DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Respons Fenomena Harga Pertalite di Kios Capai Rp14 Ribu – DiskopUKMDag Lampung Barat Terjunkan Tim

Published Juni 25, 2026 · Updated Juni 25, 2026 · By Fitri Setiawan

Respons Fenomena Harga Pertalite di Kios Capai Rp14 Ribu, DiskopUKMDag Lampung Barat Terjunkan Tim

Respons Fenomena Harga Pertalite di Kios - Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah (UKM), dan Perdagangan (DiskopUKMDag) Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, telah mengambil langkah konkret dengan mengirimkan tim investigasi ke berbagai lokasi untuk menanggapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi Pertalite yang mencapai Rp14.000 per liter di sejumlah kios pengecer. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap adanya perubahan harga yang signifikan di tingkat penjualan eceran, terutama di wilayah Lampung Barat, yang tercatat mencapai angka Rp15.000 per liter untuk jenis Pertalite beroktan 90. Peningkatan ini menciptakan perbedaan harga sebesar 50 persen dibandingkan dengan harga yang berlaku di SPBU.

Pantauan terbaru pada Rabu (24/6) lalu menunjukkan adanya kenaikan signifikan harga Pertalite di sejumlah kios pengecer di Lampung Barat, dengan harga mencapai Rp15.000 per liter untuk bahan bakar beroktan 90. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 50 persen dibandingkan harga yang berlaku di pompa bensin SPBU. Fenomena ini memicu kekhawatiran terhadap efektivitas subsidi yang diberikan pemerintah kepada masyarakat, terutama bagi pengguna kendaraan pribadi yang mengandalkan Pertalite sebagai bahan bakar utama.

Tim yang telah dibentuk oleh DiskopUKMDag Lampung Barat akan melakukan investigasi langsung di lapangan pada hari Kamis (25/6) ini. Tujuan dari penurunan tim ini adalah untuk memastikan adanya kejelasan mengenai penyebab kenaikan harga dan menyelidiki apakah ada indikasi penyimpangan dalam sistem distribusi BBM. Selain itu, tim juga akan memeriksa kepatuhan para pedagang terhadap harga jual yang ditentukan oleh pemerintah. Syafaruddin, Kepala DiskopUKMDag Lampung Barat, menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan untuk memperkuat pengawasan terhadap kegiatan perdagangan BBM di tingkat kios eceran.

"Kenaikan harga Pertalite di kios pengecer menjadi perhatian serius. Kami membentuk tim untuk memastikan adanya kesesuaian dengan harga yang ditetapkan dan melacak penyebabnya," ujar Syafaruddin, Kepala DiskopUKMDag Lampung Barat, dalam wawancara terpisah.

Kenaikan harga BBM bersubsidi ini menjadi sorotan karena dampaknya terhadap pengeluaran masyarakat, khususnya bagi keluarga yang memiliki kendaraan bermotor dan bergantung pada Pertalite. Kenaikan harga mencapai Rp15.000 per liter dibandingkan harga di SPBU, yang semula berada di bawah Rp10.000 per liter. Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas subsidi yang diberikan kepada masyarakat, apakah kebijakan tersebut benar-benar meringankan beban pengguna BBM atau justru memberatkan.

Pemerintah pusat sebelumnya menetapkan harga Pertalite dengan subsidi sebagai salah satu cara untuk mengurangi biaya transportasi dan meningkatkan akses masyarakat terhadap bahan bakar yang lebih terjangkau. Namun, terjadinya peningkatan harga di tingkat pengecer menunjukkan adanya tekanan dari faktor ekonomi lokal, seperti permintaan yang tinggi atau persaingan harga di pasar bebas. Syafaruddin menyatakan bahwa kenaikan ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kelangkaan bahan bakar atau kenaikan biaya pengiriman dari produsen ke pedagang.

DiskopUKMDag Lampung Barat juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan pihak terkait, termasuk perusahaan distribusi dan pemangku kepentingan lainnya, untuk menyelesaikan permasalahan ini secara bersama. Tim yang diterjunkan akan melakukan audit harga, mengumpulkan data dari pedagang, dan membandingkannya dengan harga di SPBU. Selain itu, mereka juga akan memantau keberlanjutan kenaikan harga dan mengambil langkah pencegahan jika diperlukan.

Kejadian ini terjadi setelah sejumlah warga Lampung Barat melaporkan adanya kenaikan harga Pertalite di kios pengecer sejak beberapa minggu terakhir. Beberapa pengguna bahan bakar menyebutkan bahwa harga di kios mulai mendekati atau melebihi harga BBM premium, yang biasanya lebih mahal. Kenaikan ini dinilai berpotensi mengurangi manfaat subsidi yang seharusnya diberikan kepada masyarakat, terutama yang memiliki penghasilan terbatas.

Syafaruddin menegaskan bahwa pihaknya akan segera mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan harga Pertalite di kios. "Kami ingin memastikan bahwa harga di kios pengecer tetap terjangkau, terutama bagi masyarakat umum," katanya. Ia juga menambahkan bahwa tim yang diterjunkan akan menyusun laporan hasil investigasi dan memberikan rekomendasi kebijakan untuk diberikan kepada pemerintah daerah.

Pertalite, sebagai BBM bersubsidi dengan oktan 90, selama ini digunakan oleh sebagian besar masyarakat untuk kendaraan pribadi, terutama mobil. Kenaikan harga di kios pengecer dapat berdampak langsung pada pengeluaran harian, terlebih di wilayah perkotaan yang mengandalkan transportasi umum. Untuk itu, DiskopUKMDag Lampung Barat berharap dapat menemukan solusi yang tepat dalam waktu dekat agar harga Pertalite tetap sesuai dengan harga subsidi yang ditetapkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah terus memperhatikan keberlanjutan subsidi BBM, termasuk Pertalite. Meski harga di SPBU tetap terjangkau, fluktuasi harga di kios pengecer menjadi indikator penting dalam menilai efektivitas kebijakan subsidi. Syafaruddin mengungkapkan bahwa mereka akan terus memantau situasi ini, termasuk mengevaluasi apakah ada kebijakan tambahan yang perlu diambil untuk mengatasi kesenjangan harga.

Kenaikan harga Pertalite di kios pengecer menjadi tantangan baru bagi pemerintah daerah. Dengan adanya tim yang diterjunkan, DiskopUKMDag Lampung Barat berharap dapat memberikan penjelasan yang jelas kepada masyarakat mengenai alasan kenaikan harga dan langkah-langkah yang akan diambil untuk menangani permasalahan ini. Pertalite, yang sebelumnya dijual dengan harga