DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Survei PR: Kental Manis Masih Jadi Kebiasaan Keluarga Indonesia – Orang Tua Sering Tak Sadar Anak Terpapar Gula

Published Juni 21, 2026 · Updated Juni 21, 2026 · By Intan Nugroho

Survei PR: Kental Manis Masih Jadi Kebiasaan Keluarga Indonesia, Orang Tua Sering Tak Sadar Anak Terpapar Gula

Survei PR - Kebiasaan mengonsumsi kental manis di kalangan masyarakat Indonesia masih sangat dominan, meski banyak orang tua beranggapan bahwa anak mereka tidak lagi mengandalkan produk berbahan gula tersebut. Survei yang dilakukan Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) bersama tim peneliti Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) menunjukkan bahwa kenyataannya, paparan gula melalui kental manis masih terjadi setiap hari. Dalam survei yang melibatkan lebih dari 2.150 responden orang tua dengan anak usia 0 hingga 5 tahun selama tahun 2026, sebanyak 66,6 persen dari mereka mengakui bahwa anak-anak mereka masih rutin mengonsumsi kental manis. Hal ini membuktikan bahwa kebiasaan ini belum sepenuhnya berubah meski ada kesadaran akan dampak kesehatan gula.

Salah satu faktor yang memicu kebiasaan ini adalah cara penggunaan kental manis dalam berbagai jenis makanan dan minuman. Menurut hasil survei, sebagian besar orang tua mulai memperkenalkan produk ini kepada anak-anak pada usia 1 hingga 3 tahun, periode kritis dalam pembentukan kebiasaan makan. Meski dianggap sebagai pilihan yang sehat, kental manis sebenarnya mengandung kadar gula yang tinggi, yang bisa berdampak pada pertumbuhan anak. Meski demikian, banyak orang tua masih percaya bahwa penggunaan kental manis dalam porsi kecil tidak membahayakan.

Yang menarik, paparan kental manis tidak selalu diberikan secara langsung sebagai minuman. Sebanyak 13,65 persen responden mengaku bahwa anak mereka mengonsumsi gula melalui berbagai bentuk produk olahan, seperti camilan, roti, minuman kemasan, makanan penutup, hingga bahan-bahan tambahan dalam masakan sehari-hari.

Menyadari bahwa kental manis hanya salah satu sumber gula, para orang tua perlu memperluas wawasan tentang konsumsi gula secara umum. Dalam survei, 59,8 persen responden menyebutkan bahwa anak-anak mereka tidak mengonsumsi kental manis sebagai minuman tetapi terpapar melalui makanan lain. Misalnya, produk olahan seperti roti panggang atau makanan penutup bisa mengandung gula tambahan dalam jumlah yang signifikan. Hal ini membuat paparan gula terjadi secara terus-menerus, tanpa orang tua menyadari seberapa besar pengaruhnya.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa kebiasaan mengonsumsi kental manis sejak dini bisa membentuk pola makan yang berkelanjutan. Anak-anak yang mulai terbiasa dengan rasa manis pada usia muda cenderung lebih suka makanan dengan kadar gula tinggi, sehingga berpotensi mengurangi konsumsi makanan bergizi. Lebih dari separuh responden mengaku bahwa anak mereka sudah terbiasa mengonsumsi kental manis dalam bentuk makanan penutup atau camilan. Beberapa orang tua bahkan tidak menyadari bahwa gula dalam produk kental manis bisa memengaruhi metabolisme anak.

Terlepas dari kesadaran akan kesehatan, banyak orang tua masih menggunakan kental manis sebagai pengganti susu atau bahan tambahan untuk meningkatkan cita rasa makanan. Survei menunjukkan bahwa sekitar 28,3 persen responden menyatakan mengonsumsi kental manis dalam bentuk minuman setiap hari, sementara 41,2 persen menggunakannya secara tidak langsung melalui makanan. Dengan demikian, kebiasaan ini tidak hanya terjadi di rumah makan, tetapi juga melibatkan kebiasaan sehari-hari yang sering diabaikan.

Paparan gula sejak dini bisa memicu risiko kesehatan jangka panjang, seperti obesitas atau penyakit gula. Dalam survei, 33,1 persen responden mengakui bahwa mereka mengalami kesulitan mengontrol jumlah gula yang masuk ke dalam makanan anak. Meski beberapa orang tua memilih produk dengan kandungan gula rendah, masih banyak yang tidak memperhatikan label kemasan atau mengira bahwa gula dalam jumlah kecil tidak berdampak signifikan.

Beberapa orang tua mengungkapkan bahwa mereka menggunakankan kental manis untuk menambah rasa pada makanan anak, terutama pada usia pra-sekolah. Mereka menyebutkan bahwa anak-anak lebih senang makanan dengan rasa manis, sehingga kental manis dianggap sebagai solusi praktis. Namun, perlu diperhatikan bahwa penggunaan berlebihan bisa mengurangi asupan nutrisi penting, seperti protein atau serat, yang diperlukan untuk pertumbuhan sehat.

Kebiasaan ini juga terkait dengan pola konsumsi makanan pangan yang umum dijumpai di rumah tangga. Dalam survei, 17,4 persen responden menyebutkan bahwa makanan dan minuman yang mengandung kental manis sering diberikan sebagai camilan saat siang hari atau malam hari. Hal ini bisa memperkuat kebiasaan mengonsumsi gula secara berlebihan, karena anak-anak cenderung lebih terbiasa dengan rasa manis yang sering muncul dalam makanan.

Hasil survei ini menjadi peringatan bahwa orang tua perlu lebih waspada dalam memantau konsumsi gula anak. Meski banyak yang beranggapan bahwa kental manis adalah makanan sehat, paparan gula yang terjadi secara terus-menerus justru bisa memengaruhi kesehatan anak sejak dini. Dengan meningkatkan kesadaran akan risiko tersebut, diharapkan orang tua bisa mengubah kebiasaan makan anak menjadi lebih seimbang. Tantangannya terletak pada cara memperkenalkan makanan bergizi secara bertahap, sambil tetap menjaga kebiasaan yang sudah terbentuk.

Sebagai langkah awal, para orang tua disarankan untuk mengurangi penggunaan kental manis secara langsung dan memperhatikan kadar gula dalam produk olahan lainnya. Selain itu, mengganti makanan manis dengan pilihan yang lebih sehat, seperti buah-buahan atau makanan rendah gula, bisa menjadi solusi efektif. Dengan berbagai upaya ini, diharapkan anak-anak Indonesia bisa terhindar dari paparan gula berlebihan yang berdampak negatif pada kesehatan jangka panjang.

Survei PRMN dan Unisba juga menyoroti pentingnya pendidikan gizi bagi masyarakat. Banyak orang tua yang menganggap kental manis sebagai makanan wajib karena kebiasaan turun-temurun, tetapi kenyataannya, penggunaannya bisa diminimalkan tanpa mengorbankan rasa. Dengan memahami bahwa gula bisa terkandung dalam berbagai bentuk, orang tua lebih mudah mengambil keputusan yang bijak untuk kesehatan anak.

Dalam konteks ini, kebiasaan mengonsumsi kental manis yang sejak dulu umum di Indonesia masih menjadi tantangan utama. Meski ada kesadaran akan dampak negatif, adopsi perubahan membutuhkan waktu dan upaya. Survei menunjukkan bahwa sebanyak 66,6 persen responden masih menganggap kental manis sebagai pilihan yang wajar, sehingga kebiasaan ini perlu terus dipantau dan disosialisasikan lebih