Rencana Khusus: China Tiba-tiba Ngamuk ke Iran, Kecam Keras Teheran Soal Ini
China Tiba-Tiba Mengkritik Iran, Tegaskan Kecemasan Terhadap Kestabilan Wilayah Teluk
Jakarta, CNBC Indonesia – Dalam langkah yang mengejutkan, Kementerian Luar Negeri Tiongkok meningkatkan intensitas kritiknya terhadap serangan yang menargetkan kapal komersial, terutama di Selat Hormuz. Jalur strategis ini menjadi saluran utama bagi seperempat pasokan minyak mentah yang berlayar melalui sistem perdagangan laut global, saat ini terancam oleh eskalasi konflik. Juru bicara kementerian tersebut, Guo Jiakun, mengungkapkan posisi tegas Beijing terkait kawasan Teluk dalam konferensi pers mingguan pada Jumat, 13 Maret 2026. Langkah ini terkait dengan meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran internasional.
“Tiongkok menentang serangan terhadap negara-negara Teluk dan mengecam semua tindakan yang menimpa warga sipil serta target non-militer,” ujar Guo dalam pernyataan yang dikutip Newsweek. Ia tidak menyebutkan secara langsung bahwa Iran menjadi pihak yang diserang.
Pernyataan Guo menggambarkan perubahan retorika Beijing terhadap Teheran, yang kini dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei. Mojtaba menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan pada 28 Februari lalu saat negosiasi program nuklir sedang berlangsung. Sebelumnya, Tiongkok adalah mitra diplomatik utama serta pembeli minyak mentah Iran.
Kini, Beijing mulai menunjukkan kekhawatiran lebih dalam terhadap konflik yang meluas, termasuk serangan rudal dan drone Iran terhadap negara-negara tetangga, serta upaya Teheran mengunci Selat Hormuz. Guo mendesak agar semua pihak berhenti menambah eskalasi demi menjaga keamanan pasokan energi global. “Semua pihak harus segera mengakhiri operasi militer, mencegah konflik membesar, dan kembali ke dialog serta negosiasi,” tambahnya.
Konflik Memanas, Tiongkok Jaga Keseimbangan Dalam Hubungan Regional
Meski mengutuk serangan AS dan Israel yang sebelumnya mengakibatkan lebih dari 1.300 korban, termasuk 160 orang dalam serangan terhadap sekolah di Minab, Tiongkok kini lebih kritis terhadap tindakan militer Iran. Pernyataan Guo menunjukkan pergeseran dari kebijakan luar negeri yang selama ini memihak Iran, seiring ancaman blokade Selat Hormuz yang makin terasa.
Hingga saat ini, Iran dianggap bertanggung jawab atas setidaknya 18 serangan terhadap kapal sipil di wilayah Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman, menurut data Institute for the Study of War. Pekan ini, beberapa kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal, sementara kapal bunuh diri dengan muatan bom terus mengancam keamanan pelayaran.
“Selat Hormuz dalam kondisi yang luar biasa, dan Iran memang memiliki rudal, tapi tidak terlalu banyak,” kata Presiden AS Donald Trump kepada wartawan Rabu lalu. Ia meremehkan risiko terhadap jalur perdagangan internasional.
Korps Garda Revolusi Iran, di sisi lain, menyuarakan ancaman balasan yang tajam. Mereka bersumpah akan menghentikan akses navigasi di jalur strategis tersebut. “Kami tidak akan membiarkan satu liter minyak pun melewati selat yang menguntungkan AS, Israel, atau sekutu mereka,” tegas pihak Garda Revolusi.
Analisis Kebijakan Tiongkok: Memainkan Peran Global Dengan Strategi Terukur
Evan Feigenbaum, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS era George W. Bush, menilai bahwa China sedang mengambil peran global dengan kebijakan yang lebih terukur. Menurut Feigenbaum, Beijing tidak sepenuhnya memihak Iran jika tindakan tersebut merugikan hubungan regional lainnya. “Tiongkok memiliki portofolio mitra dan kepentingan yang terdiversifikasi, sehingga tidak menaruh semua telurnya dalam keranjang Iran,” tulisnya di media sosial X.
Feigenbaum juga menyoroti bahwa kecaman Tiongkok terhadap Iran dibuat secara umum, namun memiliki pesan tersirat untuk mengingatkan Teheran. Dengan langkah ini, Beijing mencoba menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

