Strategi Penting: Kemhan Siapkan Skema Empat Hari Kerja untuk Efisiensi BBM
Kemhan Siapkan Skema Empat Hari Kerja untuk Efisiensi BBM
Dalam upaya mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM), Kementerian Pertahanan (Kemhan) tengah merancang perubahan jadwal kerja yang mengurangi hari kerja dari lima menjadi empat. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipatif terhadap ketidakstabilan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah, menurut pernyataan Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait, yang dikutip pada Rabu (25/3/2026).
Langkah Mitigasi untuk Kekuatan Nasional
Rico menjelaskan, Kemhan dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sedang melakukan penyesuaian dalam sistem administrasi dan manajemen. “Efisiensi BBM difokuskan pada aspek penunjang, sementara operasional strategis tetap diutamakan,” tambahnya. Skema ini, menurut jenderal bintang satu tersebut, bertujuan memperkuat ketahanan nasional dengan mengedepankan disiplin dalam penggunaan sumber daya strategis.
Menurut Rico, penerapan jadwal kerja empat hari bertahap dilakukan untuk menjaga konsistensi fungsi pertahanan. “Kebijakan ini adaptif, terukur, dan didasarkan pada kebutuhan masing-masing unit kerja,” ujarnya. Selain penyesuaian hari kerja, Kemhan juga menerapkan pengaturan penggunaan alutsista dan membatasi kendaraan dinas serta angkutan pegawai.
Kritik dari Ahli Ekonomi Energi
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengungkapkan keraguan terhadap kebijakan work from home (WFH) satu hari seminggu. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak mudah diterapkan karena berkaitan dengan perubahan kebiasaan kerja. “Jika ASN dan pegawai swasta tidak bekerja di rumah pada Jumat, tetapi justru berlibur di tempat wisata, maka penghematan BBM tidak signifikan,” katanya dalam keterangan tertulis pada Sabtu (21/3/2026).
Fahmy menyoroti risiko yang mungkin terjadi, seperti penurunan produktivitas industri di sektor manufaktur. Ia juga mengkhawatirkan dampak terhadap usaha kecil menengah (UMKM) dan sektor transportasi, terutama ojek online (ojol). “Dengan WFH-1, biaya subsidi BBM mungkin berkurang, tapi biaya lain justru meningkat,” ujarnya.
“Jangan sampai penerapan WFH-1 memberikan manfaat penghematan subsidi BBM, tetapi sektor lain yang harus menanggung biayanya,” kata Fahmy.
