Important News: FK3I Minta Pengelola Baru Bandung Zoo Utamakan Konservasi Satwa dan Kesejahteraan Warga
FK3I Minta Pengelola Baru Bandung Zoo Prioritaskan Konservasi dan Kesejahteraan Warga
Important News - Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) menegaskan bahwa pengelola baru Kebun Binatang Bandung, yang kini dipegang oleh PT Fauna Land Ancol, diharapkan fokus pada tiga aspek utama: konservasi satwa, kesejahteraan hewan, serta kepentingan masyarakat sekitar. Permintaan ini muncul dalam rangka mengubah cara pengelolaan kawasan yang selama puluhan tahun menjadi pusat edukasi dan wisata di Kota Bandung. FK3I menilai perubahan manajemen adalah kesempatan emas untuk mengoptimalkan fungsi kawasan tersebut, termasuk memperkuat upaya perlindungan satwa, meningkatkan kualitas lingkungan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi warga yang bergantung pada aktivitas di sekitar tempat tersebut.
Perubahan Manajemen Sebagai Momentum Perbaikan
Pergantian pengelola Bandung Zoo, yang sebelumnya dijalankan oleh lembaga lain, menjadi perhatian utama FK3I. Lembaga ini menginginkan agar PT Fauna Land Ancol tidak hanya fokus pada pengembangan fasilitas wisata, tetapi juga memastikan bahwa konservasi menjadi prioritas. Dedi Kurniawan, Koordinator Pusat FK3I dan Ketua Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi Jabar), menegaskan bahwa manajemen baru harus menjunjung tinggi kelestarian alam. "Pengelola yang baru ditunjuk wajib menjaga keseimbangan antara konservasi dan kebutuhan masyarakat," ujarnya dalam wawancara yang diadakan pada hari Minggu, 14 Juni 2026.
"Siapa pun yang mengelola Bandung Zoo harus menjamin keberlanjutan hidup satwa, baik melalui lingkungan yang layak maupun program konservasi yang berkelanjutan. Selain itu, pihak pengelola wajib melanjutkan komitmen pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar, dengan proses rekrutmen yang transparan dan pelatihan yang berkelanjutan," kata Dedi Kurniawan.
Dedi menjelaskan bahwa keberadaan Kebun Binatang Bandung bukan hanya tentang penyimpanan satwa, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial terhadap masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Ia menyoroti bahwa keberhasilan pengelolaan baru harus diukur dari kemampuannya dalam menjaga kesejahteraan warga, termasuk pedagang kaki lima, pengusaha mikro, serta komunitas lokal lainnya. "Pengelola harus mengintegrasikan nilai ekonomi dengan kelestarian lingkungan, agar pengunjung tidak hanya memperoleh pengalaman wisata, tetapi juga mendukung perekonomian warga sekitar," tambahnya.
Manfaat Ekonomi dan Pendidikan Sebagai Fokus Utama
Kebun Binatang Bandung, yang sebelumnya dikenal sebagai tempat edukasi dan rekreasi, harus tetap menjaga identitasnya sebagai pusat pembelajaran. FK3I meminta PT Fauna Land Ancol untuk memastikan bahwa keberadaan kawasan ini tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan bagi generasi muda. Dedi menekankan bahwa sistem pengelolaan yang baru harus berfokus pada pemberdayaan ekonomi, sekaligus mempertahankan fungsi konservasi sebagai basis utama.
"Pengelola baru wajib menciptakan sistem yang memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi warga sekitar, tanpa mengorbankan kualitas konservasi dan pendidikan. Hal ini penting karena kawasan tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak lama," tutur Dedi.
FK3I juga mengingatkan bahwa perubahan manajemen tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan komitmen lingkungan. Lebih lanjut, lembaga ini berharap bahwa PT Fauna Land Ancol mampu menjaga keberlanjutan alam di sekitar kawasan, seperti memitigasi dampak lingkungan dari aktivitas wisata dan memastikan tidak ada penggundulan hutan atau rusaknya ekosistem yang sudah ada. "Konservasi bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi praktik nyata dalam setiap keputusan pengelolaan," lanjut Dedi.
Keterlibatan Komunitas dalam Pengelolaan
Menurut Dedi, keberhasilan pengelolaan Bandung Zoo tidak bisa terlepas dari keterlibatan komunitas lokal. Ia menyebut bahwa keberadaan kawasan ini berdampak besar pada mata pencaharian warga sekitar, termasuk pedagang kaki lima yang menjual makanan dan oleh-oleh di halaman parkir, serta pengelolaan kawasan seni yang ada di dalam kompleks. "Perlu adanya kolaborasi antara pihak pengelola dan masyarakat, agar setiap pengunjung tidak hanya menikmati fasilitas, tetapi juga turut berkontribusi pada peningkatan pendapatan per kapita warga," katanya.
FK3I menambahkan bahwa pengelola baru wajib mengintegrasikan program pendidikan lingkungan ke dalam aktivitas harian kawasan. Hal ini bisa dilakukan melalui pengembangan kurikulum edukasi yang lebih interaktif, serta melibatkan masyarakat dalam kegiatan konservasi. "Selain memperkuat nilai edukasi, pihak pengelola juga harus menjamin bahwa keberadaan zoo tidak mengurangi kualitas kehidupan warga sekitar," ujarnya.
Peringatan untuk PT Fauna Land Ancol
FK3I memberikan peringatan khusus kepada PT Fauna Land Ancol agar tidak mengubah karakter kawasan Bandung Zoo secara drastis. Lembaga ini mengingatkan bahwa keberadaan kawasan ini harus tetap menjaga kesatuan antara konservasi dan pemberdayaan ekonomi. "Jika pembangunan yang dilakukan oleh perusahaan ini mengancam bentang alam, maka akan menjadi kontra produktif bagi keberlanjutan lingkungan dan masyarakat," ujarnya.
Dedi Kurniawan menegaskan bahwa pengelola baru harus menyeimbangkan antara fungsi edukasi, rekreasi, dan konservasi. Ia berharap bahwa PT Fauna Land Ancol mampu menciptakan pengalaman yang lebih bermakna bagi pengunjung, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar kawasan. "Konservasi adalah inti dari keberadaan zoo, jadi setiap keputusan harus dipertimbangkan dari perspektif keberlanjutan, bukan hanya kesenangan sementara," pungkasnya.
FK3I menilai bahwa dengan pendekatan yang lebih holistik, Bandung Zoo bisa menjadi contoh sukses dalam pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan. Perubahan manajemen dianggap sebagai langkah awal untuk mereformasi cara pengelolaan yang selama ini dirasa kurang optimal. Selain itu, lembaga ini berharap pihak pengelola baru memperkenalkan inovasi dalam pengelolaan satwa, seperti program pemberdayaan ekonomi berbasis kebun binatang, agar masyarakat sekitar merasa terlibat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Kebun Binatang Bandung, yang telah berdiri sejak tahun 1920-an, menjadi simbol penting bagi konservasi dan pendidikan lingkungan di Jawa Barat. FK3I menegaskan bahwa dengan kebijakan yang lebih inklusif, kawasan ini bisa terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda dan menjadi tempat yang nyaman bagi warga sekitar. "Kami yakin, jika pengelola baru menjalankan tugas dengan baik, Bandung Zoo akan menjadi model pengelolaan yang seimbang dan berkelanjutan," pungkas Dedi Kurniawan.