DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Foto Anak Dicatut untuk Propaganda ‘Parenting’ Gay – Polda Jabar Persilakan Korban Melapor

Published Juni 28, 2026 · Updated Juni 28, 2026 · By Joko Setiawan

Foto Anak Dicatut untuk Propaganda 'Parenting' Gay, Polda Jabar Persilakan Korban Melapor

Foto Anak Dicatut untuk Propaganda Parenting - Kontroversi terkait penggunaan gambar keluarga yang dimanipulasi untuk tujuan propaganda kembali mencoreng jagat media sosial. Akun Threads@rio_damar, yang belakangan menjadi pusat perhatian, diduga mengedit foto seorang keluarga secara tidak sah guna mempromosikan konsep pengasuhan anak oleh pasangan sejenis. Perbuatan tersebut memicu reaksi yang cukup kuat dari masyarakat, yang menganggap tindakan ini sebagai upaya menyesatkan publik.

Dalam unggahan yang beredar, akun tersebut membagikan gambar dua pria dewasa yang berpose bersama dua anak laki-laki. Namun, setelah diinvestigasi, terungkap bahwa foto tersebut bukan hasil kenyataan. Polda Jabar mengungkap bahwa objek asli dari gambar, yaitu ibu kandung anak-anak tersebut, sengaja dihapus dan digantikan dengan sosok pria lain. Proses perubahan ini menunjukkan adanya rekayasa digital yang jelas.

“Tindakan yang merugikan orang lain ini memicu kemarahan publik,” kata sumber dari Polda Jabar, yang menambahkan bahwa para korban diizinkan untuk mengajukan laporan jika merasa dirugikan.

Bukan hanya mengedit gambar, akun @rio_damar juga menambahkan narasi yang disengaja memperumit isu. Narasi tersebut mengaitkan keluarga heteroseksual dengan keterbatasan dalam mengasuh anak, sementara pasangan sejenis disuguhkan sebagai contoh ideal. Hal ini menimbulkan perdebatan sengit, terutama di kalangan yang peduli pada kebenaran informasi di platform digital.

Polda Jabar memberikan pernyataan bahwa mereka tidak menutup kemungkinan laporan dari masyarakat terkait penggunaan foto yang diubah tersebut. “Kami persilakan siapa pun yang merasa dirugikan untuk melaporkan kejadian ini,” ungkap Polda Jabar dalam pernyataannya. Hal ini menunjukkan upaya pihak kepolisian untuk mengawasi aktivitas digital yang bisa menyebar hoaks atau memanipulasi persepsi.

Manipulasi foto ini menimbulkan pertanyaan tentang akurasi informasi yang dibagikan di media sosial. Dengan penggunaan teknologi seperti Photoshop atau aplikasi editing lainnya, seseorang bisa dengan mudah mengubah gambar untuk menyesatkan audiens. Karena itu, masyarakat diminta lebih waspada saat menerima berita atau konten visual yang dibagikan secara viral.

Keluarga yang menjadi korban mengungkapkan bahwa mereka tidak mengetahui ada rencana untuk memanipulasi foto mereka sebelumnya. “Kami hanya berpose untuk keperluan kegiatan keluarga biasa, tidak ada maksud untuk propaganda,” kata salah satu anggota keluarga, yang meminta anonim agar tidak dihakimi. Persoalan ini juga memicu diskusi tentang hak orang tua untuk memperlihatkan kehidupan keluarga mereka tanpa diubah oleh pihak tertentu.

Polda Jabar mengungkapkan bahwa mereka sedang menelusuri akun Threads@rio_damar untuk memastikan adanya pelanggaran aturan. Jika terbukti melakukan tindakan penipuan atau menyebarkan informasi palsu, akun tersebut bisa dikenai sanksi sesuai hukum. “Kami mendorong masyarakat untuk memverifikasi sumber informasi sebelum membagikannya,” tambah Polda Jabar dalam pernyataan resmi.

Peristiwa ini juga menyoroti peran media sosial dalam menyebarkan pandangan atau ideologi tertentu. Dengan kemudahan akses dan penerbitan konten yang cepat, akun seperti @rio_damar bisa memengaruhi opini publik secara signifikan. Namun, kecepatan tersebut juga membawa risiko adanya informasi yang tidak akurat atau bahkan difitnah.

Kontroversi ini memicu beberapa organisasi masyarakat untuk berpendapat. Beberapa pihak menilai bahwa penggunaan foto yang dimanipulasi adalah bentuk penghinaan terhadap keluarga heteroseksual, sementara pihak lain memandang bahwa ini adalah bentuk kebebasan berekspresi. “Ini bukan hanya soal propaganda, tapi juga tentang bagaimana kita memahami hak orang tua dan keharmonisan keluarga,” kata seorang aktivis di media sosial.

Dalam konteks ini, Polda Jabar menjadi contoh institusi yang berupaya memperbaiki situasi. Dengan memungkinkan korban mengajukan laporan, mereka menunjukkan komitmen untuk mengatasi masalah hoaks. Namun, tantangan masih besar karena banyak orang lebih memilih membagikan konten tanpa memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu.

Manipulasi foto ini juga menjadi peringatan bagi masyarakat digital untuk lebih kritis dalam menilai konten yang dibagikan. Dengan adanya teknologi yang memudahkan pengeditan, foto bisa diubah secara lengkap dalam beberapa menit. Oleh karena itu, penting bagi pengguna media sosial untuk mengecek asal-usul gambar sebelum membagikannya ke publik.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa isu parenting gay tidak hanya terkait pendidikan anak, tetapi juga terkait dengan bagaimana gambaran keluarga dibentuk melalui media. Dengan penggunaan foto yang dimanipulasi, pasangan sejenis bisa disuguhi sebagai representasi ideal, sementara keluarga lain bisa dikritik atau dianggap tidak lengkap.

Sebagai respons, Polda Jabar mengimbau masyarakat untuk melibatkan diri dalam memantau dan melaporkan konten yang tidak benar. “Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi yang diberikan akurat dan tidak menyesatkan,” kata perwakilan dari Polda Jabar dalam wawancara dengan media. Hal ini menegaskan bahwa kepolisian tidak hanya mengawasi kejahatan, tetapi juga kegiatan yang bisa mengganggu kenyamanan sosial.

Dengan adanya kejadian ini, masyarakat kini lebih peka terhadap risiko hoaks yang bisa menyebar melalui media sosial. Banyak orang mulai menyadari bahwa foto-foto yang diunggah secara viral bisa mengandung kebenaran, bisa juga berupa penyimpangan. Perlu adanya edukasi lebih lanjut agar pengguna media sosial bisa membedakan antara konten asli dan yang dimanipulasi.