DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Issue: Daya Saing Indonesia Merosot ke Peringkat 58 Dunia, Kalah dari Malaysia dan Vietnam

Published Juni 25, 2026 · Updated Juni 25, 2026 · By Sari Purnama

Daya Saing Indonesia Merosot ke Peringkat 58 Dunia, Kalah dari Malaysia dan Vietnam

Key Issue - Menurut laporan terbaru dari IMD World Competitiveness Ranking 2026, daya saing Indonesia mengalami penurunan signifikan, berada di posisi 58 dari total 70 negara dan wilayah ekonomi yang dinilai. Posisi ini menandai kemunduran yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, terutama jika dibandingkan dengan peningkatan pada tahun 2024, ketika Indonesia sempat berada di peringkat 27. Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran karena menunjukkan bahwa negara ini kini tertinggal jauh dari sejumlah negara Asia Tenggara yang masuk dalam zona lima besar.

Performa Global Indonesia dalam Tahun 2026

Dalam penilaian terbaru yang dirilis oleh IMD, Indonesia ditempatkan pada urutan ke-58 di antara negara-negara lain. Tren penurunan ini terjadi di tengah dinamika persaingan global yang semakin intensif. Sejumlah negara seperti Singapura, Hong Kong, Swiss, dan Taiwan menunjukkan peningkatan yang konsisten, sementara Uni Emirat Arab (UEA) juga masuk dalam lima besar. Singapura, yang menduduki posisi pertama, terus memperkuat dominasinya dalam berbagai aspek, termasuk efisiensi bisnis, kemudahan berusaha, dan inovasi teknologi. Hal ini menjadi contoh bagaimana konsistensi dalam penguasaan sektor-sektor kunci dapat menjaga posisi yang baik dalam ranking internasional.

Kondisi Ekonomi dan Perbandingan Regional

Sementara itu, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di bawah Thailand yang menempati peringkat ke-45, Malaysia di posisi ke-15, dan Vietnam yang melejit ke urutan ke-27. Meski Vietnam belum menembus daftar lima besar, negara ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Malaysia, sebagai pemimpin kawasan, tetap unggul dalam banyak aspek, termasuk pelayanan publik dan kemudahan pengelolaan bisnis. Posisi Indonesia yang turun ke peringkat 58 menunjukkan tantangan serius dalam menghadapi persaingan di tingkat global.

Penyebab Penurunan Daya Saing

Analisis draf IMD menyebutkan bahwa penurunan daya saing Indonesia terutama dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti efisiensi bisnis yang menurun, birokrasi pemerintahan yang lambat, dan keterlambatan dalam pengembangan infrastruktur fisik serta digital. Penurunan efisiensi bisnis, misalnya, terjadi karena proses produksi yang kurang optimal, biaya operasional yang tinggi, dan kurangnya investasi dalam teknologi modern. Birokrasi yang rumit juga menjadi hambatan utama, terutama bagi usaha kecil dan menengah (UKM) yang kesulitan memperoleh izin dan layanan pemerintah secara cepat.

Kondisi Infrastruktur dan Digitasi

Sektor infrastruktur fisik, seperti jalan raya, pelabuhan, dan sistem transportasi, masih tergolong kurang memadai dibandingkan negara-negara lain. Di sisi lain, digital infrastructure Indonesia juga belum sepenuhnya mendukung pertumbuhan ekonomi yang cepat. Masalah ini berdampak pada kemampuan perusahaan untuk menjangkau pasar global dan meningkatkan produktivitas. Keterbatasan dalam ketersediaan layanan internet yang stabil, serta kesenjangan dalam penggunaan teknologi di berbagai sektor, menjadi tantangan yang perlu segera diatasi.

Perbandingan dengan Negara-Negara Tetangga

Bila dibandingkan dengan Malaysia, Indonesia kini lebih rendah dalam skor daya saing. Malaysia, yang berada di peringkat 15, berhasil mempertahankan kinerja yang baik karena berbagai kebijakan pemerintah yang didukung oleh investasi dalam teknologi dan inovasi. Negara ini juga mampu menjaga kecepatan layanan publik, serta kemudahan dalam menarik investasi asing. Sementara itu, Vietnam yang berada di urutan ke-27, menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, terutama dalam hal keterbukaan pasar dan efisiensi sistem administrasi.

Konteks Global dan Tantangan Ke depan

Penurunan daya saing Indonesia bukan hanya mencerminkan masalah internal, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global yang berubah cepat. Tantangan utama meliputi kompetisi yang semakin ketat dari negara-negara berkembang, serta tekanan dari negara-negara maju yang terus meningkatkan standar kinerja ekonominya. Untuk menghadapi hal ini, Indonesia perlu mempercepat reformasi struktural, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan memastikan investasi yang cukup dalam sektor infrastruktur dan teknologi.

Langkah Strategis untuk Pemulihan

Menurut para ahli, untuk memperbaiki daya saing, Indonesia harus fokus pada peningkatan efisiensi bisnis, pengurangan birokrasi, dan pengembangan infrastruktur yang terpadu. Pemerintah perlu mengadakan evaluasi terhadap regulasi yang menghambat pertumbuhan ekonomi, serta mengoptimalkan penggunaan teknologi digital dalam operasional pemerintahan. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga pendidikan dapat menjadi kunci untuk meningkatkan keterampilan sumber daya manusia dan mendukung inovasi yang berkelanjutan.

Indonesia juga perlu memperhatikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, terutama dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas politik dan kebijakan yang progresif. Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam menjadi contoh bagaimana adaptasi cepat terhadap perubahan pasar global dapat memperkuat daya saing. Dengan kinerja yang mem