DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Stafsus Menag Mengaku Malu Perkemahan JAI di Karanganyar Dibubarkan Paksa

Published Juni 8, 2026 · Updated Juni 8, 2026 · By Joko Setiawan

Stafsus Menag Mengaku Malu Perkemahan JAI di Karanganyar Dibubarkan Paksa

Stafsus Menag Mengaku Malu Perkemahan JAI - Peristiwa pembubaran paksa acara Kemah Pemuda Ahmadiyah di Karanganyar, Jawa Tengah, memicu respons yang cukup kuat dari sejumlah tokoh. Salah satunya adalah Gugun Gumilar, yang menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Agama RI. Ia mengeluarkan permohonan maaf serta kepedulian yang dalam kepada seluruh pimpinan dan anggota Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), dalam upaya mengakui kekhilafan atas kejadian tersebut. Menurut Gugun, aksi yang dilakukan selama perayaan kegiatan tersebut merupakan bentuk kegagalan dalam membangun kerja sama yang harmonis antar kelompok. Ia juga menyoroti bahwa tindakan ini menunjukkan kesenjangan dalam mengelola keragaman di tingkat masyarakat.

Pembubaran paksa dilakukan pada hari Jumat, 25 Oktober 2024, ketika ratusan peserta Kemah Pemuda Ahmadiyah sedang berkumpul di lapangan desa Karanganyar, yang menjadi tempat rutin untuk kegiatan keagamaan. Aksi ini dianggap sebagai bentuk intoleransi yang tajam, karena peserta dipaksa meninggalkan lokasi acara tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sejumlah warga menyatakan bahwa kejadian ini menimbulkan kekacauan, bahkan mengganggu suasana damai yang biasanya terjaga di daerah tersebut. Gugun Gumilar, dalam unggahannya di media sosial, mengakui bahwa tindakan tersebut memicu kekecewaan dan kecemasan di kalangan masyarakat.

“Saya malu sekali belum bisa bekerja dengan baik dan benar dalam mengatasi intoleransi di sekitar kita,” tulis Gugun Gumilar, sambil menekankan bahwa dialog antarumat beragama adalah kunci utama untuk menghindari konflik. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan Kemah Pemuda Ahmadiyah bertujuan memperkuat persatuan dan menciptakan ruang pertukaran ide yang sehat.

Gugun Gumilar menjelaskan bahwa ia telah melakukan koordinasi yang dilakukan secara aktif sejak malam hari sebelumnya, baik dengan pihak berwenang maupun tokoh setempat. Namun, meski usaha tersebut dianggap sebagai langkah yang tepat, hasilnya tidak sesuai harapan. Menurutnya, aksi intoleransi yang terjadi menunjukkan bahwa masyarakat masih memerlukan edukasi lebih lanjut tentang pentingnya menghargai perbedaan. Ia menambahkan bahwa kejadian ini bisa saja dihindari jika terjadi komunikasi yang lebih transparan sejak awal.

Pembubaran paksa di Karanganyar dinilai sebagai konflik yang memperlihatkan sisi lemah dari upaya mengelola keberagaman di lingkungan masyarakat. Sebagai bentuk kekonsistenan, Gugun Gumilar menegaskan bahwa langkah yang diambil bukanlah hasil keputusan sembarangan, tetapi didasarkan pada kekhawatiran bahwa kegiatan tersebut bisa memicu perselisihan. Namun, ia juga mengakui bahwa ada kesalahan dalam penerapan cara tersebut, khususnya karena peserta dianggap sebagai ancaman tanpa bukti yang jelas.

Dalam menyampaikan permintaan maaf, Gugun Gumilar mengungkapkan bahwa ia berharap tindakan ini bisa menjadi pelajaran untuk meningkatkan kerja sama antar organisasi. Ia menekankan bahwa JAI selama ini dikenal sebagai kelompok yang aktif dalam membangun kesadaran keagamaan di masyarakat, dan pembubaran paksa kemungkinan mengurangi kontribusi positif mereka. Gugun juga meminta maaf secara khusus kepada warga Ahmadiyah yang merasa terganggu, dengan berharap mereka bisa kembali tenang dan fokus pada tujuan akhir kegiatan.

