Special Plan: Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara, Kertajati Terancam jadi Mubazir?
Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara dan Kertajati: Ancaman Mubazir atau Peluang Ekonomi?
Special Plan - Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung, Jawa Barat, serta Bandara Kertajati yang berlokasi di Sumedang, tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan para ahli. Dua bandara ini, yang sebelumnya mengalami penurunan penggunaan, kini dipertimbangkan kembali untuk melayani penerbangan komersial secara luas. Tantangan utama yang dihadapi adalah ketersediaan sumber daya dan kebutuhan infrastruktur yang harus diperbaiki agar mampu memenuhi standar operasional. Namun, sejumlah kalangan berharap reaktivasi ini bisa memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pariwisata kota Bandung.
Komentar Ahli tentang Reaktivasi Bandara
Menurut Achdijat Sulaeman, pakar hubungan internasional, reaktivasi Bandara Husein Sastranegara menawarkan peluang emas bagi Kota Bandung. "Kabarnya, bandara ini bisa menjadi penyemangat bagi sektor ekonomi kota," katanya. Ia menekankan bahwa bandara yang telah sejak lama berhenti beroperasi secara penuh ini bisa memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah, terutama jika kembali menjadi pusat aktivitas transportasi udara yang aktif.
"Bandara Husein Sastranegara memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas hidup warga Kota Bandung. Jika dikelola dengan baik, ini bukan hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga strategi pengembangan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Achdijat Sulaeman.
Ia juga menyebutkan bahwa kembalinya bandara ini ke layanan komersial bisa meningkatkan aksesibilitas Kota Bandung, termasuk kawasan sekitar Bandara Kertajati. Hal ini berpotensi menarik investasi dan menggerakkan pertumbuhan industri pendukung seperti pariwisata, perhotelan, dan retail. Selain itu, Achdijat memperkirakan bahwa kehadiran bandara tersebut akan menarik minat wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia, yang sebelumnya lebih memilih Bandara Husein Sastranegara untuk keperluan pariwisata.
Pariwisata sebagai Pendorong Ekonomi
Kota Bandung, yang dikenal sebagai kota kuliner dan pusat budaya, memiliki keunikan yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat daya tarik pariwisata. Menurut Achdijat Sulaeman, salah satu strategi yang bisa diimplementasikan adalah gastrodiplomasi, yaitu penggunaan kuliner sebagai alat diplomasi untuk menarik minat wisatawan. "Kuliner Bandung, seperti nasi liwet, batagor, dan makanan khas lainnya, bisa menjadi ikon yang membangun citra kota secara global," jelasnya.
Beberapa ahli menyebutkan bahwa pengembangan gastrodiplomasi membutuhkan kerja sama antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat. Dengan adanya Bandara Husein Sastranegara kembali beroperasi, wisatawan asing dapat lebih mudah mengakses kekayaan budaya dan kuliner kota tersebut. Selain itu, bandara ini juga bisa menjadi pintu masuk bagi turis lokal yang ingin mengunjungi destinasi wisata di sekitar Kota Bandung, seperti Lembang atau Ciater.
Paradiplomasi: Strategi Kota dalam Membangun Hubungan Internasional
Di samping gastrodiplomasi, Achdijat Sulaeman juga mengingatkan akan pentingnya paradiplomasi, yaitu hubungan diplomatik antar kota atau antar provinsi. "Kota Bandung bisa memanfaatkan bandara ini untuk membangun kemitraan dengan kota-kota lain, terutama yang memiliki kesamaan budaya atau ekonomi," katanya. Paradiplomasi ini diharapkan bisa membuka peluang kerjasama dalam bidang pariwisata, investasi, dan ekspor impor.
Sebagai contoh, Kota Bandung bisa berkoordinasi dengan kota-kota di Malaysia untuk mengembangkan jalur wisata yang menggabungkan kekayaan kuliner dan destinasi alam. Selain itu, bandara yang menjadi koneksi utama juga bisa memperkuat posisi Kota Bandung sebagai pusat logistik regional. Dengan strategi ini, kota yang terkenal dengan keberagaman budaya dan keindahan alam tersebut bisa mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Analisis Ketersediaan Infrastruktur dan Perkembangan Terkini
Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara dan Kertajati memerlukan persiapan yang matang. Menurut data terbaru, Bandara Kertajati telah rampung dalam beberapa tahun terakhir dan diproyeksikan mampu melayani sekitar 30 juta penumpang per tahun. Namun, Bandara Husein Sastranegara masih membutuhkan peningkatan fasilitas, seperti layanan check-in, terminal, dan sistem navigasi. Pemerintah daerah dan pihak swasta diharapkan bisa berkolaborasi untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Beberapa warga Bandung juga memberikan harapan besar terhadap reaktivasi ini. Mereka berkeyakinan bahwa kembalinya bandara akan mendorong pertumbuhan usaha kecil menengah (UKM) yang bergerak di bidang makanan, perhotelan, dan transportasi. Selain itu, para pengusaha transportasi udara mengatakan bahwa kehadiran dua bandara ini bisa mengurangi ketergantungan pada Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, yang saat ini menjadi satu-satunya bandara utama di Jawa Barat.
Manfaat Ekonomi dan Dampak Sosial
Kelompok peneliti ekonomi menyebutkan bahwa kembali aktifnya Bandara Husein Sastranegara akan memberikan dampak positif terhadap penerimaan pendapatan daerah. Dengan adanya akses udara yang lebih mudah, lebih banyak pelaku usaha lokal bisa mengembangkan bisnisnya, termasuk pengusaha kuliner. "Peningkatan frekuensi penerbangan akan mempercepat pertukaran ide dan produk, yang bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat," tambah Achdijat Sulaeman.
Reaktivasi bandara ini juga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal, terutama di sektor pariwisata dan transportasi. Selain itu, keberadaan bandara akan memperkuat citra Kota Bandung sebagai kota yang modern dan memiliki kapasitas untuk melayani kebutuhan transportasi skala besar. Menurut Achdijat, langkah ini bisa menjadi batu loncatan bagi pengembangan kota yang lebih berkelanjutan.
Perbandingan dengan Bandara Kertajati
Menyusul reaktivasi Bandara Husein Sastranegara, Bandara Kertajati pun turut menjadi fokus