akan membalas serangan terhadap posisi AS serta sekutu di Timur Tengah, seperti yang dilaporkan Reuters.

Next Article: Trump Ancam Invasi Negara Ini, Pesawat Pengintai AS Mulai Beraksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *