Key Strategy: Penjelasan Dibalik Terminal Manggarai yang Mati Suri Nyaris Satu Dekade
Penjelasan Dibalik Terminal Manggarai yang Mati Suri Nyaris Satu Dekade
Key Strategy - Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta memberikan penjelasan terkait stagnasi fungsional Terminal Manggarai selama delapan tahun terakhir. Wakil Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Terminal Angkutan Jalan Dishub DKI Jakarta, Zulkifli, menjelaskan bahwa masalah ini berasal dari kondisi fisik terminal yang terbatas. Meski dianggap sebagai pusat mobilitas utama Jakarta, Terminal Manggarai belum mampu memenuhi harapan sebagai penghubung transportasi yang efektif.
Faktor Utama: Keterbatasan Ruang dan Desain
Menurut Zulkifli, lokasi Terminal Manggarai terletak di area yang sempit, sehingga membatasi kemampuannya dalam mengakomodasi armada bus berukuran besar. "Keterbatasan ruang yang ada di Terminal Manggarai menyebabkan potensi kemacetan jika jumlah bus yang masuk meningkat drastis," terangnya. Dalam wawancara dengan Pikiran-Rakyat.com, ia menambahkan bahwa desain terminal yang sudah ada tidak dirancang untuk menampung bus besar tanpa mengganggu alur lalu lintas.
"Ada keterbatasan tata ruang existing terminal untuk menampung armada bus besar tanpa memicu bottleneck di gerbang masuk/keluar," kata Zulkifli dalam keterangan yang diterima Pikiran-Rakyat.com, Kamis, 25 Juni 2026.
Masalah ini terasa lebih jelas seiring pertumbuhan jumlah pengguna jasa transportasi umum di Jakarta. Meski kawasan Manggarai dianggap sebagai sentral pergerakan kendaraan umum, keadaan fisik terminal justru menghambat kegiatan naik-turun penumpang. Zulkifli menjelaskan bahwa rute angkutan kota (angkot) yang berlaku saat ini tidak mengintegrasikan jalur di dalam area terminal. "Rute angkot saat ini tidak melalui jalur di dalam terminal, sehingga tidak memanfaatkan seluruh potensi lokasi ini," ujarnya.
Dalam desain awal, Terminal Manggarai dirancang untuk mengakomodasi manuver armada bus sedang. Namun, saat ini banyak armada besar seperti Transjakarta yang mengisi jalur tersebut. Hal ini menyebabkan pergeseran fungsi terminal dari tempat pertukaran antar moda transportasi ke area yang lebih spesifik. "Dengan kondisi ini, terminal justru berubah menjadi pengatur lalu lintas yang memakan waktu lebih lama," jelas Zulkifli.
Kepunahan Izin Kopaja dan Metromini
Penyebab lain yang memengaruhi fungsi Terminal Manggarai adalah penghapusan izin operasional perusahaan bus Kopaja dan Metromini pada 2018. Pergeseran ini memicu perubahan sistem transportasi di Jakarta, termasuk kehilangan posisi dominan terminal dalam mengatur arus penumpang. "Kepunahan izin Kopaja dan Metromini menjadi titik awal peralihan transportasi yang berdampak pada aktivitas terminal," kata Zulkifli.
Dengan hilangnya layanan dari kedua perusahaan tersebut, Terminal Manggarai kehilangan penggunaan yang signifikan. Sebelumnya, terminal ini menjadi tempat keberangkatan dan kedatangan bus besar serta sedang, tetapi sekarang lebih fokus pada Transjakarta. Zulkifli menambahkan bahwa meski terminal tetap beroperasi, perannya tidak sekuat yang diharapkan.
Masalah desain dan perubahan izin operasional menjadi dua faktor utama yang menyebabkan stagnasi. Meski lokasi terminal tetap strategis, kondisi fisik dan sistem perjalanan tidak mendukung kegiatan yang optimal. "Faktor-faktor ini memperparah keadaan terminal hingga nyaris tidak berfungsi sebagai pusat transportasi utama," tuturnya.
Program Perbaikan 2026
Dalam upaya memperbaiki situasi tersebut, Terminal Manggarai masuk dalam program perencanaan pemeliharaan tahun 2026. Program ini mencakup perbaikan infrastruktur dan rekayasa lalu lintas di sekitar serta di dalam area terminal. "Tujuan utama dari perbaikan ini adalah agar terminal bisa menerima layanan Transjakarta tanpa mengganggu arus lalu lintas sekitar," ujar Zulkifli.
Rekayasa lalu lintas di dalam terminal bertujuan untuk mengurangi penumpukan kendaraan dan mempercepat proses keberangkatan penumpang. Zulkifli menyebutkan bahwa perubahan ini juga akan memastikan alur kendaraan umum lebih terintegrasi. "Dengan perbaikan ini, Terminal Manggarai akan kembali menjadi hub penting yang menyatukan berbagai jenis transportasi," tambahnya.
Program pemeliharaan 2026 diperkirakan memakan waktu beberapa bulan. Selama masa tersebut, Dishub DKI Jakarta akan memantau progres dan menyesuaikan strategi jika diperlukan. Zulkifli menekankan bahwa perbaikan ini bukan hanya untuk mengoptimalkan terminal, tetapi juga untuk memperkuat sistem transportasi umum di Jakarta secara keseluruhan.
Kawasan Manggarai terus menjadi salah satu titik penting di ibu kota, namun keberhasilan terminal sebagai simpul integrasi transportasi tergantung pada perbaikan infrastruktur dan sistem. "Terminal ini seharusnya bisa mendorong mobilitas masyarakat dengan lebih efektif," pungkas Zulkifli. Ia berharap, dengan berbagai upaya yang dilakukan, Terminal Manggarai bisa kembali berfungsi sebagai pusat transportasi yang dinamis dan terintegrasi.