DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Profil Astrio Feligent – Jubir Gerindra yang Debat Soal Kepala BGN Eks Wartawan

Published Juni 8, 2026 · Updated Juni 8, 2026 · By Fitri Setiawan

Profil Astrio Feligent, Jubir Gerindra yang Terlibat Perdebatan tentang Kepemimpinan BGN

Profil Astrio Feligent - Sebuah video klip perdebatan di acara Bola Liar KompasTV menjadi viral di media sosial, yang memicu perbincangan mengenai keputusan pemerintahan Prabowo Subianto menunjukkan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Pengelolaan Dana Koperasi (BGN). Dalam tayangan tersebut, Tiyo Ardianto—mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM)—menyoroti kritik terhadap Nanik yang dinilai kurang tepat dalam mengemban tanggung jawab strategis tersebut.

Protes terhadap Gagasan Transformasional Nanik

Menurut Tiyo, pidato pertama Nanik tidak menunjukkan visi transformasional yang jelas. Ia mengatakan bahwa pernyataan Nanik tentang pemberdayaan kantin sekolah setelah 27 ribu Sistem Pengelolaan Perpustakaan Digital (SPPG) terbentuk, menurutnya, sudah terlambat. "Mengapa harus menunggu hingga 27 ribu SPPG berdiri untuk mulai mendorong perubahan?" tanyanya.

“Kompetensinya apa?” tegas Tiyo, saat menekankan bahwa pengangkatan Nanik sebagai kepala BGN dianggap tidak sesuai dengan standar yang seharusnya.

Dalam debat tersebut, Tiyo juga menyebutkan riwayat karier Nanik. Mantan jurnalis itu pernah menjadi bagian dari tim sukses Prabowo di Pemilihan Presiden 2019 sebelum bergabung dengan BGN sebagai Wakil Kepala. Kini, ia diangkat sebagai Kepala BGN, yang menurut Tiyo, mengubah arah fokus dari peran media ke pemerintahan.

Latar Belakang dan Peran Nanik Sudaryati Deyang

Nanik Sudaryati Deyang, yang sebelumnya dikenal sebagai jurnalis berpengaruh, memiliki pengalaman yang cukup luas dalam dunia politik dan pendidikan. Sejak berkiprah di ranah media, ia dianggap mampu menyampaikan informasi secara jelas, tetapi keberadaannya di BGN dikritik karena dinilai belum teruji dalam memimpin sebuah lembaga strategis.

Menurut Tiyo, proyek BGN seperti program pemberdayaan kantin sekolah menjadi kurang berdampak jika tidak didukung oleh kebijakan yang konsisten dan cepat. Ia menyoroti bahwa tanggung jawab besar seperti mengelola dana koperasi tidak bisa hanya dijalankan dengan visi yang terlambat, tetapi juga memerlukan kompetensi yang terbukti. "Loyalitas memang penting, tapi tidak boleh mengabaikan kemampuan seorang pemimpin," ujarnya.

Kritik terhadap Prabowo dan Kepemimpinan Partai

Debat yang terjadi mengungkapkan ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintahan Prabowo di bidang kebijakan koperasi. Tiyo menilai bahwa penunjukan Nanik ke BGN adalah contoh dari kurangnya seleksi yang ketat di tubuh Partai Gerindra. "Kita tidak ingin hanya loyalitas yang menjadi prioritas, tapi juga keahlian dan integritas," lanjutnya.

Menurut Tiyo, tugas BGN sebagai pengelola dana koperasi memerlukan strategi yang matang, terutama dalam membangun sistem koperasi yang inklusif. Kritik ini juga mengarah pada kebijakan Prabowo terkait pendidikan, karena SPPG sendiri menjadi bagian dari program transformasi dalam sistem pendidikan nasional. Tiyo menilai jika Nanik tidak mampu menjalankan tugas ini dengan baik, maka bisa menimbulkan keraguan terhadap kapasitas Gerindra dalam mengelola isu-isu kritis.

Perjalanan Karier Nanik dan Kebutuhan Transparansi

Nanik Sudaryati Deyang, seorang eks jurnalis, telah melewati beberapa tahap kariernya sebelum diangkat sebagai Kepala BGN. Dari jurnalis hingga menjadi anggota tim sukses Prabowo, lalu terlibat dalam BGN, keberadaannya di pemerintahan dinilai memperlihatkan pergeseran fokus dari media ke politik. Tiyo menilai hal ini perlu diimbangi dengan transparansi dan pertanggungjawaban terhadap hasil kerja yang diharapkan.

Debat tentang Nanik juga memicu refleksi terhadap sistem pengangkatan pejabat di partai politik. Tiyo menekankan bahwa jabatan strategis seperti Kepala BGN seharusnya diisi oleh orang yang memiliki pengalaman langsung dalam bisnis atau kebijakan yang relevan. "Jika tidak ada keahlian yang cukup, maka peran kepemimpinan akan kurang efektif," tambahnya.

Impak Kebijakan BGN terhadap Masyarakat

Pengangkatan Nanik ke BGN dianggap sebagai langkah yang mungkin memengaruhi kinerja lembaga tersebut. BGN, sebagai lembaga yang menangani dana koperasi, bertugas mengelola keuangan yang dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya pelaku koperasi. Tiyo menilai bahwa visi Nanik untuk memperkuat kantin sekolah, meski baik, belum mampu memberikan hasil nyata jika tidak diiringi strategi yang tepat.

Sementara itu, banyak pihak mengkritik kebijakan BGN yang dinilai tidak cukup terbuka terhadap masukan luar. Dalam debat tersebut, Tiyo menyoroti bahwa kepemimpinan Nanik perlu dibuktikan melalui kebijakan konkret, bukan hanya rencana yang masih bersifat teori.

Kontroversi dan Apa yang Perlu Dilakukan

Kontroversi terkait pengangkatan Nanik ke BGN terus memanas, dengan banyak pertanyaan terhadap keahlian dan track recordnya. Meski memiliki latar belakang di bidang media, Tiyo menilai Nanik belum terbukti mampu menjadi pemimpin yang efektif dalam memimpin sebuah lembaga nasional. "Masa depan BGN harus diawasi secara ketat agar tidak mengalami kegagalan di tengah tugas utamanya," pungkasnya.

Perdebatan ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem seleksi dan pengawasan di Gerindra. Tiyo menyarankan bahwa partai perlu lebih memperhatikan kemampuan teknis dan kemauan untuk berubah, terlepas dari faktor kekuasaan atau loyalitas. "Jika tidak ada perubahan, maka BGN akan terus menjadi simbol kegagalan," tambahnya.

Kesimpulan dan Tantangan Mendatang