DonasiKitaBisa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Visit Agenda: Kritik Kebijakan Obama, Trump Sebut Pengusiran Rusia dari G8 Sentuh Akar Konflik dengan Ukraina

Published Juni 21, 2026 · Updated Juni 21, 2026 · By Sari Purnama

Kritik Kebijakan Obama, Trump Sebut Pengusiran Rusia dari G8 Sentuh Akar Konflik dengan Ukraina

Visit Agenda - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyampaikan pandangan yang menimbulkan perdebatan mengenai dinamika geopolitik global, khususnya terkait perang antara Rusia dan Ukraina. Dalam wawancara terbaru, ia menyoroti bahwa konflik yang berlangsung antara kedua negara tersebut bisa dicegah jika negara-negara Barat tidak mengusir Moskow dari keanggotaan Kelompok Delapan (G8). Trump mengungkapkan bahwa keberadaan Rusia dalam forum ekonomi utama dunia itu sejatinya lebih efektif dalam menjaga stabilitas keamanan global melalui jalur diplomasi meja bundar.

Menurut Trump, keputusan untuk mengusir Rusia dari G8 pada 2014 menjadi titik awal dari ketegangan yang kini memicu perang. Ia menekankan bahwa kehadiran Rusia dalam kelompok tersebut tidak hanya berdampak pada hubungan internasional, tetapi juga terkait erat dengan krisis Ukraina saat ini. "Mereka (negara-negara Barat, Red) semestinya tetap mempertahankan format G8. Sangat mungkin tidak akan ada letupan perang antara Rusia dan Ukraina saat ini jika mereka melakukannya," ujarnya.

"Pemerintahan Obama saat itu justru tidak menginginkan kehadiran Rusia di sana," tambah Trump, mengkritik kebijakan yang diambil selama masa kepemimpinannya.

Pernyataan Trump ini bukan pertama kalinya ia menyampaikan keraguan terhadap keputusan politik sebelumnya. Sebelumnya, selama KTT G7 yang berlangsung di Evian, Prancis, ia secara terbuka menyatakan keraguan terhadap ketepatan langkah mengusir Rusia dari forum elite tersebut. Ia menilai bahwa tindakan itu memicu persaingan geopolitik yang lebih besar, terutama antara Amerika Serikat dan Rusia.

Dalam konteks ini, Trump mengkritik kebijakan luar negeri Obama yang menurutnya memberi ruang untuk konflik dengan Rusia. Ia menekankan bahwa keputusan untuk memutus hubungan Rusia dengan G8 dianggap sebagai langkah yang salah, karena mengganggu komunikasi antar-negara. "Obama memilih untuk memutus keanggotaan Rusia di G8, padahal itu justru bisa mencegah perang dengan Ukraina," katanya. Pandangan ini menggambarkan keraguan Trump terhadap kebijakan yang berdampak langsung pada stabilitas regional.

Konteks Pengusiran Rusia dari G8

Keputusan untuk mengusir Rusia dari G8 terjadi pada 2014, setelah invasi militer Rusia ke wilayah Donetsk dan Luhansk di Ukraina. Kebijakan ini menjadi bagian dari sanksi internasional yang diberikan terhadap Rusia sebagai respons terhadap perang di wilayah tersebut. Meski demikian, Trump menilai bahwa pengusiran ini memperkuat posisi politik Barat untuk mengisolasi Rusia, sehingga memicu penguasaan politik yang lebih agresif.

Kelompok Delapan (G8) terdiri dari delapan negara yang dianggap sebagai pilar ekonomi dan politik global, termasuk Amerika Serikat, Inggris Raya, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, Prancis, dan Rusia. Pengusiran Rusia dari G8 menjadi langkah penting dalam reorganisasi kekuasaan internasional, menggantikan posisinya dengan G7. Trump menilai bahwa perubahan ini merugikan upaya dialog antara Rusia dan negara-negara Barat, yang sebelumnya dianggap sebagai alat utama menjaga keamanan global.

"Rusia seharusnya tetap menjadi bagian dari G8. Dengan keanggotaan itu, mereka bisa terlibat dalam pembicaraan diplomatik yang lebih produktif. Namun, Obama memilih untuk memperketat hubungan dengan negara-negara Barat, bahkan dengan cara mengusir Rusia," ujarnya.

Menurut Trump, sanksi yang diberikan kepada Rusia tidak hanya memengaruhi hubungan bilateral, tetapi juga memperdalam perbedaan politik antara negara-negara Barat dan Rusia. Ia menilai bahwa keputusan ini memicu percepatan konflik dengan Ukraina, yang sebelumnya dianggap sebagai perang sengaja dijauhkan dari pendekatan diplomasi. "Jika Rusia tetap dalam G8, mungkin mereka akan berusaha menyelesaikan masalah dengan Ukraina melalui negosiasi, bukan dengan cara yang terbuka," tambahnya.

Trump juga menyoroti dampak jangka panjang dari kebijakan Obama terhadap keamanan global. Ia mengatakan bahwa keputusan mengusir Rusia dari forum ekonomi utama dunia tersebut menjadi akar dari ketegangan yang terus memburuk. "Ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Obama tidak hanya menargetkan Rusia, tetapi juga mengganggu keseimbangan kekuasaan yang sudah terbentuk," katanya.

Beberapa analis mengakui bahwa pengusiran Rusia dari G8 memang menjadi pemicu utama perang Ukraina, tetapi mereka juga menilai bahwa keputusan ini didasari oleh kepentingan geopolitik yang lebih luas. Beberapa negara Barat, termasuk AS, menganggap bahwa Rusia mengancam stabilitas di Eropa Timur, sehingga mengusirnya dari G8 menjadi bagian dari strategi untuk mengisolasi negara tersebut secara politik dan ekonomi.

Meski demikian, Trump menilai bahwa keputusan Obama memperburuk situasi dengan Rusia, karena memicu perang gerilya yang lebih intens. "Obama tidak hanya mengusir Rusia dari G8, tetapi juga membuat mereka lebih marah, sehingga mempercepat eskalasi konflik," ujarnya. Pandangan ini menunjukkan bahwa Trump memandang kebijakan luar negeri Obama sebagai bagian dari penyebab utama ketegangan antara Rusia dan Ukraina.

Di sisi lain, Trump menekankan bahwa keanggotaan Rusia dalam G8 masih penting untuk menjaga stabilitas keamanan global. Ia menilai bahwa forum tersebut bisa menjadi platform utama untuk menyelesaikan sengketa antara Rusia dan negara-negara Barat, sehingga mengurangi risiko konflik yang lebih besar. "Jika Rusia tetap dalam G8, mungkin konflik dengan Ukraina akan lebih cepat selesai," katanya.

Kritik Trump terhadap kebijakan Obama menjadi bagian dari debat politik yang terus ber