DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pemkab Bandung Barat Telat Bergerak Usai Penderitaan Warga Memuncak Imbas Nyamuk Eceng Gondok

Published Juni 29, 2026 · Updated Juni 29, 2026 · By Rafi Hakim

Pemkab Bandung Barat Terlambat Beraksi Setelah Penderitaan Warga Meningkat Akibat Nyamuk Eceng Gondok

Kumpulan Eceng Gondok yang Menggenang

Pemkab Bandung Barat Telat Bergerak Usai - Pemkab Bandung Barat (KBB) akhirnya memulai upaya pembersihan kumpulan eceng gondok yang menumpuk di kawasan Jembatan Ciminyak, Kecamatan Cililin, Jawa Barat, pada Senin, 29 Juni 2026. Langkah ini diambil setelah keluhan warga terkait serangan nyamuk yang memicu ketidaknyamanan sepanjang beberapa minggu terakhir. Sejumlah elemen, termasuk Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Satgas Citarum, terlibat dalam operasi pembersihan tersebut. Meski demikian, warga menganggap tindakan pemerintah masih terlambat.

Eceng gondok, yang sebelumnya menjadi sumber penderitaan sejak bertahun-tahun, kembali memuncak karena memperparah masalah kesehatan masyarakat. Hutan eceng gondok yang tergenang air di area tersebut menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak. Akibatnya, populasi nyamuk meningkat drastis, dengan serangan yang terjadi setiap sore hingga malam hari. Permukiman sekitar kawasan menjadi rentan serangan, terutama di daerah yang terkena aliran air.

Keluhan Warga yang Meningkat

Sejumlah warga menilai keberadaan eceng gondok telah mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. Salah satu perwakilan warga, Ibu Odin (63), dari Kampung Cipeleum, Desa Rancapanggung, menyampaikan bahwa nyamuk ini sangat sulit diusir. Ia menilai penggunaan obat nyamuk bakar tidak efektif, sementara obat oles seperti Autan hanya memberikan sedikit peningkatan.

"Nyamuk darieceng gondok ini tidak mempan diusir dengan obat nyamuk bakar. Yang sedikit membantu hanya obat nyamuk oles seperti Autan," ujar Ibu Odin saat ditemui di lokasi usaha miliknya.

Keluhan tersebut disertai dengan keluhan fisik yang nyata. Ibu Odin menjelaskan bahwa gigitan nyamuk terasa sangat perih, panas, dan meninggalkan bekas hitam menyerupai koreng pada kulit. Meski belum muncul kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), serangan nyamuk dinilai sudah menciptakan rasa resah di masyarakat.

"Kalau menyerang jumlahnya sangat banyak. Dari badan, muka, bahkan sampai masuk ke hidung. Ada yang warnanya cokelat, hitam pekat, dan ada juga yang belang," katanya.

Berdasarkan pengamatan, kondisi ini telah berlangsung sejak dua tahun terakhir. Meski sebelumnya pernah ada upaya pembersihan, langkah tersebut hanya bersifat sementara. Eceng gondok kembali tumbuh dan menumpuk, sehingga serangan nyamuk tak kunjung berhenti. Ibu Odin menyebutkan bahwa aktivitas sehari-hari, termasuk salat tarawih, terganggu karena keberadaan nyamuk yang sangat menggangu.

Upaya Pemkab dan Keterlibatan Pemangku Kepentingan

Seiring meningkatnya keluhan, Pemkab Bandung Barat akhirnya melakukan tindakan bersama dengan beberapa pihak yang terlibat. Forkopimda, Satgas Citarum, serta sejumlah organisasi masyarakat turut andil dalam usaha mengatasi penumpukan eceng gondok. Namun, sejumlah warga mengkritik bahwa keberhasilan ini belum terasa signifikan.

Masalah eceng gondok di KBB bukanlah hal baru. Sejak lama, kawasan Jembatan Ciminyak menjadi sumber penggangguan nyamuk, terutama selama musim hujan. Pemkab sendiri sudah beberapa kali melakukan pembersihan, tetapi tanpa hasil permanen. Nyamuk terus berkembang biak, dan populasi mereka meningkat hingga menciptakan ancaman kesehatan yang nyata.

Menurut seorang warga lainnya, keberadaan eceng gondok di sekitar permukiman seolah menjadi fenomena alami. Meski upaya pemerintah untuk mengelola masalah ini telah dimulai, ia menilai upaya tersebut masih kurang intensif. "Sejak Ramadan lalu sampai sekarang, nyamuk terus menyerang. Saat salat tarawih pun, jamaah sangat terganggu karena banyaknya nyamuk," tambahnya.

Peran Sosial dan Pemangku Kepentingan

Pemkab Bandung Barat juga menggandeng pemangku kepentingan untuk memastikan keberlanjutan pembersihan. Komunitas lokal, organisasi kebersihan, serta beberapa kelompok warga aktif turut serta dalam program ini. Namun, sejumlah masyarakat masih merasa bahwa tanggung jawab utama jatuh kepada pemerintah. Mereka menilai keberhasilan program ini bergantung pada keberlanjutan upaya dari pihak berwenang.

Dari laporan warga, eceng gondok mulai menumpuk kembali setelah masa pembersihan berakhir. Ini mengingatkan bahwa masalah ini membutuhkan strategi jangka panjang. Selain itu, perlu adanya koordinasi yang lebih baik antara pemerintah, warga, dan pihak terkait agar upaya pembersihan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Tidak hanya itu, edukasi mengenai cara mengendalikan eceng gondok dan penggunaan obat nyamuk secara tepat juga dinilai penting.

Selain mengganggu kenyamanan, nyamuk eceng gondok juga berpotensi menyebarkan penyakit lain. Meski saat ini belum terdokumentasi kasus DBD, upaya pencegahan sejak dini sangatlah diperlukan. Pemkab Bandung Barat diharapkan dapat mengambil langkah lebih tegas, seperti melakukan pembersihan rutin dan memperbaiki infrastruktur drainase, untuk mencegah penumpukan eceng gondok di masa depan.

Langkah Selanjutnya

Keluhan warga terus mengalir, dengan harapan bahwa tindakan pemerintah dapat lebih cepat dan efektif. Ibu Odin menegaskan bahwa pengendalian nyamuk tidak bisa ditunda-tunda. "Kita butuh solusi yang lebih baik, karena nyamuk ini telah mengganggu kehidupan sehari-hari selama lama," tuturnya.

Sejumlah warga juga mengusulkan perlu adanya inspeksi berkala dan pemeriksaan rutin di wilayah rawan eceng gondok. Dengan sistem pengawasan yang lebih ketat, mereka percaya penumpukan eceng gondok bisa diminimalkan. Tidak hanya itu, kesadaran masyarakat dalam mengelola lingkungan sekitar juga dianggap penting untuk mengurangi risiko serangan nyamuk. Pemkab Bandung Barat diharapkan dapat memperkuat program ini agar warga tidak lagi merasa terganggu akibat nyamuk yang menjadi ancaman setiap hari.