Yang Dibahas: Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran-Tak Disukai AS
Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran yang Tak Disukai AS
Iran secara resmi mengumumkan pilihan baru untuk jabatan pemimpin tertinggi setelah kepergian Ayatollah Ali Khamenei, yang diakibatkan serangan udara dalam konflik besar di Timur Tengah. Majelis Ahli, lembaga yang menentukan pemimpin tertinggi, menetapkan Mojtaba Khamenei, putra mendiang pemimpin, sebagai penerus kekuasaan di Republik Islam. Penetapan ini dianggap sebagai pertanda bahwa kelompok konservatif masih menguasai sistem politik negara tersebut.
Sosok di Balik Layar
Dilansir Reuters, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai tokoh penting di belakang layar sejak lama. Ia memperkuat posisinya melalui hubungan erat dengan instansi keamanan serta jaringan bisnis yang dipengaruhi oleh mereka. Sebagai anggota Majelis Ahli, Mojtaba dianggap sebagai “penjaga gerbang” ayahnya, dengan dukungan kuat dari kalangan radikal di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Ayatollah Mohsen Heidari Alekasir, anggota Majelis Ahli, mengatakan bahwa kandidat dipilih sesuai instruksi Ali Khamenei sebelum wafat. “Pemimpin tertinggi Iran seharusnya menjadi sosok yang ‘dibenci oleh musuh’,” tambahnya dalam video yang dirilis Minggu (8/3/2026).
Bahkan Presiden AS Donald Trump pernah menyebut nama Mojtaba sebagai pilihan yang “tidak dapat diterima”. Heidari Alekasir mengingatkan bahwa kritik terhadap putra pendiang pemimpin sudah muncul sebelum pengumuman resmi. “Apa pun yang terjadi, AS tetap menyebut namanya,” ujarnya.
Latar Belakang dan Perjalanan Hidup
Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 di Mashhad, kota suci Syiah. Ia tumbuh dalam lingkungan yang ayahnya aktif memimpin gerakan oposisi terhadap pemerintahan Shah Iran sebelum revolusi 1979. Pada masa muda, ia terlibat dalam Perang Iran-Irak dan melanjutkan pendidikan agama di Qom, pusat teologi Syiah. Ia memperoleh gelar Hojjatoleslam, yang menunjukkan tingkat keagamaan tinggi.
Walau memegang pengaruh besar, Mojtaba tidak pernah memegang posisi resmi dalam pemerintahan Republik Islam. Ia sering muncul dalam pertemuan umum pendukung pemerintah, tetapi jarang memberi pernyataan publik. Perannya juga memicu perdebatan di Iran, terutama mengenai keberadaan politik dinasti di negara yang menggulingkan monarki Amerika Serikat tahun 1979.
Pernah Dijatuhi Sanksi AS
Dalam 2019, Departemen Keuangan AS memberlakukan sanksi terhadap Mojtaba Khamenei. Washington menyatakan bahwa ia mewakili pemimpin tertinggi dalam kapasitas resmi, meskipun tidak memiliki jabatan pemerintahan. Sanksi ini menjadi bagian dari upaya AS untuk membatasi pengaruh Iran di tingkat internasional.
Di dalam negeri, Mojtaba mungkin menghadapi tantangan dari masyarakat yang semakin menginginkan reformasi. Beberapa tahun belakangan, warga Iran menunjukkan semangat untuk menggelar demonstrasi besar, meski aksi tersebut kerap direspon dengan penindakan keras. Meski demikian, konsistensi kebijakan luar negeri dan program nuklir tetap menjadi fokus utama jabatan yang dipegangnya.

