DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Discussion: Kemenpar Minta Tambahan Anggaran Rp1,99 Triliun, Kunjungan Wisman RI Makin Merosot

Published Juni 18, 2026 · Updated Juni 18, 2026 · By Lia Nugroho

Kemenpar Usulkan Tambahan Dana Rp1,99 Triliun untuk Perkuat Kinerja Sektor Wisata

Key Discussion - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengusulkan penambahan dana sejumlah Rp1,99 triliun dalam upayanya untuk mengoptimalkan berbagai program kerja. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata pada perekonomian nasional, yang tengah menghadapi tantangan akibat penurunan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Pengusulan tersebut disampaikan oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardahana dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa kebutuhan tambahan dana tersebut berasal dari rekomendasi yang disampaikan dalam pertemuan trilateral dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Keuangan.

Kebutuhan Anggaran Tidak Terpenuhi

Menurut Widiyanti, pagu indikatif yang telah diperoleh hanya mencapai Rp1,01 triliun. Jumlah ini dinilai belum cukup untuk mendukung seluruh program pembangunan di sektor pariwisata. Ia menegaskan bahwa angka ideal yang dibutuhkan Kemenpar mencapai Rp3 triliun, sehingga terdapat jarak signifikan antara pagu yang ada dengan target yang ditetapkan. "Pengurangan anggaran ini menciptakan paradoks di tengah kontribusi sektor pariwisata yang terus meningkat," ujar Widiyanti dalam sesi rapat. Ia menambahkan bahwa Kemenpar dihadapkan pada situasi di mana sumber daya yang diberikan tidak sebanding dengan tuntutan pembangunan yang semakin tinggi.

"Kementerian Pariwisata mengajukan kebutuhan tambahan anggaran sebesar Rp1,99 triliun, seperti yang telah kami sampaikan dalam trilateral meeting dengan Bappenas dan Kemenpar," kata Widiyanti.

Usulan penambahan dana ini bertujuan untuk memperkuat berbagai inisiatif, seperti pengembangan infrastruktur wisata, promosi destinasi, dan peningkatan layanan di sektor pariwisata. Dengan anggaran yang lebih besar, Kemenpar berharap bisa mempercepat proses peningkatan jumlah wisman yang terus merosot. Selama beberapa tahun terakhir, sektor pariwisata menjadi salah satu pilar ekonomi yang mengalami tekanan, terutama akibat dampak global seperti pandemi atau perubahan pola perjalanan wisatawan.

Kunjungan Wisman Masih di Bawah Target

Anggota Komisi VII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo mengkritik kinerja Kemenpar, menilai bahwa lembaga tersebut belum mampu menarik wisatawan asing secara signifikan. "Saudara Menteri, ini sangat bangga kalau kita nomor dua setelah Malaysia. Cuma ditopang oleh kunjungan wisata dalam negeri," kata Yoyok. Faktanya, ia menegaskan bahwa kunjungan wisman ke Indonesia berada di posisi terbawah dalam skala ASEAN, dengan hanya menduduki peringkat kelima. "Paling buncit itu, Bu," imbuhnya, menggarisbawahi kebutuhan Kemenpar untuk memperbaiki strategi promosi dan manajemen destinasi.

Statistik yang diungkapkan oleh Yoyok menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu menyaingi negara-negara tetangga dalam menarik wisman. Meski sektor pariwisata memiliki potensi besar, jumlah kunjungan wisman selama tahun ini tercatat lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini berdampak pada pendapatan daerah dan pemerintah pusat, terutama karena sektor wisata berkontribusi signifikan dalam perekonomian nasional. Widiyanti mengakui bahwa penurunan jumlah wisman menjadi tantangan utama, meski pihaknya sedang berupaya untuk mengembalikan kondisi tersebut melalui berbagai inisiatif.

Potensi Perekonomian Pariwisata Terancam

Menurut data yang disampaikan, kunjungan wisman ke Indonesia terus menurun, menyebabkan tekanan terhadap penerimaan negara. Sebagai salah satu negara penghasil pendapatan terbesar dari sektor pariwisata, Indonesia perlu mengoptimalkan anggaran untuk memastikan keberlanjutan industri tersebut. Widiyanti menyoroti bahwa kebutuhan anggaran ideal mencapai Rp3 triliun, tetapi hingga kini hanya tersedia Rp1,01 triliun. "Kondisi ini memperlihatkan ketidakseimbangan antara target yang ditetapkan dan sumber daya yang diberikan," ujarnya.

"Pagu indikatif ini berada jauh di bawah kebutuhan ideal Kemenpar yang mencapai Rp3 triliun. Kondisi penurunan anggaran ini menjadi paradoks di tengah kontribusi dan tuntutan target sektor pariwisata yang terus meningkat," kata Widiyanti.

Yoyok menambahkan bahwa keberhasilan sektor pariwisata tidak hanya bergantung pada anggaran, tetapi juga pada kebijakan yang efektif dan strategi pemasaran yang tepat. Ia menekankan bahwa Indonesia harus menjadi salah satu negara utama di Asia Tenggara dalam menarik wisman, tetapi kinerja terakhir masih di bawah ekspektasi. "Kalau kita bisa menduduki peringkat lima, itu sudah bagus. Tapi targetnya lebih tinggi," ujarnya. Kritik ini menyoroti kebutuhan Kemenpar untuk memperkuat koordinasi dengan pihak lain, termasuk lembaga swasta dan daerah, agar dapat mengatasi masalah anggaran dan meningkatkan daya saing.

Strategi Jangka Panjang untuk Bangkitkan Sektor Wisata

Pengusulan tambahan anggaran Rp1,99 triliun ini diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang Kemenpar untuk memulihkan sektor pariwisata. Program-program yang akan dibiayai antara lain pengembangan infrastruktur seperti jalan raya, akses ke destinasi, dan penguatan layanan hotel serta transportasi. Selain itu, dana tersebut juga akan digunakan untuk promosi yang lebih agresif ke luar negeri, termasuk memanfaatkan media sosial dan kerja sama dengan negara-negara tetangga. "Dengan dana tambahan ini, kami berharap dapat mendorong pertumbuhan wisatawan mancanegara hingga mencapai target yang ditetapkan," tambah Widiyanti.

Menurut analisis, penurunan kunjungan wisman berdampak signifikan pada industri penerbangan, hotel, restoran, dan transportasi. Angka ini juga memperlihatkan bahwa sektor pariwisata belum mampu pulih sepenuhnya setelah dampak pandemi. Dengan pengalihan anggaran, Kemenpar berharap bisa mempercepat proses pemulihan dan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada wisatawan. Selain itu, dana tambahan ini juga diharapkan bisa digunakan untuk mengembangkan ekosistem wisata yang lebih inklusif, termasuk menjangkau pasar wisatawan lokal dan menarik kunjungan dari negara-neg