DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Menkum Siapkan Sekolah Rakyat Tanpa APBN, Bagaimana Skema Pembiayaannya?

Published Juni 19, 2026 · Updated Juni 19, 2026 · By Lia Nugroho

Menkum Siapkan Sekolah Rakyat Tanpa APBN, Bagaimana Skema Pembiayaannya?

Transfer Lahan Mendorong Inisiatif Pendidikan Baru

Latest Program - Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (MenkumHAM) mengambil peran penting dalam mengembangkan Sekolah Rakyat yang tidak bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pernyataan ini menjadi sorotan publik karena pendidikan di Indonesia selama ini sering kali menjadi prioritas yang didanai oleh pemerintah pusat. Dalam upayanya untuk memperluas akses pendidikan, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas mengungkap rencana inovatif tersebut saat menyerahkan lahan seluas 6,3 hektare kepada Kementerian Sosial (Kemensos) untuk pembangunan Sekolah Rakyat di Jakarta pada Kamis (18/6/2026). Lahan tersebut menjadi simbol dari komitmen untuk membangun model pendidikan yang lebih swadaya.

MenkumHAM menjelaskan bahwa bangunan yang akan selesai dibangun nantinya akan menjadi bagian dari layanan pendidikan yang dioperasikan oleh Kemensos. Inisiatif ini diharapkan dapat mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan peran masyarakat dalam mengelola sektor pendidikan. Supratman menegaskan bahwa pihaknya akan berupaya keras untuk menginisiasi proyek ini tanpa membebani anggaran negara. "Insyaallah dalam waktu dekat saya akan coba menginisiasi membangun Sekolah Rakyat tanpa menggunakan dana APBN," katanya. "Setelah selesai, saya akan serahkan kepada Kemensos agar bisa dioperasikan sebagai bagian dari layanan publik," tambahnya.

"Dengan menyerahkan lahan ke Kemensos, kita memberi ruang bagi lembaga swasta atau masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam pengembangan pendidikan."

Langkah ini memicu diskusi mengenai bagaimana Kemensos dan pihak terkait akan mengatur pembiayaan Sekolah Rakyat. Jika dana APBN tidak digunakan, maka sumber pendanaan mungkin berasal dari berbagai pihak seperti lembaga keuangan, investor swasta, atau kontribusi dari masyarakat. MenkumHAM menjelaskan bahwa pihaknya sedang mengkaji beberapa skema, termasuk kolaborasi dengan pihak swasta atau pengelolaan melalui model kemitraan. "Kita perlu memastikan Sekolah Rakyat dapat beroperasi secara mandiri sekaligus memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat," ungkap Supratman.

Perdebatan Soal Kemandirian Pendidikan

Kebijakan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas skema pembiayaan alternatif. Apakah masyarakat dan swasta memiliki kapasitas untuk mengelola pendidikan secara efisien tanpa bantuan pemerintah? Sejumlah pihak menilai bahwa penggunaan APBN merupakan jaminan stabilitas, terutama dalam menghadapi krisis ekonomi atau fluktuasi dana. "Jika tidak ada dukungan anggaran negara, bagaimana Sekolah Rakyat akan bertahan dalam jangka panjang?" tanya seorang akademisi yang tidak ingin disebutkan namanya.

Menteri Sosial, yang menerima lahan dari MenkumHAM, menilai bahwa proyek ini bisa menjadi contoh nyata dari pengembangan pendidikan yang lebih partisipatif. "Sekolah Rakyat harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah," jelasnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan proyek ini bergantung pada keseriusan pengelolaan dana. "Kita perlu membangun sistem yang transparan dan akuntabel agar masyarakat percaya," katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Kemensos siap menjadi mitra dalam menciptakan model pendidikan yang berkelanjutan.

"Sekolah Rakyat bukan hanya tentang bangunan, tapi juga tentang sistem pendidikan yang bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat."

Para pengamat menyebutkan bahwa inisiatif ini memiliki potensi besar untuk mengurangi beban APBN di sektor pendidikan. Menurut data Kementerian Pendidikan, anggaran pendidikan di Indonesia mencapai sekitar 15% dari APBN, yang sebagian besar digunakan untuk operasional sekolah-sekolah negeri. Jika Sekolah Rakyat bisa dioperasikan secara mandiri, maka dana APBN bisa dialokasikan ke sektor lain yang lebih mendesak. Namun, ada juga kekhawatiran bahwa skema pembiayaan yang tidak jelas bisa menyebabkan ketidakpuasan publik atau penurunan kualitas layanan.

Supratman menjelaskan bahwa dalam skema ini, pihaknya akan menawarkan kontrak kemitraan dengan lembaga atau individu yang tertarik berpartisipasi. "Kita bisa menarik investasi dari masyarakat, melalui pendanaan berbasis kepercayaan dan kebutuhan nyata," katanya. Selain itu, Kemensos juga berencana menyerap dana dari program donor internasional atau kerja sama dengan organisasi sosial. "Pendekatan ini bisa memperkuat peran masyarakat dalam pembangunan pendidikan," tambahnya.

Kesiapan Masyarakat dan Pemerintah

Pembangunan Sekolah Rakyat ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendorong partisipasi lebih luas dari masyarakat dalam pendidikan. Namun, menurut Supratman, persiapan ini masih memerlukan kerja sama intensif dari berbagai pihak. "Kita perlu memastikan ada mekanisme yang jelas untuk mengelola dana dan menetapkan standar kualitas," katanya. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. "Sekolah Rakyat harus menjadi wadah bagi anak-anak yang kurang beruntung, serta menciptakan lingkungan belajar yang optimal."

Dalam diskusi publik, sejumlah pendukung mengapresiasi keberanian MenkumHAM dalam mengubah paradigma pendidikan. Mereka berargumen bahwa pendanaan dari sumber lain bisa memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam mengadaptasi kebutuhan masyarakat. "Dengan pendekatan ini, kita bisa lebih cepat merespons perubahan situasi pendidikan di daerah-daerah," kata seorang warga Jakarta yang menghadiri acara penyerahan lahan. Namun, beberapa pihak menilai bahwa inisiatif ini masih perlu diuji coba lebih lanjut sebelum diterapkan secara luas.

"Saya yakin dengan skema ini, kita bisa mengurangi beban APBN sambil meningkatkan kualitas pendidikan. Tapi perlu ada pengawasan ketat,"

Mengenai jadwal pelaksanaan, MenkumHAM menyatakan bahwa konsep ini akan diterapkan secara bertahap, dengan fokus pada daerah dengan akses pendidikan yang kurang memadai. "Kita akan mulai dengan proyek kecil, lalu memperluas jika ada keberhasilan," jelas Supratman. Ia menambahkan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk komunitas lokal, untuk memastikan proyek ini berjalan sesuai harapan. "Sekolah Rakyat harus menjadi bagian dari komunitas, bukan hanya infrastruktur," pungkasnya.

Secara keseluruhan, inisiatif ini menunjukkan upaya pemerintah untuk mengoptimalkan penggunaan anggaran pendidikan dan memberikan ruang bagi peran aktif masyarakat. Meski masih ada tantangan, keberhasilannya akan menjadi langkah penting dalam transformasi sektor pendidikan Indonesia. Dengan skema pembiayaan yang diusulkan, Kemensos dan MenkumHAM berharap bisa menciptakan model pendidikan yang lebih berkelanjutan dan inklusif, sekaligus mengurangi ketergantungan pada APBN.