Main Agenda: Siti Muhajiroh Tolak Tali Asih Rp30 Juta dari Polres Kebumen, Klaim Kerugian Hingga Rp200 Juta
Siti Muhajiroh Tolak Tali Asih Rp30 Juta dari Polres Kebumen, Klaim Kerugian Hingga Rp200 Juta
Pelaku Kriminal Investasi Bodong Berhasil Menarik Perhatian Publik
Main Agenda - Pikiran Rakyat – Video yang menampilkan Siti Muhajiroh, seorang perempuan yang terlibat dalam kasus dugaan investasi bodong, sempat mencuri perhatian masyarakat melalui platform media sosial. Kisahnya berawal ketika Siti memperjuangkan kejelasan tentang barang-barang yang diklaim hilang dari lokasi kejadian. Dalam video yang beredar, ia menunjukkan kekecewaan atas kondisi barang-barang miliknya yang tidak bisa dikembalikan. Beberapa hari setelah videonya viral, Siti mengungkapkan adanya tawaran tali asih dari Polres Kebumen senilai Rp30 juta.
Tawaran tersebut, menurut Siti, diberikan setelah dirinya mengajukan permintaan bantuan kepada pihak kepolisian. Ia mengatakan bahwa ia berusaha memperoleh hak atas barang-barang yang berada di bangunan yang menjadi pusat perhatian dalam kasus tersebut. "Saya akhirnya telepon Kapolresnya menanyakan gimana dengan barang-barang saya," ujarnya dalam video klarifikasi yang diunggah oleh akun TikTok @teguh.purnomo093 pada 6 Juni 2026.
Dalam klarifikasi, Siti menjelaskan bahwa polisi mengarahkan dirinya untuk menemui pejabat terkait guna mendapatkan bantuan. Menurutnya, Kapolres Kebumen, Pak Eka, memberikan janji untuk memfasilitasi pengembalian barang-barang yang berada di dalam bangunan. "Pak Eka sendiri bilang mau membantu, bahasanya akan membantu biar saya bisa usaha lagi," tambah Siti. Meski demikian, tawaran tali asih Rp30 juta tidak membuatnya puas. Ia mengklaim kerugian hingga mencapai Rp200 juta, yang mencakup kerusakan atas barang-barang miliknya dan kerugian finansial akibat gangguan operasional usahanya.
Peran Tali Asih dalam Proses Penyelesaian Kasus
Tali asih, dalam konteks ini, merujuk pada pembayaran tunai yang ditawarkan oleh pihak kepolisian sebagai bentuk kompensasi atas ketidaknyamanan yang dialami Siti. Ia menjelaskan bahwa tawaran itu muncul setelah dirinya mengajukan permohonan agar bisa kembali mengambil barang-barang yang dulu ditempatkan di lokasi investigasi. Namun, Siti memutuskan untuk menolak penawaran tersebut, karena ia merasa jumlahnya tidak cukup untuk menutupi kerugian yang dialami.
Ia menekankan bahwa kerugian yang dideritanya melibatkan berbagai aspek, termasuk biaya penggantian barang, pengeluaran untuk biaya pengelolaan tempat usaha, dan dampak reputasional terhadap bisnisnya. "Jumlah tali asih itu jauh dari cukup, karena kerugian saya mencapai ratusan juta," kata Siti. Menurutnya, pihak kepolisian hanya memberikan dana sebesar Rp30 juta, padahal ia membutuhkan bantuan lebih besar untuk memulihkan kondisi usaha yang sempat terganggu.
Kapolres Kebumen, dalam video klarifikasi tersebut, menjanjikan bantuan agar Siti bisa kembali beroperasi. Ia menyatakan bahwa tim investigasi sedang berupaya mempercepat proses pengembalian barang-barang milik warga. Namun, Siti merasa bahwa janji itu tidak diiringi tindakan nyata. "Mereka hanya menawarkan uang, tapi belum ada solusi jangka panjang," tambahnya. Menurut Siti, tali asih tersebut tidak menyelesaikan masalah utama, yaitu kejelasan atas barang-barang yang masih belum dikembalikan.
Klarifikasi dan Perspektif Masyarakat
Video klarifikasi yang diunggah oleh Siti menjadi bukti nyata dari perjuangannya menuntut keadilan. Dalam video tersebut, ia juga menjelaskan bahwa ia tidak menyerah meski terus-menerus mendapat tekanan dari pihak berwenang. "Saya ingin tahu siapa yang benar-benar bertanggung jawab atas hilangnya barang-barang saya," ujarnya.
Siti mengungkapkan bahwa pihak kepolisian menawarkan tali asih sebagai bentuk kompromi, tetapi ia memilih untuk tetap menuntut kejelasan. Ia menilai bahwa jumlah Rp30 juta tidak mencerminkan nilai kerugian yang sebenarnya, yang ia perkirakan mencapai hingga Rp200 juta. "Kalau hanya Rp30 juta, saya rasa belum cukup untuk menutupi semua kerugian yang saya alami," jelasnya.
Video ini juga memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Beberapa orang menilai bahwa tali asih adalah bentuk penyelesaian yang wajar, sementara yang lain mendukung Siti untuk terus berjuang. "Tali asih itu mungkin untuk masyarakat yang tidak terlalu terganggu, tapi bagi saya, ini jauh dari cukup," kata Siti dalam wawancara terpisah. Ia mengharapkan kepolisian bisa memberikan pengakuan resmi atas barang-barang yang hilang dan menjamin bahwa proses investigasi tetap berjalan transparan.
Kasus ini menjadi sorotan karena memperlihatkan bagaimana penyelesaian konflik dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk melalui penawaran tali asih. Namun, Siti memilih untuk mempertahankan haknya dan menuntut keadilan secara lebih tegas. "Saya ingin semuanya jelas, tidak hanya untuk saya, tetapi juga untuk para korban lainnya," tuturnya.
Dengan keputusannya menolak tali asih, Siti Muhajiroh menunjukkan komitmen untuk menyelesaikan kasus ini secara utuh. Ia berharap pihak kepolisian bisa memberikan pertanggungjawaban atas barang-barang yang masih belum ditemukan dan mengambil langkah-langkah yang lebih konstruktif. Meski terkesan bersikeras, tindakan Siti justru memperkuat posisi korban dan mendorong pihak berwenang untuk lebih responsif dalam menyelesaikan konflik yang terjadi.
Video klarifikasi Siti ini tidak hanya menjadi bukti perjuangan pribadinya, tetapi juga mendorong masyarakat untuk lebih memahami proses investigasi dan tindakan yang diambil oleh pihak kepolisian. Dengan mengunggah klarifikasi tersebut, Siti berharap bisa memberikan informasi yang akurat dan memastikan bahwa tidak ada pihak yang terlepas dari tanggung jawab atas kerugian yang terjadi.