DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: KANG ILING Jadi Andalan CSR Pertamina, Komut Pertamina: Mampu Bangun Kemandirian Warga

Published Juli 5, 2026 · Updated Juli 5, 2026 · By Fitri Setiawan

KANG ILING Jadi Andalan CSR Pertamina, Komut Pertamina: Mampu Bangun Kemandirian Warga

New Policy - PIKIRAN RAKYAT– Pada Rabu, 1 Juli 2026, Mochamad Iriawan, Komisaris Utama Pertamina (Persero), melakukan inspeksi langsung terhadap pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) KANG ILING di Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda, Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Sidoarjo. Program ini dianggap sebagai salah satu inisiatif utama dalam upaya Pertamina mendorong keberlanjutan ekonomi lokal melalui pemanfaatan limbah. KANG ILING, singkatan dari Kalanganyar Circular Living Initiative, menjadi contoh nyata dari inovasi sosial yang menggabungkan isu lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, Komut Pertamina mengapresiasi peran program KANG ILING dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa inisiatif ini tidak hanya mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi warga setempat. "KANG ILING adalah bukti nyata bahwa Pertamina mampu berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan yang berkelanjutan," ujarnya.

"KANG ILING menunjukkan bagaimana Pertamina tidak hanya fokus pada operasional bisnis, tetapi juga menjadi mitra dalam mengubah masalah lingkungan menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan," imbuh Iriawan.

Program KANG ILING mengintegrasikan prinsip ekonomi sirkular dalam upaya mengelola limbah, khususnya cabut duri ikan bandeng dan minyak jelantah. Dengan pendekatan ini, Pertamina mengajak warga untuk berpartisipasi dalam mengubah bahan-bahan yang sebelumnya dianggap sebagai sampah menjadi produk bernilai ekonomi. Proses pengolahan limbah ini melibatkan komunitas lokal, termasuk perempuan mantan buruh tambak, UMKM, dan kelompok masyarakat lainnya, dalam menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan produktif.

Kang Iling diterapkan sebagai bagian dari CSR Pertamina, yang memiliki visi membangun masyarakat sekitar melalui kegiatan ekonomi berkelanjutan. Iriawan menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan ekonomi warga, terutama di wilayah pesisir yang rentan terhadap perubahan lingkungan. "Dengan memanfaatkan limbah yang ada, Pertamina membantu warga menciptakan pendapatan tambahan sambil menjaga kelestarian alam," tambahnya.

Ekonomi sirkular yang menjadi inti KANG ILING melibatkan tiga tahap utama: pengumpulan limbah, pengolahan, dan pemanfaatan. Limbah cabut duri ikan bandeng, yang biasanya dibuang ke sungai atau lahan pertanian, diubah menjadi bahan baku produk seperti sabun dan lilin. Sementara itu, minyak jelantah yang seringkali mencemari lingkungan diolah menjadi bahan bakar bio, yang digunakan untuk keperluan lokal seperti lampu jalan atau mesin pertanian. Iriawan menyoroti bahwa seluruh proses ini dilakukan secara bersamaan dengan pengawasan teknis dari Pertamina, sehingga memastikan kualitas produk dan keberlanjutan hasil.

Dalam wawancara tambahan, Iriawan menjelaskan bahwa keberhasilan KANG ILING tidak hanya diukur dari jumlah produk yang dihasilkan, tetapi juga dari perubahan perilaku masyarakat. "Ini adalah program yang mengubah pola pikir warga. Mereka belajar bahwa sampah bisa menjadi sumber penghasilan, sekaligus menjaga lingkungan," katanya. Dengan pendekatan ini, Pertamina berharap mampu menginspirasi komunitas lain di Indonesia untuk menerapkan model serupa.

KANG ILING juga memberikan dampak positif pada ekosistem lokal. Selain mengurangi polusi, program ini membuka ruang bagi usaha kecil dan menengah (UKM) serta koperasi yang bergerak di bidang daur ulang. "Kami bekerja sama dengan perempuan mantan buruh tambak, karena mereka memiliki keahlian khusus dalam pengolahan bahan-bahan alam," ujar Iriawan. Dengan adanya pelatihan dan akses bahan baku, para pelaku usaha ini mampu mengembangkan keterampilan baru, yang sebelumnya belum dimiliki.

Salah satu produk unggulan dari KANG ILING adalah Bio-Band, yang merupakan solusi pemurnian minyak jelantah. Produk ini dikembangkan sebagai alternatif untuk mengurangi dampak negatif minyak bekas pada lingkungan. Bio-Band tidak hanya dapat digunakan sebagai bahan bakar, tetapi juga dijual sebagai produk pembersih yang ramah lingkungan. Iriawan menegaskan bahwa Bio-Band telah mendapat sambutan baik dari masyarakat, terutama karena kemudahan penggunaannya dan manfaat ekonomi yang signifikan.

Kelompok masyarakat yang terlibat dalam program ini juga diberikan akses ke teknologi pengolahan limbah terkini. Hal ini memastikan bahwa proses daur ulang tidak hanya efisien, tetapi juga aman bagi kesehatan lingkungan. "Kami memastikan bahwa semua produk yang dihasilkan sesuai dengan standar kebersihan dan keamanan," jelas Iriawan. Dengan demikian, KANG ILING bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menjamin kualitas hasil akhir.

Dalam menjalankan program TJSL, Pertamina menggandeng berbagai pihak, termasuk masyarakat setempat, lembaga daerah, dan organisasi nirlaba. "Kolaborasi ini mempercepat proses pemberdayaan, karena semua pihak saling mendukung dan berbagi keahlian," kata Iriawan. Ia menambahkan bahwa KANG ILING menjadi contoh yang bisa diadopsi di daerah lain, terutama di mana sumber daya alam dan limbah lokal dapat dimanfaatkan secara optimal.

Implementasi KANG ILING di Kalanganyar telah menunjukkan perubahan nyata. Selain menurunkan tingkat polusi air dan tanah, program ini meningkatkan kemandirian ekonomi warga. Iriawan berharap inisiatif serupa bisa diperluas ke wilayah lain di Indonesia. "Kami ingin menjadi bagian dari solusi nasional untuk menangani masalah lingkungan sekaligus menciptakan lapangan kerja," tutupnya.

Dengan pendekatan yang holistik, KANG ILING menunjukkan bahwa CSR Pertamina bukan hanya tentang donasi, tetapi juga tentang membangun kapasitas masyarakat untuk mengelola sumber daya mereka sendiri. Program ini menjadi bukti bahwa keberlanjutan ekonomi dan lingkungan bisa saling melengkapi, serta mampu menjadi penggerak perubahan di tingkat masyarakat lokal.