KPK Sita Mobil Sport – Harley hingga Perhiasan dari Rumah Silmy Karim, Diduga Hasil Peras WNA
KPK Sita Mobil Sport, Harley hingga Perhiasan dari Rumah Silmy Karim, Diduga Hasil Peras WNA
KPK Sita Mobil Sport - Beberapa hari setelah operasi penyelidikan yang memicu perhatian publik, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melanjutkan upaya pemberantasan tindak korupsi dengan melakukan penggeledahan di rumah mantan Wakil Menteri (Wamen) Imigrasi, Silmy Karim, di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, pada Jumat (5/6). Penggeledahan ini merupakan bagian dari penyelidikan terhadap dugaan tindak pungutan liar (pemerasan) yang menjerat Silmy dan sejumlah pejabat Kementerian Imigrasi lainnya. Dalam aksi tersebut, penyidik KPK mengamankan sejumlah aset mewah, termasuk kendaraan bermotor, perhiasan, serta uang tunai dalam berbagai mata uang.
Penggeledahan dan Barang Bukti yang Disita
Menurut informasi yang diterima, barang bukti yang diamankan meliputi dua unit mobil sport, sepuluh kendaraan roda dua berbagai merek seperti Vespa, motor gede (moge), dan Harley-Davidson. Selain itu, juga ditemukan tujuh unit sepeda dan berbagai perhiasan bernilai tinggi. Penggeledahan ini berlangsung cepat, dengan penyidik memastikan semua barang bukti disimpan secara aman untuk diperiksa lebih lanjut.
“Dalam penggeledahan yang dilakukan di rumah Tersangka SK, penyidik mengamankan dan menyita barang bukti di antaranya dua unit mobil sport, 10 unit kendaraan roda dua mulai dari Vespa, moge hingga Harley, tujuh unit sepeda, serta beberapa perhiasan lainnya,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo dalam pernyataannya, Jumat, 5 Juni 2026.
Berdasarkan data yang diberikan, seluruh aset yang disita diperkirakan terkait dengan dugaan pemerasan terhadap warga negara asing (WNA) yang ingin memperoleh izin tinggal sementara. Penyidik KPK mengungkap bahwa proses pengurusan izin tersebut menjadi celah untuk menyalurkan keuntungan pribadi kepada para pihak yang terlibat. Selain aset benda, KPK juga menyita uang tunai dalam bentuk Rupiah dan valuta asing seperti dolar Amerika Serikat (USD), euro (EUR), serta yen (YEN).
“Selain itu, penyidik juga menyita sejumlah uang dalam mata uang rupiah, maupun valas, seperti USD, EUR, maupun YEN,” ucap Budi.
Konteks Kasus Korupsi
Menurut Budi, penggeledahan tersebut bertujuan untuk mengungkap lebih jauh alur korupsi yang melibatkan Silmy Karim. Ia menjelaskan bahwa aset-aset yang diamankan diperoleh melalui skema pungutan liar yang dilakukan oleh para pejabat Kementerian Imigrasi. Proses ini diduga diatur secara terstruktur, dengan Silmy sebagai salah satu pengambil keputusan yang menguntungkan pihak-pihak tertentu.
Dalam kasus ini, KPK menyatakan bahwa pemerasan terhadap WNA menjadi bagian dari praktik korupsi yang lebih luas. Para WNA yang terlibat dianggap memperoleh fasilitas tambahan melalui pembayaran suap yang cukup besar. Selain itu, diperkirakan bahwa aset yang disita bisa mencerminkan keuntungan finansial yang telah didapat oleh Silmy dan rekan-rekannya. Penggeledahan ini dianggap sebagai salah satu langkah penting untuk memperkuat bukti-bukti yang telah dikumpulkan dalam penyelidikan.
Penggeledahan sebagai Bagian dari Upaya Pemberantasan Korupsi
KPK, sebagai lembaga anti-korupsi, telah memperlihatkan komitmennya dalam mengungkap kasus-kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara. Penggeledahan di rumah Silmy Karim merupakan salah satu contoh nyata bagaimana lembaga ini berupaya memastikan bahwa proses pemberian izin tinggal sementara tidak dijalankan secara tidak transparan. Dengan memperoleh aset-aset tersebut, KPK bisa membangun alur dana yang berpotensi terkait dengan skema suap.
Penggeledahan di Kebayoran ini juga dianggap sebagai tindakan penyidik untuk melacak sumber keuntungan korupsi yang diduga terjadi selama beberapa tahun terakhir. Pihak KPK telah menyatakan bahwa investigasi terus berlangsung, dengan pihak-pihak yang terlibat dijajaki secara rinci. Dalam proses ini, penyidik menemukan bukti-bukti yang bisa mengungkap keterlibatan Silmy Karim dalam praktik pungutan liar.
Signifikansi Penyitaan Uang Tunai
Penyitaan uang tunai dalam mata uang Rupiah dan valuta asing menjadi salah satu fokus utama dalam operasi tersebut. KPK menilai bahwa keberadaan uang dalam berbagai bentuk mata uang bisa memberikan gambaran tentang tingkat keuntungan yang telah terkumpul. Selain itu, uang tunai tersebut diharapkan bisa menjadi bukti kuat dalam menyelidiki transaksi keuangan yang berpotensi terkait dengan korupsi.
Dengan memperoleh uang tunai yang berjumlah signifikan, penyidik KPK bisa memperluas investigasi terhadap aktor-aktor lain yang terlibat dalam skema pemerasan. Valuta asing yang disita menunjukkan bahwa transaksi tersebut bisa mencakup penyeberangan dana ke luar negeri, sehingga memperkuat dugaan bahwa korupsi dalam kasus ini memiliki dampak luas. Penyitaan ini juga membantu memperlihatkan keterlibatan Silmy Karim dalam pemberian fasilitas bagi WNA.
Kasus yang Menyeret Banyak Pejabat
Berdasarkan keterangan Budi Prasetyo, seluruh barang bukti yang diamankan diduga merupakan hasil dari pemerasan terhadap WNA. Penyidik mengungkap bahwa skema ini melibatkan sejumlah pejabat Imigrasi, termasuk Silmy Karim. Pemerasan dilakukan dengan memanfaatkan posisi mereka dalam mengurus izin tinggal sementara, sehingga WNA