DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Meeting Results: Defisit Rp3 Miliar per Tahun, Komisi III DPRD Jabar Minta BUMD Jasa Sarana Jual Aset Pasif

Published Juli 10, 2026 · Updated Juli 10, 2026 · By Lia Nugroho

Meeting Results: Komisi III DPRD Jabar Minta PT Jasa Sarana Jual Aset Pasif

Meeting Results - Ketua Komisi III DPRD Jawa Barat, Jajang Rohana, menyampaikan seruan kuat kepada badan usaha milik daerah PT Jasa Sarana agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh lini bisnis yang dikelola. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa berbagai usaha yang selama ini tidak memberikan kontribusi keuntungan, bahkan justru menimbulkan kerugian, harus segera dievaluasi dan dihentikan operasinya. Sebaliknya, perusahaan perlu lebih fokus mengembangkan sektor usaha yang masih produktif dan memiliki potensi menghasilkan keuntungan agar kondisi keuangan dapat kembali sehat.

Pernyataan tersebut disampaikan Jajang seusai melaksanakan rapat kerja bersama PT Jasa Sarana pada Kamis, 9 Juli 2026. Rapat kerja ini menjadi momentum penting bagi kedua belah pihak untuk membahas strategi pemulihan keuangan perusahaan yang sedang mengalami tantangan signifikan. Meeting Results dari pertemuan tersebut menunjukkan adanya konsensus bahwa langkah-langkah konkret diperlukan untuk mengatasi defisit yang terus terjadi.

Strategi Pemanfaatan Aset dan Pembenahan Manajemen

Salah satu langkah lain yang didorong oleh Komisi III kepada PT Jasa Sarana adalah pemanfaatan aset secara maksimal dengan cara menjual aset-aset pasif atau idle asset. Dana segar yang didapat dari pelepasan aset tersebut nantinya bisa diputar kembali untuk memperkuat lini bisnis yang dinilai lebih prospektif. Pendekatan ini dinilai strategis karena aset pasif yang tidak produktif dapat dikonversi menjadi modal kerja yang lebih bernilai.

"Perbaikan manajemen menjadi kunci utama. Dengan tata kelola yang baik, pengelolaan usaha yang lebih fokus, serta optimalisasi aset, kami optimistis PT Jasa Sarana dapat kembali berada pada kondisi keuangan yang sehat dan mampu memberikan kontribusi maksimal bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat," katanya.

Jajang menilai bahwa pembenahan tata kelola perusahaan yang komprehensif memegang peran yang sama pentingnya dengan strategi bisnis dalam menyukseskan pemulihan instansi ini. Ia menambahkan bahwa perbaikan manajemen menjadi fondasi utama yang harus dibangun terlebih dahulu sebelum strategi ekspansi atau restrukturisasi lainnya dapat berjalan efektif. Meeting Results dari diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya transparansi dalam setiap pengambilan keputusan.

Analisis Mendalam Situasi Internal BUMD

Pemetaan mendalam terhadap situasi internal BUMD tersebut, lanjut Jajang, mencakup pemeriksaan nilai aset, total penyertaan modal, struktur kepemilikan saham, hingga performa finansial mutakhir. Proses pemetaan ini dilakukan secara komprehensif untuk mendapatkan gambaran yang akurat tentang kondisi sebenarnya dari perusahaan. Setiap aspek dievaluasi dengan cermat untuk memastikan tidak ada informasi yang terlewatkan.

Apalagi, problem operasional masih membayangi perusahaan ini secara nyata. Angka pendapatan tahunan yang belum mampu menutup beban operasional membuat perusahaan harus menanggung defisit di kisaran Rp3 miliar per tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa PT Jasa Sarana masih memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak terkait untuk melakukan perbaikan fundamental. Meeting Results dari rapat kerja ini menjadi dasar bagi langkah-langkah selanjutnya.

"Berdasarkan hasil evaluasi, kondisi keuangan PT Jasa Sarana memerlukan perhatian serius. Aset perusahaan yang sebelumnya bernilai lebih dari Rp1 triliun kini diperkirakan tersisa sekitar Rp500 miliar. Di sisi lain, perusahaan juga masih memiliki kewajiban utang sekitar Rp170 hingga Rp180 miliar sehingga nilai bersih aset yang dimiliki diperkirakan berada pada kisaran Rp400 miliar," ucap Jajang.

Penurunan nilai aset dari lebih dari Rp1 triliun menjadi sekitar Rp500 miliar mencerminkan tantangan besar yang dihadapi perusahaan. Dengan adanya kewajiban utang sebesar Rp170 hingga Rp180 miliar, maka nilai bersih aset yang dimiliki diperkirakan berada pada kisaran Rp400 miliar. Angka-angka ini menjadi dasar bagi Komisi III untuk mendorong langkah-langkah konkret dalam restrukturisasi keuangan perusahaan.

Langkah penjualan aset pasif dinilai sebagai solusi jangka menengah yang dapat membantu perusahaan mengurangi beban operasional sekaligus mendapatkan dana segar untuk investasi di sektor-sektor yang lebih menguntungkan. Dengan kombinasi antara optimalisasi aset, perbaikan tata kelola, dan fokus pada bisnis inti, PT Jasa Sarana diharapkan dapat kembali menjadi entitas yang sehat secara finansial dan mampu memberikan kontribusi maksimal bagi pembangunan di Jawa Barat. Meeting Results dari pertemuan ini diharapkan dapat menjadi titik awal transformasi yang berkelanjutan bagi perusahaan.