Program Terbaru: Perang Iran Bikin Harga Meledak, Negara Miskin Mulai Tercekik
Perang Iran Picu Lonjakan Harga, Negara Miskin Tercekik Ekonomi
Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran mulai menimbulkan dampak signifikan, terutama bagi negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Gangguan pasokan energi, seperti penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas migas, memicu kenaikan harga yang meluas. Hal ini memberatkan perekonomian Global South, yang banyak bergantung pada impor bahan bakar dan memiliki kapasitas keuangan terbatas.
Kebijakan Darurat di Pakistan
Pakistan, yang mengimpor sekitar 80% kebutuhan energinya, mengambil tindakan ekstra untuk menghemat bahan bakar. Langkah ini mencakup penutupan sekolah, kerja empat hari untuk lembaga pemerintah, serta kebijakan bekerja dari rumah. Perdana Menteri Shehbaz Sharif memutuskan tidak menaikkan harga bensin dan solar menjelang Idul Fitri, dengan menjamin pemerintah akan “menanggung beban” biaya tambahan. Meski subsidi membantu meredam kenaikan harga, risiko tetap besar.
“Kejutan keseluruhannya cukup parah, meskipun belum sepenuhnya terasa oleh konsumen dan industri,” kata S Akbar Zaidi, direktur eksekutif Institute of Business Administration Karachi, seperti dilaporkan Al Jazeera pada Rabu (25/3/2026). “Saya memperkirakan beberapa minggu ke depan akan memperparah situasi setelah gangguan dan faktor harga kembali stabil.”
Dampak Serupa di Bangladesh
Bangladesh juga mengalami tekanan serupa, karena 95% kebutuhan minyaknya berasal dari luar negeri. Wilayah tertentu dilaporkan mengalami kehabisan bahan bakar meski pemerintah telah menerapkan sistem penjatahan. Lonjakan harga energi berpotensi memperburuk krisis ekonomi yang sudah terjadi sejak beberapa tahun.
Langkah Pembatasan di Sri Lanka dan Mesir
Sri Lanka menetapkan hari libur setiap Rabu dan menerapkan sistem tiket bahan bakar untuk mengurangi konsumsi. Negara ini masih dalam pemulihan dari krisis ekonomi sejak 2019. Di Mesir, pemerintah membatasi operasional pusat perbelanjaan dan kafe, serta mengurangi penerangan publik. Pada 10 Maret, harga bahan bakar dinaikkan 15% hingga 22% untuk mengurangi beban subsidi. Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menyebut kebijakan ini sebagai langkah tak terhindarkan.
“Tanpa penyesuaian, negara bisa menghadapi konsekuensi lebih keras dan berbahaya,” ujarnya.
Depresiasi Mata Uang Memicu Tekanan Ekonomi
Depresiasi mata uang di banyak negara berkembang memperparah situasi. Penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian global meningkatkan biaya impor, termasuk energi, secara tajam. Lonjakan harga energi juga berpotensi mendorong inflasi pangan, terutama di wilayah yang sangat bergantung pada diesel untuk transportasi dan pertanian.
Peringatan tentang Inflasi Pangan
Peneliti dari Institute of Sustainable Development Policy di Islamabad, Khalid Waleed, mengkhawatirkan efek domino yang akan terjadi. “Biaya truk sudah mulai naik, dan ini akan memengaruhi segala hal, mulai dari tepung hingga pupuk dalam beberapa minggu mendatang,” katanya. Jika harga diesel tetap tinggi hingga musim panen April-Mei, Pakistan berisiko mengalami kenaikan inflasi pangan yang signifikan.
Dalam kondisi konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, para ahli memperkirakan tekanan ekonomi di negara-negara berkembang akan terus memburuk sebelum akhirnya membaik.