Karanganyar, sebagai daerah yang dikenal ramah dan beragam, menjadi tempat yang ideal untuk kegiatan seperti Kemah Pemuda Ahmadiyah. Acara tersebut sebelumnya telah berlangsung selama beberapa tahun dan dihadiri oleh ribuan peserta dari berbagai latar belakang. Tapi, pada hari itu, suasana berubah menjadi tidak kondusif ketika para peserta dipaksa meninggalkan lokasi. Sementara itu, Pemerintah Daerah setempat menyatakan bahwa tindakan pembubaran adalah respons atas keluhan masyarakat terhadap penggunaan fasilitas umum yang dianggap tidak sesuai aturan.

Dari kampus hijau di Cibiru, Kota Bandung, Gugun Gumilar telah mengambil peran penting sebagai Staf Khusus Menteri Agama RI. Ia diangkat ke posisi tersebut setelah menunjukkan dedikasi yang tinggi dalam bidang pendidikan agama dan pengembangan kebijakan sosial. Namun, kejadian di Karanganyar menjadi titik balik dalam karier politiknya. Gugun menyatakan bahwa ia bersikap terbuka untuk menerima masukan dari semua pihak, termasuk kelompok yang terlibat langsung dalam konflik tersebut.

Menurut laporan terkini, lebih dari 100 peserta Kemah Pemuda Ahmadiyah mengalami kesulitan dalam merespons tindakan paksa. Banyak di antara mereka mengungkapkan rasa kecewa dan terluka, karena acara yang dihadiri secara sukarela justru diakhiri dengan cara yang kasar. Gugun Gumilar, dalam unggahannya, menyatakan bahwa ia akan terus berupaya untuk memperbaiki kerja sama dengan JAI, serta mencari jalan keluar yang lebih bijak untuk mengatasi masalah serupa di masa depan. Ia menegaskan bahwa keberagaman adalah anugerah, dan setiap langkah harus diambil dengan kehati-hatian agar tidak merusaknya.

Sebagai Stafsus Menag, Gugun Gumilar diberikan tugas khusus untuk menjadi mediator antar kelompok agama dan memastikan keberhasilan kebijakan inklusif. Pemilihan Karanganyar sebagai lokasi acara juga dianggap sebagai langkah strategis, karena daerah tersebut memiliki keragaman etnis dan agama yang tinggi. Namun, kejadian yang terjadi menunjukkan bahwa keberagaman belum sepenuhnya diakui secara utuh dalam praktik sehari-hari. Gugun berharap insiden ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen menghadapi isu intoleransi.

Sejumlah pemimpin JAI menyambut baik permintaan maaf yang dikeluarkan oleh Gugun Gumilar. Mereka menilai bahwa langkah tersebut menunjukkan kejujuran dan keinginan untuk memperbaiki hubungan. Namun, ada juga suara yang menuntut respons lebih tegas dari pihak berwenang, terutama dalam menjamin hak warga untuk berkumpul dan beribadah. Pembubaran paksa dianggap sebagai bentuk diskriminasi yang menunjukkan kurangnya pemahaman tentang konsep keberagaman yang sejati.

Dalam pernyataan terbarunya, Gugun Gumilar menyatakan bahwa ia akan menyelidiki lebih lanjut penyebab pembubaran paksa dan mengevaluasi kebijakan yang diterapkan. Ia juga berharap semua pihak bisa terlibat dalam dialog terbuka untuk mencari solusi bersama. Menurutnya, kejadian ini bukan hanya tentang satu acara, tetapi mencerminkan dinamika sosial yang lebih luas, yang perlu dijawab dengan kebijakan yang lebih berimbang.