Key Discussion: Bos Emeralda Resort Minta Nafas Dua Tahun Tuntaskan Proyek Ditengah Laporan Konsumen ke Polda Jabar
Bos Emeralda Resort Berharap Dua Tahun untuk Tuntaskan Proyek dalam Kondisi Tegang dengan Konsumen
Key Discussion - Dalam situasi yang semakin memanas, pengembang perumahan Emeralda Resort, PT Siliwangi Anatha Bumi (SAB), memutuskan untuk mengungkapkan pernyataan resmi terkait kemacetan proyek perumahan yang menjadi sorotan publik. Proyek ini, yang berlokasi di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), telah memicu keluhan dari sejumlah pembeli sejak beberapa bulan terakhir. Beberapa dari mereka bahkan telah mengajukan laporan ke Polda Jabar atas dugaan pelanggaran kontrak. Meski demikian, Direktur Utama PT SAB, Yana Priatna, menegaskan bahwa perusahaan tetap berkomitmen untuk menyelesaikan pembangunan.
Keterlambatan Proyek yang Memicu Protes Konsumen
Menurut Yana, keterlambatan proyek tidak terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi selama proses pengembangan. "Kami sudah beberapa kali memberikan penjelasan mengenai kendala dan langkah penyelesaian kepada para konsumen, termasuk dalam forum Rapat Dengar Pendapat (RDP)," katanya. Ia menjelaskan bahwa masalah tersebut tidak bisa diselesaikan secara instan, namun perusahaan berupaya mempercepat perbaikan agar proyek bisa berjalan lancar. Selain itu, ada indikasi bahwa perusahaan masih memiliki rencana untuk menghadapi proses hukum yang sedang dijalani.
"Itu hak warga negara, silakan. Kami akan menghadapi prosesnya. Tetapi yang disayangkan, masih ada sekitar 390 konsumen lain yang ingin proyek ini tetap dilanjutkan," ujar Yana dalam keterangan yang diterima tim Pikiran-Rakyat pada Rabu, 10 Juni 2026.
Menurutnya, konsumen yang mempermasalahkan proyek Emeralda Resort tidak hanya memikirkan keputusan hukum, tetapi juga masih berharap pembangunan dapat dilanjutkan. "Mereka khawatir jika proyek berhenti total, uang yang telah dibayarkan justru hilang atau nilainya berkurang," lanjutnya. Meski ada laporan ke Polda Jabar, Yana mengklaim bahwa perusahaan berusaha menjaga hubungan baik dengan konsumen melalui komunikasi terus-menerus.
Komunikasi yang Terhambat karena Intimidasi
Dalam rangka mempercepat pemecahan masalah, Yana Priatna mengatakan bahwa perusahaan telah melakukan pertemuan virtual dengan Ketua Paguyuban Konsumen. Namun, ia menjelaskan bahwa hadirnya langsung dalam pertemuan masih sulit karena ancaman dan intimidasi terhadap dirinya serta keluarga. "Saya belum bisa hadir langsung karena ada tekanan dari pihak tertentu," tuturnya. Hal ini menyebabkan komunikasi selama ini lebih banyak diwakili oleh tim internal perusahaan.
Menurut Yana, konsumen yang menghubungi perusahaan melalui berbagai saluran—seperti telepon, pesan singkat, atau langsung datang—sebagian besar masih mendukung kelanjutan proyek. Mereka menilai bahwa keputusan untuk menghentikan pembangunan akan berdampak negatif terhadap investasi mereka. "Beberapa konsumen memilih menunggu daripada menuntut pengembalian dana, karena mereka percaya bahwa proyek akan segera rampung," katanya.
Langkah Pemecahan Masalah yang Dilakukan Perusahaan
Yana juga menyampaikan bahwa perusahaan telah memberikan penjelasan secara rinci mengenai permasalahan yang dihadapi, termasuk persiapan dana dan perekrutan tenaga konstruksi. "Kami sudah melakukan evaluasi dan mengidentifikasi penyebab utama keterlambatan, yaitu keterbatasan anggaran serta kendala logistik," ujarnya. Ia berharap bahwa dengan pertemuan virtual ini, konsumen dapat memahami upaya yang telah dilakukan untuk mempercepat penyelesaian.
Dalam waktu dekat, perusahaan berencana mengundang para konsumen untuk diskusi lebih lanjut. "Kami ingin mencari solusi bersama, baik melalui negosiasi maupun tindakan pencegahan agar proyek tidak berhenti total," kata Yana. Ia juga meminta kesabaran dari para konsumen karena penyelesaian proyek membutuhkan waktu yang cukup lama. "Dalam dua tahun ke depan, kami berharap dapat memberikan solusi yang memuaskan bagi semua pihak," tambahnya.
Persaingan dan Tantangan di Sektor Properti
Proyek Emeralda Resort memang tidak sendirian menghadapi tantangan. Pasar properti di Bandung Barat, terutama sektor perumahan, telah mengalami perubahan dinamika karena tingkat inflasi yang memengaruhi kebijakan kredit perbankan. "Dalam kondisi ini, konsumen lebih memilih proyek yang terus berjalan, meski dengan tempo yang lebih lambat," kata Yana. Ia juga menyebutkan bahwa beberapa konsumen menilai bahwa proyek ini memiliki potensi untuk menarik minat pembeli baru, terutama jika kemacetan tersebut dapat diatasi.
Kendati demikian, Yana mengakui bahwa penyelesaian proyek membutuhkan kerja sama yang baik antara pihak perusahaan dan konsumen. "Kami berharap para konsumen dapat memberikan ruang untuk dialog dan musyawarah, sehingga tidak terjadi konflik yang lebih besar," katanya. Ia juga menekankan bahwa perusahaan tidak ingin mengambil langkah hukum secara impulsif, karena itu akan menghambat progres pembangunan.
Harapan untuk Pemulihan Citra dan Kepercayaan Konsumen
Dalam upaya memulihkan citra, Yana Priatna berjanji akan menghadiri pertemuan secara langsung setelah kondisi keamanannya stabil. "Saya berharap, setelah kejadian intimidasi ini berlalu, bisa berbicara langsung dengan para konsumen untuk memperkuat kepercayaan mereka," ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa perusahaan akan terus memantau perkembangan proyek dan siap beradaptasi dengan berbagai situasi.
Sebagai pengembang yang telah lama beroperasi di Bandung Barat, PT SAB tidak ingin kejadian ini mengguncang reputasi mereka. "Kami telah mengalami berbagai masalah sebelumnya, tetapi selalu berusaha menyelesaikannya dengan transparan," katanya. Yana menilai bahwa proyek Emeralda Resort menjadi bukti bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan dalam industri properti. Ia juga mengimbau konsumen agar tetap tenang dan percaya pada komitmen yang telah diucapkan oleh manajemen