Main Agenda: Cerita Korban Hanania Travel: Ada Jemaah Sudah di Bandara, Tiba-tiba Dibatalkan H-6 Jam
Cerita Korban Hanania Travel: Jemaah Umrah Dibatalkan Mendadak di Bandara
Main Agenda - Sejumlah jemaah umrah yang menjadi korban Hanania Travel melaporkan pengalaman memalukan saat keberangkatan mereka tiba-tiba dibatalkan hanya beberapa jam sebelum penerbangan. Menurut perwakilan korban, Uli Amelia Septriani, kejadian ini terjadi pada 25 Maret 2026, saat jemaah sudah berada di bandara dan siap melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci. Penyebab pembatalan disebutkan berasal dari kekurangan persiapan logistik dan keterlambatan dalam mengurus dokumen keberangkatan.
Rapat Dengan DPR RI: Penjelasan dari Hanania Travel
Dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Kamis, 18 Juni 2026, Uli mengungkapkan bahwa kejadian pembatalan terjadi karena masalah internal agen travel. "Beberapa jemaah sudah berada di bandara, siap berangkat, izin sudah lengkap, bahkan sudah berpakaian seragam," jelas Uli. Ia menambahkan bahwa pada 25 Maret 2026, keterlambatan pembatalan mencapai enam jam sebelum jadwal penerbangan. Ini menyebabkan rasa kecewa dan kebingungan di antara para jemaah.
Ada jemaah yang sudah diairport, Bapak, izin, sudah lengkap dengan seragamnya. Yang paling parah pada tanggal 25, pembatalan dilakukan H-6 jam.
Dalam kesempatan tersebut, Uli juga menyebutkan bahwa pengalaman serupa tidak hanya terjadi pada hari itu, tetapi juga di hari-hari sebelumnya. Beberapa jemaah mengeluhkan ketidakpastian terkait jadwal keberangkatan hingga hari D. "Mereka tidak diberi pemberitahuan lebih awal, sehingga harus bergegas ke bandara sambil menunggu kabar lebih lanjut," ungkapnya. Situasi ini memicu kekacauan di area keberangkatan dan menimbulkan keluhan terhadap layanan Hanania Travel.
Konsekuensi Pembatalan Mendadak
Konsekuensi dari pembatalan tiba-tiba ini cukup signifikan. Jemaah yang sudah datang ke bandara harus kembali ke tempat penginapan atau menghabiskan waktu di jalan hanya untuk menunggu kabar keberangkatan. Selain itu, beberapa jemaah mengalami kerugian finansial karena tiket yang sudah dibeli tidak bisa digunakan lagi. "Beberapa dari mereka harus mengembalikan uang tiket dengan denda, sementara yang lain mengalami kehilangan pendapatan karena tundaan perjalanan," terang Uli.
Penyebab utama pembatalan, menurut laporan dari Hanania Travel, terkait dengan keterbatasan sumber daya manusia dan kesalahan pengurusan visa. Perusahaan travel tersebut mengklaim bahwa kejadian ini tidak terjadi secara massal dan hanya terjadi pada satu kelas jemaah tertentu. Namun, korban menyebutkan bahwa jumlah jemaah yang terkena dampak cukup besar, mencapai ratusan orang. "Kami menganggap ini sebagai kesalahan serius, karena jemaah sudah mempersiapkan diri secara matang," kata Uli.
Respons dari Pihak Hanania Travel
Selama rapat dengar pendapat, Hanania Travel memberikan penjelasan bahwa mereka berusaha memperbaiki sistem pengurusan keberangkatan. Perwakilan agen travel tersebut menyatakan bahwa tim mereka sedang bekerja keras untuk menyelesaikan masalah dan mengembalikan kepercayaan jemaah. "Kami sangat menyesal atas kejadian yang terjadi, dan berkomitmen untuk memberikan kompensasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujarnya.
Meski demikian, korban masih mengeluhkan tingkat kepuasan layanan yang rendah. Beberapa jemaah menyatakan bahwa mereka merasa tidak dihargai karena perusahaan tidak menginformasikan secara jelas. "Saya sudah menunggu selama enam jam di bandara, sementara mereka masih memeriksa kembali dokumen keberangkatan," kata salah satu korban. Kejadian ini juga menimbulkan kecurigaan bahwa Hanania Travel tidak memiliki rencana darurat yang matang untuk menghadapi keadaan darurat seperti pembatalan mendadak.
Langkah Pemecahannya
Sebagai langkah penyelesaian, Hanania Travel menawarkan kompensasi berupa pengembalian dana dan voucher untuk perjalanan ulang. Selain itu, mereka juga berencana untuk meningkatkan sistem manajemen keberangkatan, termasuk pelatihan bagi staf dan penggunaan teknologi digital untuk mempercepat proses. "Kami sedang mengadakan audit internal untuk mengidentifikasi penyebab mendasar dari pembatalan tersebut," tambah Uli.
Dalam beberapa hari terakhir, pihak Hanania Travel juga berupaya untuk menyelesaikan keluhan para korban melalui komunikasi langsung. Namun, banyak jemaah merasa bahwa proses ini masih lambat dan tidak efisien. Uli mengakui bahwa ada kekurangan dalam komunikasi internal, tetapi menegaskan bahwa perusahaan akan terus berusaha memperbaikinya. "Kami ingin menjadi agen travel yang lebih baik, dan kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi kami," katanya.
Kejadian ini juga menimbulkan perhatian dari pengawas pemerintah, terutama Komisi III DPR RI yang mengawasi sektor perjalanan. Selama rapat, para anggota komisi menanyakan detail tentang sistem pengurusan visa dan pengelolaan keberangkatan. "Apakah ada mekanisme pengingat atau sistem pengawasan internal untuk menghindari pembatalan seperti ini?" tanya seorang anggota dewan. Uli menjelaskan bahwa mereka sedang menerapkan sistem pengingat otomatis dan mengadakan pemeriksaan lebih ketat terhadap keberangkatan jemaah.
Dengan adanya laporan ini, diharapkan Hanania Travel dapat mengevaluasi kembali proses operasional mereka dan memberikan penjelasan yang lebih transparan kepada konsumen. Para jemaah juga berharap perusahaan travel bisa memperbaiki kesalahan serta menjamin pengalaman yang lebih baik di masa mendatang. "Kami ingin jemaah merasa aman dan tenang saat melakukan perjalanan umrah," pungkas Uli dalam rapat tersebut.