DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Sambut Usia 5 Abad – Pramono Anung Targetkan Jakarta Bebas Sampah Lewat Ingub Pemilahan dari Sumber

Published Juni 23, 2026 · Updated Juni 23, 2026 · By Hadi Nugroho

Sambut Usia 5 Abad, Pramono Anung Targetkan Jakarta Bebas Sampah Lewat Ingub Pemilahan dari Sumber

Sambut Usia 5 Abad - Dalam rangka memperingati hari jadi Jakarta yang ke-500, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memperkenalkan inisiatif baru untuk menangani masalah sampah di ibu kota negara. Ia ingin memastikan bahwa persoalan limbah tuntas diselesaikan selama masa kepemimpinannya, sebelum momentum perayaan tersebut. "Menjelang lima abad Jakarta, kita tidak boleh mewariskan tantangan sampah kepada generasi mendatang," tegas Pramono dalam sambutan upacara di Monas, Senin (22/6/2026). Ia menekankan pentingnya tindakan proaktif agar Jakarta tetap menjadi kota yang sehat dan berkelanjutan.

“Menjelang lima abad Jakarta, kita tidak boleh mewariskan persoalan sampah kepada generasi berikutnya,” ujar Pramono Anung dalam sambutan upacara HUT Jakarta di Monas, Senin (22/6/2026).

Dalam upacara tersebut, Pramono menjelaskan bahwa penanganan sampah akan menjadi fokus utama dalam upaya mewujudkan Jakarta yang bersih dan berkelanjutan. Ia mengungkapkan rencana untuk meluncurkan Gerakan Pilah Sampah, yang akan dijalankan melalui Instruksi Gubernur (Ingub) No. 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Langkah ini bertujuan menggerakkan partisipasi masyarakat dalam mengelola limbah sejak awal, bukan hanya mengumpulkan sampah di tempat pembuangan akhir.

Kebijakan ini dirancang agar setiap warga Jakarta, baik di lingkungan rumah, sektor swasta, maupun institusi pemerintah, turut serta dalam memilah sampah menjadi kelompok-kelompok yang berbeda, seperti organik, plastik, logam, dan lainnya. Pramono menegaskan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, karena kota besar seperti Jakarta membutuhkan peran aktif dari semua lapisan untuk mencapai kebersihan lingkungan yang optimal.

“Jakarta yang bersih, sehat, dan berkelanjutan hanya dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat,” ujar Pramono. “Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berkomitmen untuk bekerja secara responsif dan adaptif agar masyarakat dapat beraktivitas, sekaligus memastikan kota ini terus melangkah menuju masa depannya,” tambahnya.

Menurut Pramono, Ingub No. 5 Tahun 2026 akan menjadi kerangka kerja yang mengatur langkah-langkah konkrit dalam menekan jumlah sampah yang dihasilkan. Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi beban lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya daur ulang. Ia menekankan bahwa kota metropolitan ini perlu menjadi contoh dalam pengelolaan limbah yang efektif dan ramah lingkungan.

Gerakan pilah sampah ini dianggap sebagai solusi terpadu untuk mengatasi tantangan limbah yang telah lama dihadapi Jakarta. Sampah yang sebelumnya hanya ditangani secara pasif kini akan diprioritaskan untuk dipilah dan didaur ulang sejak di sumber asalnya. Dengan demikian, prinsip ekonomi sirkular bisa diterapkan secara luas, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem.

Pramono juga menyoroti peran pemerintah daerah dalam memberikan dukungan infrastruktur dan kebijakan yang memudahkan masyarakat dalam mengelola sampah. Ia menyebutkan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan teknis, fasilitas pengumpulan, serta penghargaan bagi warga yang aktif dalam menjaga kebersihan. “Kita perlu menciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk hidup, dan Gerakan Pilah Sampah adalah langkah awal untuk mewujudkannya,” kata gubernur yang juga dikenal sebagai tokoh di bidang seni tersebut.

Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, kota ini menghasilkan sekitar 12 ribu ton sampah per hari. Jumlah ini setiap tahun meningkat, terutama akibat pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi yang semakin intens. Dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, Pramono berharap angka tersebut bisa dikurangi secara signifikan. Ia menargetkan bahwa dalam lima tahun ke depan, Jakarta bisa menjadi kota bebas sampah secara total, dengan 90 persen sampah di daur ulang atau didaur biaya.

Pramono menyebutkan bahwa Gerakan Pilah Sampah tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh warga Jakarta. “Kita harus menyadari bahwa sampah bukan hanya masalah lingkungan, tapi juga isu kesehatan dan kualitas hidup,” ujarnya. Ia berharap masyarakat ikut serta dalam menjaga kebersihan kota, baik melalui kebiasaan sehari-hari maupun partisipasi dalam program pemerintah.

Keberhasilan program ini juga akan bergantung pada dukungan dari berbagai sektor, termasuk dunia usaha, organisasi masyarakat, dan lembaga pendidikan. Pramono menjelaskan bahwa pendekatan holistik diperlukan untuk memastikan keberlanjutan program ini. Ia menekankan bahwa tidak cukup hanya memilah sampah, tetapi juga memperkuat sistem pengolahan yang terpadu, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi lingkungan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Pemerintah DKI Jakarta telah melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi warga terkait teknik pemilahan sampah. Program ini diharapkan membangun kebiasaan baru yang akan bertahan sepanjang masa kepemimpinan Pramono. “Kita perlu memberikan alat dan wadah yang memudahkan masyarakat dalam mengelola sampah,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa penanganan sampah harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya kegiatan khusus saat hari jadi Jakarta.

Pramono menegaskan bahwa Ingub No. 5 Tahun 2026 akan menjadi acuan dalam pengelolaan sampah yang lebih sistematis. Kebijakan ini dirancang agar setiap tempat tinggal, sekolah, atau kantor memiliki standar pemilahan sampah yang sama. Ia juga berharap nantinya kota ini bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia, yang juga menghadapi masalah serupa.