Special Plan: 5 Calon Manajer KDMP Meninggal saat Latsarmil, Darmadi: yang Dicari Manajer Bukan Tentara!
5 Calon Manajer KDMP Meninggal Saat Latsarmil, Darmadi: yang Dicari Manajer Bukan Tentara!
Special Plan - Kelima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang tergabung dalam Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) meninggal dunia setelah mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil). Kejadian ini memicu sorotan dari berbagai pihak, khususnya dari kalangan legislatif, yang menilai perlunya evaluasi menyeluruh terhadap metode pelatihan yang diterapkan dalam program tersebut. Darmadi Durianto, anggota Komisi VIDPRRI, mengkritik pendekatan latihan bergaya militer dalam menyiapkan calon manajer koperasi, menurutnya tidak sejalan dengan tujuan utama program.
Kompetensi Manajerial Harus Diprioritaskan
Darmadi menekankan bahwa fungsi utama manajer koperasi adalah mengelola organisasi dan memacu pertumbuhan usaha masyarakat. "Kita yang dicari itu manajer, bukan tentara atau militer. Mereka tidak siap dilatih dengan metode seperti itu. Yang harus diperkuat justru kemampuan manajerialnya," ujar Darmadi kepada wartawan, dikutip Rabu, 1 Juli 2026. Menurutnya, materi pelatihan seharusnya lebih berfokus pada peningkatan kapasitas administratif, kebijakan manajemen, dan kemampuan berpikir kritis, dibandingkan latihan fisik yang menyerupai pendidikan militer.
"Permasalahan itu timbul karena tidak well-planning. Perekrutan puluhan ribu manajer dilakukan dalam waktu singkat, sehingga tentu ada dampaknya dan harus menjadi bahan evaluasi," tambah Darmadi.
SPPI Dirancang untuk Membangun SDM Lokal
Program SPPI sendiri dirancang untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang mampu memimpin operasional koperasi desa dan nelayan. Kehadiran para manajer ini diharapkan mampu menguatkan tata kelola keuangan, mendorong inovasi dalam bisnis, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, keberadaan mereka juga diharapkan menjadi penggerak utama dalam pengembangan ekonomi desa dan sektor perikanan, yang kini masih menghadapi tantangan dalam menciptakan lapangan kerja dan daya saing.
Kelalaian dalam Perencanaan Menyebabkan Risiko
Darmadi menyebutkan bahwa kelima korban meninggal adalah akibat dari proses perencanaan yang tidak optimal. Ia menyoroti bahwa perekrutan calon manajer dalam jumlah besar dilakukan secara tergesa-gesa, sehingga aspek seperti seleksi peserta, pemantauan kesehatan, dan desain pelatihan tidak sempurna. "Sistem seperti ini bisa membahayakan peserta jika tidak dipersiapkan dengan matang, terutama dalam pengaturan aktivitas fisik yang intens," jelasnya.
Pelatihan Militer Tidak Selaras dengan Tujuan Program
Darmadi juga menyoroti ketidaksesuaian antara metode pelatihan militer dengan kompetensi yang dibutuhkan manajer koperasi. Menurutnya, pelatihan ini terkesan mengabaikan aspek strategis dan tata kelola, yang justru menjadi kunci sukses dalam mengelola kelembagaan koperasi. "Manajer koperasi butuh kemampuan berpikir analitis, kemampuan berkomunikasi, serta keahlian dalam manajemen proyek, bukan hanya kebugaran fisik," tegasnya.
Refleksi dari Masyarakat dan Pihak Terkait
Keluhan muncul setelah kejadian ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan peserta program. Masyarakat lokal menilai SPPI seharusnya menjadi platform pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan desa, bukan alat untuk melatih sejumlah besar calon manajer secara seremonial. Darmadi mengingatkan bahwa program nasional skala besar seperti SPPI harus memiliki struktur yang jelas, dengan penyesuaian rencana pelatihan sesuai konteks daerah dan kebutuhan sasaran.
Perlu Penguatan Fasilitas dan Sistem Pendukung
Darmadi menyarankan bahwa kejadian ini bisa menjadi momentum untuk memperbaiki sistem perekrutan dan pelatihan. Ia menekankan pentingnya melibatkan berbagai pihak, termasuk perwakilan desa, akademisi, dan pengusaha lokal, dalam merancang program yang lebih efektif. "Materi pelatihan harus diintegrasikan dengan kebutuhan masyarakat, bukan hanya mengikuti pola militer yang terkesan dipaksakan," ujarnya.
Menurut Darmadi, pelatihan yang baik diharapkan mampu melahirkan manajer koperasi yang mampu mengelola risiko, memperkuat transparansi, dan mempercepat peningkatan ekonomi desa. Ia juga menyoroti bahwa adanya keselarasan antara program dengan kondisi lapangan sangat penting agar pelatihan tidak hanya menjadi formalitas tanpa hasil nyata.
Dampak dari Pelatihan yang Terlalu Intens
Sejumlah pihak menilai bahwa intensitas latihan dalam program SPPI kurang diperhitungkan, terutama dalam menyangkut kesehatan peserta. Darmadi menyebutkan bahwa kondisi fisik peserta yang beragam, terutama mereka yang berasal dari daerah pedesaan, mungkin belum siap mengikuti program yang terlalu berat. "Jika tidak ada penyesuaian, pelatihan seperti ini bisa menimbulkan risiko kesehatan yang lebih besar," imbuhnya.
Di sisi lain, Darmadi menilai bahwa pelatihan militer bisa memberikan nilai tambah jika dilakukan secara seimbang. Namun, saat ini pendekatan ini terasa dominan, sedangkan aspek seperti manajemen keuangan, pemasaran usaha, dan pengambilan keputusan menjadi kurang ditekankan. "Jika peserta diharapkan menjadi penggerak ekonomi, mereka perlu keterampilan mengelola dana, bukan hanya mengejar kebugaran," ujarnya.
Langkah-langkah yang Harus Diambil
Darmadi menyarankan agar pemerintah melakukan tinjauan menyeluruh terhadap seluruh tahapan SPPI, termasuk pengaturan ruang pelatihan, ketersediaan fasilitator, dan pengawasan terhadap kondisi peserta. Ia juga meminta agar perekrutan calon manajer dilakukan dengan lebih hati-hati, mengingat program ini melibatkan puluhan ribu peserta yang tersebar di berbagai daerah. "Setiap tahapan harus dipertimbangkan secara