DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pertamax Makin Mahal – Mahasiswa dan Pekerja Pilih Pertalite

Published Juni 15, 2026 · Updated Juni 15, 2026 · By Sari Purnama

Pertamax Meningkat Signifikan, Mahasiswa dan Pekerja Pilih Pertalite

Pertamax Makin Mahal - Beberapa hari setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, masyarakat di Kota Tasikmalaya mulai mengalami perubahan dalam pilihan bahan bakar. Pengguna kendaraan pribadi yang sebelumnya mengandalkan Pertamax kini mencari alternatif lebih murah, terutama di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat. Harga Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter menjadi alasan utama bagi sejumlah pengendara untuk beralih ke Pertalite, yang kini terjangkau lebih baik.

Perubahan Penggunaan BBM di SPBU Kota Tasikmalaya

Dari pengamatan di sejumlah pom bensin (SPBU) di Kota Tasikmalaya, perpindahan konsumen ke Pertalite mulai terlihat jelas. Beberapa pengendara yang dulu rutin mengisi Pertamax sekarang memprioritaskan Pertalite karena selisih harga yang signifikan. Hal ini terutama terjadi di kalangan masyarakat yang rentan terhadap fluktuasi biaya, seperti mahasiswa dan pekerja harian. Kenaikan harga Pertamax menimbulkan beban tambahan, terutama bagi mereka yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk mobilitas sehari-hari.

"Kalau saya terus pakai Pertamax, uang saya bisa habis dalam sekejap, kang. Belum lagi kebutuhan sehari-hari yang terus bertambah," ujar Ely Nur Lathifah, mahasiswa Universitas Bakti Tunas Husada, saat ditemui di SPBU Jalan SL Tobing, Minggu, 14 Juni 2026.

Ely menjelaskan bahwa sebelumnya ia cukup sering mengisi Pertamax karena dinilai lebih sesuai dengan jenis kendaraannya. Namun, dengan kenaikan harga yang terjadi, ia memutuskan untuk beralih ke Pertalite sebagai pilihan yang lebih ekonomis. "Kalau dihitung dalam sebulan, selisih harganya cukup besar. Uang yang bisa dipakai untuk makan atau keperluan kuliah jadi lebih banyak," tambahnya.

Dampak pada Mobilitas Mahasiswa

Menurut Ely, kenaikan harga BBM nonsubsidi berdampak langsung pada kebutuhan sehari-hari mahasiswa, yang sering mengandalkan kendaraan pribadi untuk berbagai aktivitas. Selain pergi ke kampus, kendaraan juga digunakan untuk mengikuti kegiatan organisasi, praktik lapangan, atau menghadiri acara keluarga. "Hampir setiap hari saya harus menggunakannya, jadi perubahan ini sangat terasa," katanya.

Perpindahan ke Pertalite bukan hanya sekadar penghematan biaya, tapi juga upaya untuk mengurangi beban finansial yang terus bertambah. Ely menuturkan bahwa harga Pertamax yang kini mencapai Rp16.000 per liter membuatnya sulit menyesuaikan pengeluaran. "Kalau tetap pakai Pertamax, uang saya bisa habis lebih cepat," jelasnya. Ia berharap pemerintah bisa memperhatikan dampak kenaikan harga BBM terhadap masyarakat, terutama kelompok pelajar dan mahasiswa yang masih bergantung pada dukungan keuangan keluarga.

Kenaikan harga Pertamax juga memengaruhi kebiasaan penggunaan BBM di kalangan pekerja. Banyak pekerja yang sebelumnya mengisi Pertamax untuk kebutuhan perjalanan harian kini beralih ke Pertalite karena harga yang lebih terjangkau. Perubahan ini menunjukkan respons masyarakat terhadap kebijakan harga BBM yang dianggap terlalu tinggi. Namun, ada juga pengendara yang masih mempertahankan penggunaan Pertamax, terutama jika kendaraannya membutuhkan bahan bakar premium.

Analisis Ekonomi dan Harapan Masyarakat

Kenaikan harga Pertamax menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas kebijakan subsidi BBM. Meski pertalite lebih murah, ada risiko bahwa penggunaan bahan bakar ini bisa mengurangi kualitas performa kendaraan, terutama untuk mesin yang membutuhkan bahan bakar berkualitas tinggi. Namun, bagi sebagian besar masyarakat, kebutuhan akan penghematan biaya lebih mendesak daripada pertimbangan teknis.

Mahasiswa seperti Ely menganggap Pertalite sebagai solusi sementara untuk mengatasi kenaikan biaya hidup. Mereka berharap pemerintah dapat mengevaluasi kenaikan harga BBM nonsubsidi agar tidak terlalu berat bagi kelompok yang masih dalam masa belajar. "Saya juga berharap ada penyesuaian harga BBM untuk masyarakat biasa, bukan hanya untuk pengguna premium," ujarnya.

Dari sisi ekonomi, kenaikan harga Pertamax menunjukkan bahwa biaya transportasi yang murah menjadi kebutuhan utama bagi sebagian besar masyarakat. Dengan Pertalite, pengguna bisa menghemat sekitar Rp1.000 per liter, yang secara kumulatif bisa mengurangi beban keuangan. Namun, ada juga pertimbangan lain, seperti efisiensi bahan bakar dan keandalan kendaraan. Ely menyebutkan bahwa meskipun Pertalite lebih murah, ia masih memantau efeknya terhadap kinerja mobil yang digunakan.

Perubahan ini juga mencerminkan dinamika pasar BBM di Indonesia. Selain Pertamax dan Pertalite, bahan bakar lain seperti Pertamina Dex dan Solar juga mulai disesuaikan dengan permintaan. Kenaikan harga Pertamax menimbulkan tekanan pada penjualan BBM premium, sementara Pertalite menjadi pilihan yang lebih diminati. Dengan kondisi ini, pemerintah perlu menimbang antara kebijakan subsidi dan harga pasar untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan program subsidi.

Dari survei yang dilakukan di beberapa SPBU, terlihat bahwa jumlah pengguna Pertalite meningkat hampir 20% dibandingkan minggu sebelumnya. Ini menunjukkan adanya respons cepat dari masyarakat terhadap perubahan harga. Meski kenaikan harga Pertamax terjadi secara bertahap, dampaknya sudah terasa nyata, terutama bagi kalangan yang tidak memiliki penghasilan tetap tinggi.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM nonsubsidi menjadi momentum untuk mendorong penggunaan bahan bakar alternatif yang lebih murah. Pemerintah juga perlu memastikan keberlanjutan program subsidi agar tidak mengganggu daya beli masyarakat. Ely berharap kebijakan ini bisa terus diperbaiki, agar kebutuhan sehari-hari seperti transportasi bisa terpenuhi tanpa menguras keuangan keluarga.