DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Mobilitas Sosial Rapuh – Kelas Menengah Kian Turun di Indonesia

Published Juni 13, 2026 · Updated Juni 13, 2026 · By Joko Setiawan

Mobilitas Sosial Rapuh, Kelas Menengah Kian Turun di Indonesia

Mobilitas Sosial Rapuh - Banyak warga Indonesia berhasil keluar dari kondisi miskin, namun tetap menghadapi tantangan dalam mempertahankan status sosial mereka. Meski peningkatan jumlah penduduk yang masuk ke kategori calon kelas menengah terus terjadi, banyak dari mereka masih mengalami ketidakstabilan ekonomi, pekerjaan yang berubah-ubah, serta tekanan akibat biaya kehidupan yang tinggi. Fenomena ini menurut Profesor Indera Ratna Irawati Pattinasarany, M.A., menggambarkan adanya insecure mobility, yaitu proses perpindahan sosial yang terjadi, tetapi tidak diiringi oleh keamanan ekonomi yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Paradoks di Balik Kemajuan Sosial

Dalam wawancara terkait isu mobilitas sosial, Ira, sebutan akrab Prof. Pattinasarany, menjelaskan bahwa pergeseran posisi sosial sering kali terasa positif, namun keberhasilannya tidak selalu mencerminkan kualitas perubahan yang dialami masyarakat. "Masyarakat tampak maju, tetapi tetap hidup dalam kecemasan," ujarnya. Fenomena ini terjadi karena keamanan ekonomi tidak bisa dijaga, sehingga pindah ke kelas menengah tidak terasa permanen.

"Keberhasilan pembangunan harus dilihat bukan hanya dari seberapa jauh masyarakat mampu bergerak naik, tetapi juga dari apakah mereka dapat mempertahankan posisi dan hasil mobilitas tersebut dengan aman dan dalam jangka panjang,"

Dia menekankan bahwa mobilitas sosial yang rapuh bisa menyebabkan masyarakat kembali ke kondisi yang sama atau bahkan terpuruk lebih jauh. Misalnya, seseorang mungkin naik ke kelas menengah karena memiliki pekerjaan tetap, tetapi jika pendapatan tidak stabil atau biaya hidup meningkat, risiko untuk kembali ke kondisi kehidupan yang sulit semakin besar. Ira menambahkan bahwa situasi ini menunjukkan adanya paradoks yang menyedot perhatian, di mana kemajuan ekonomi terlihat, tetapi kualitas kehidupan tidak meningkat secara signifikan.

Data BPS: Penurunan Kelas Menengah yang Menyedot Perhatian

Menurut data yang diungkapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia mengalami penurunan signifikan. Pada 2019, kategori tersebut mencakup 57 juta orang atau 21,4 persen dari total populasi. Namun, hingga 2024, angka tersebut turun menjadi 48 juta jiwa atau 17,1 persen. Sebaliknya, jumlah penduduk yang berada di kategori calon kelas menengah justru meningkat.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun banyak orang memperoleh kesempatan untuk berpindah ke kelas menengah, keberhasilan tersebut tidak selalu berkelanjutan. Ira mengungkapkan bahwa pola ini memperlihatkan betapa rapuhnya struktur mobilitas sosial di Indonesia. "Mobilitas yang terjadi tidak cukup untuk menciptakan perubahan yang stabil," katanya. Faktor utama penyebabnya, menurutnya, adalah ketidakseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan peningkatan biaya hidup.

"Mobilitas tanpa rasa aman akan melahirkan paradoks, seperti masyarakat tampak maju, tetapi tetap hidup dalam kecemasan,"

Situasi ini terutama terasa di tengah tantangan ekonomi global, inflasi yang terus meluas, dan ketidakstabilan pasar tenaga kerja. Ira menyoroti bahwa kelas menengah, yang seharusnya menjadi pilar perekonomian, justru menjadi korban perubahan yang tidak merata. Jumlah penduduk yang berada di kategori ekonomi rendah dan menengah ke bawah semakin bertambah, sementara jumlah penduduk kelas menengah atas stagnan atau menurun.

Imbas pada Struktur Sosial dan Ekonomi

Mobilisasi sosial yang rapuh berdampak luas pada struktur sosial dan ekonomi nasional. Kehilangan keamanan ekonomi membuat masyarakat sulit untuk menyimpan tabungan, meningkatkan ketergantungan pada penghasilan bulanan, dan memperbesar risiko kemiskinan kembali. Ira menegaskan bahwa hal ini mengancam kemajuan yang telah dicapai selama beberapa tahun terakhir.

Kelompok calon kelas menengah, yang sebelumnya terus bertumbuh, sekarang menjadi sumber perhatian utama. Banyak dari mereka masih menghadapi hambatan dalam meraih stabilitas, seperti kesulitan memperoleh pendidikan yang memadai atau akses ke layanan kesehatan yang terjangkau. Kondisi ini menciptakan siklus yang sulit diubah, di mana peningkatan status sosial hanya bersifat sementara dan rentan terhadap guncangan.

Menurut Ira, fokus pembangunan ekonomi saat ini terlalu banyak pada peningkatan jumlah penduduk yang masuk ke kelas menengah, tanpa memperhatikan kualitas perpindahan tersebut. "Pembangunan harus diukur dengan kemampuan masyarakat untuk bertahan di posisi yang dicapai," katanya. Kehilangan keamanan ekonomi bisa menghentikan proses ini, sehingga kelas menengah tidak lagi menjadi tempat yang stabil untuk berkembang.

Perlu Strategi yang Lebih Berkelanjutan

Dalam wawancara, Ira juga menyarankan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah lebih strategis untuk memperkuat mobilitas sosial. Hal ini mencakup upaya memperbaiki sistem pendidikan, melindungi pekerjaan tetap, serta mengelola inflasi agar tidak melebihi daya beli masyarakat. "Tanpa keamanan, mobilitas tidak bisa menjadi jalan keluar yang efektif," tegasnya.

Penurunan kelas menengah juga memberikan gambaran tentang ketimpangan dalam distribusi pendapatan. Meski angka kemiskinan menurun, pengalaman hidup masyarakat kelas menengah justru menjadi lebih rentan. Ira menjelaskan bahwa ini bisa terjadi karena pertumbuhan ekonomi tidak merata, serta adanya kebijakan yang tidak memperhatikan kebutuhan kelompok menengah.

Sebagai contoh, pengurangan subsidi atau kenaikan harga kebutuhan pokok bisa membuat masyarakat yang sebelumnya berada di kelas menengah kembali ke kategori yang lebih rendah. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh kebijakan yang memastikan adanya kestabilan untuk semua lapisan masyarakat. "Pertumbuhan ekonomi yang cepat tetapi tidak seimbang justru menggerus kelas menengah," imbuhnya.

Kondisi ini mengingatkan bahwa mobilitas sosial bukan hanya tentang kenaikan status, tetapi juga tentang konsolidasi hasil tersebut. Ira berharap ada perubahan paradigma dalam pengukuran keberhasilan pembangunan, di mana kualitas kehidupan dan daya tahan ekonomi menjadi faktor penting. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya bisa naik ke kelas menengah, tetapi juga bisa bertahan di situasi yang lebih baik.