DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Deddy PDIP Sebut Banyak Anggota DPR Takut Bersuara: Takut Dapat Telepon dari Sana-sini

Published Juni 20, 2026 · Updated Juni 20, 2026 · By Hadi Nugroho

Deddy PDIP Sebut Banyak Anggota DPR Takut Bersuara: Takut Dapat Telepon dari Sana-sini

Kritik dari Golkar dan Tanggapan Deddy Yevri Sitorus

Key Strategy - Anggota Komisi II DPR RI Deddy Yevri Sitorus menyoroti dinamika demokrasi di lingkungan parlemen yang menurutnya perlu ruang lebih luas bagi para anggota dewan untuk menyampaikan pandangan tanpa rasa takut. Politikus PDIP ini menyatakan bahwa ada banyak anggota DPR yang merasa kewalahan dalam mengeluarkan aspirasi atau kritik mereka karena khawatir menerima tekanan dari berbagai pihak. Pernyataan Deddy muncul dalam respons terhadap kritik Partai Golkar terhadap keputusan PDIP untuk tetap berada di luar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan memainkan peran sebagai penyeimbang dalam sistem demokrasi.

“Saya pribadi selaku anggota DPR sering menerima curhat dari sesama anggota dewan tentang betapa sulitnya mereka berbicara dengan leluasa karena posisi di dalam pemerintahan atau takut mendapat telepon dari sana-sini,” ujarnya, Sabtu, 20 Juni 2026.

Deddy menegaskan bahwa keberadaan partai politik yang tidak bergabung dalam pemerintahan adalah hal yang lazim dalam sistem demokrasi. Ia menekankan bahwa kondisi ini justru penting untuk menjaga fungsi pengawasan terhadap kebijakan pemerintah. “Kita tidak boleh mengabaikan peran oposisi dalam memastikan proses kebijakan tetap transparan dan akuntabel,” tambahnya. Menurut Deddy, jika semua partai politik terlibat dalam pemerintahan, maka ruang bagi kritik dan perbedaan pandangan akan terbatas, yang berpotensi mengurangi efektivitas demokrasi.

Kritik yang diterima PDIP oleh Partai Golkar dinilai Deddy sebagai salah satu contoh tekanan yang dirasakan anggota DPR. Ia menilai bahwa sikap PDIP untuk memperkuat peran oposisi adalah strategi yang wajar, karena dalam sistem demokrasi, partai-partai yang berbeda pandangan diperlukan untuk menciptakan dinamika politik yang sehat. “Jika semua pihak harus sepakat, maka tidak ada ruang untuk diskusi dan perubahan,” jelas Deddy. Ia menambahkan bahwa keberadaan partai yang tidak mendukung pemerintahan saat ini bukanlah tanda ketidaksetiaan terhadap bangsa, melainkan bagian dari mekanisme pengawasan yang menguntungkan.

Perspektif Deddy tentang Perbedaan Pandangan Politik

Deddy juga mengungkapkan keheranannya terhadap pandangan beberapa pihak yang menginginkan semua partai politik bergabung dalam pemerintahan. Menurutnya, konsep ini justru bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi yang mengedepankan kebebasan menyampaikan pendapat. “Di negara demokratis, perbedaan posisi politik adalah hal yang wajar dan harus didukung,” kata Deddy. Ia mencontohkan bahwa sistem yang mengharuskan semua kekuatan politik berada dalam satu barisan umumnya ditemukan di negara-negara dengan struktur pemerintahan yang kurang fleksibel, di mana oposisi tidak memiliki ruang untuk mengkritik kebijakan secara terbuka.

Selain itu, Deddy menyoroti bahwa fungsi utama DPR tidak hanya mendukung pemerintah, tetapi juga mengawasi pelaksanaan kebijakan dan penggunaan kekuasaan. Ia menegaskan bahwa tugas pengawasan ini adalah bagian integral dari demokrasi, dan jika para anggota dewan terlalu takut menyampaikan pandangan, maka fungsi tersebut bisa menjadi lemah. “Kita perlu memastikan bahwa suara dari berbagai kelompok masyarakat tetap terdengar, baik itu dari dalam maupun di luar pemerintahan,” ujarnya. Deddy juga menyinggung bahwa kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah harus dipertanggungjawabkan, dan oposisi adalah alat yang efektif untuk mencapai hal itu.

Posisi PDIP sebagai Penyeimbang dan Kritik terhadap Golkar

Dalam menjawab kritik Partai Golkar, Deddy mempertahankan bahwa PDIP memainkan peran penting sebagai penyeimbang dalam sistem demokrasi. Menurutnya, sikap ini terlihat jelas melalui kegiatan politik di parlemen, termasuk upaya untuk memastikan kebijakan pemerintah tetap diuji secara independen. “PDIP tidak hanya berdiri sebagai penentang, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan dalam proses demokrasi,” terang Deddy. Ia menilai bahwa keberadaan partai yang tidak sepenuhnya mendukung pemerintahan tidak menghambat pembangunan, malah memberikan perspektif baru yang bisa membantu perbaikan kebijakan.

Deddy juga mengkritik pandangan yang menganggap partai oposisi sebagai ancaman terhadap kestabilan sistem. Menurutnya, perbedaan pandangan justru memperkaya demokrasi dan mencegah dominasi satu kelompok kekuasaan. “Tanpa oposisi, pemerintah bisa terjebak dalam kebijakan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu, tanpa mempertimbangkan aspirasi masyarakat secara menyeluruh,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kebebasan berbicara adalah dasar dari demokrasi, dan jika anggota dewan tidak memiliki kebebasan tersebut, maka sistem demokrasi bisa menjadi tidak seimbang.

Di sisi lain, Deddy menggarisbawahi bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi harus mampu menjaga keseimbangan antara pemerintahan dan oposisi. Ia menilai bahwa tekanan yang dirasakan para anggota DPR mencerminkan masalah struktural dalam sistem politik Indonesia. “Kita perlu memperkuat mekanisme yang memungkinkan anggota dewan berbicara dengan aman, baik dalam pemerintahan maupun di luar,” tegas Deddy. Dengan demikian, perbedaan pandangan politik tidak hanya wajar, tetapi juga menjadi bagian dari proses demokrasi yang sehat dan berkembang.

Deddy juga menyebut bahwa kritik dari Partai Golkar terhadap PDIP sebenarnya adalah bentuk interaksi politik yang normal. Menurutnya, dialog antarpartai adalah bagian dari dinamika demokrasi, dan tidak selalu berarti ada konflik yang tidak bisa diatasi. “Kritik adalah bagian dari pertumbuhan, asal tidak mengurangi ruang bagi perbedaan pandangan,” katanya. Ia menegaskan bahwa PDIP tetap bersikap netral dalam mengawasi kebijakan pemerintah, bukan hanya mendukung atau menentang secara berlebihan.

Dalam rangkaian wawancara dengan media, Deddy mengungkapkan bahwa kebebasan menyampaikan pandangan adalah kunci keberhasilan demokrasi. Ia mencontohkan bahwa di banyak negara, anggota dewan yang tidak bergabung dalam pemerintahan masih tetap aktif dalam memberikan masukan dan mengevaluasi kebijakan. “Jika kita ingin demokrasi berkembang, kita harus memastikan bahwa semua suara tetap didengar,” kata Deddy. Pernyataannya ini menegaskan bahwa keberadaan partai oposisi tidak hanya wajar, tetapi juga penting untuk menjaga kualitas proses politik di Indonesia.

Dengan demikian, Deddy Yevri S