Yang Dibahas: Perang Masih Panas! RI, China-AS Bakal Umumkan Kabar Penting Pekan Ini
Perang Masih Memanas! RI dan AS Bakal Umumkan Informasi Penting Akhir Pekan Ini
Pasar keuangan dalam negeri menunjukkan variasi signifikan pada perdagangan Jumat (27/3/2026) lalu, dengan IHSG serta nilai tukar rupiah yang turun, sementara yield obligasi berjalan stabil. Pasar bursa AS juga mengalami penurunan signifikan, dengan Wall Street kembali meluncurkan tren negatif akhir pekan ini.
Pasar Saham Indonesia
Di hari penutupan perdagangan Jumat lalu, IHSG ditutup turun 0,94% ke level 7.097,06. Selama hari tersebut, terdapat 396 saham mengalami penurunan, 292 saham naik, dan 270 saham tidak bergerak. Total nilai transaksi mencapai Rp11,64 triliun, dengan 18,83 miliar saham diperdagangkan dalam 1,38 juta transaksi. Kapitalisasi pasar menurun menjadi Rp12.516 triliun.
Meski IHSG turun, investor asing tercatat melakukan aktivitas jual di pasar, dengan net outflow mencapai Rp1,76 triliun. Dalam transaksi, saham Bank Central Asia (BBCA) menjadi yang paling banyak diborong, mencatat total Rp4,14 triliun atau hampir 36% dari total volume perdagangan.
Saham BBCA mengalami penurunan 2,55% ke level 6.700, sementara investor asing juga mencatatkan aksi jual yang menggerus Rp609 miliar pada saham tersebut. BBCA menjadi beban utama IHSG dengan bobot -16,58 poin indeks.
Gerakan Rupiah dan Faktor Eksternal
Mata uang Garuda ditutup melemah 0,38% ke Rp16.960/US$ pada Jumat lalu, berbalik dari Kamis (26/3/2026) yang ditutup sedikit menguat 0,06%. Pelemahan ini terjadi meski secara kumulatif sepekan lalu rupiah masih menguat tipis 0,09%. Tekanan terhadap rupiah mulai terlihat sejak awal hari perdagangan, saat nilai tukar dibuka turun 0,09% ke Rp16.910/US$.
Kondisi pasar global memengaruhi dinamika rupiah, terutama dengan kembali menguatnya dolar AS setelah harapan perundingan antara AS dan Iran memudar. Pelaku pasar menganggap kemungkinan kesepakatan damai masih kecil, sehingga kekhawatiran terhadap konflik yang lebih lama meningkat. Dolar AS kembali menjadi pilihan utama sebagai aset aman. Risiko gangguan di Selat Hormuz juga menjadi faktor pendorong, karena bisa mengurangi pasokan energi global dan memicu kenaikan harga minyak.
Pasar Obligasi
Yield surat utang referensi Indonesia dengan tenor 10 tahun tetap stabil di 6,848% pada penutupan Jumat lalu. Stabilitas yield menunjukkan tekanan beli dan jual masih seimbang. Dalam obligasi, harga bergerak berlawanan dengan yield: naiknya yield berarti harga turun, sebaliknya.
Penurunan Pasar Saham AS
Bursa saham AS ditutup dalam tren negatif pada Jumat (27/3/2026), menunjukkan tekanan pasar global belum mereda. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 793,47 poin atau 1,73% ke 45.166,64, sehingga masuk zona koreksi. S&P 500 turun 1,67% ke 6.368,85, mencatat level penutupan terendah dalam sekitar tujuh bulan, sementara Nasdaq Composite mengalami penurunan 2,15% ke 20.948,36.
Sejak pekan ini, S&P 500 tercatat melemah 2,1% dan mengalami pelemahan mingguan lima kali berturut-turut, sementara Nasdaq turun 3,2% dan Dow terkoreksi 0,9%. Pergerakan ini didorong oleh kekhawatiran terhadap inflasi global dan tekanan politik eksternal.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih mengalami fluktuasi volatil pada perdagangan awal pekan ini, Senin (30/3/2026), serta selama satu pekan ke depan. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.

