Studi: Ghosting Lebih Menyakitkan dari Penolakan Langsung – Dampaknya Bisa Lebih Lama
Temuan Baru: Ghosting Menyebabkan Dukacita Lebih Mendalam daripada Penolakan Langsung
Menurut penelitian terbaru, tindakan ghosting—yaitu mengakhiri hubungan dengan memutus komunikasi secara mendadak tanpa penjelasan—ditemukan lebih menyakitkan dibandingkan penolakan langsung. Studi ini mengungkap bahwa trauma emosional akibat ghosting bertahan lebih lama, terlepas dari jenis kelamin individu.
Pengaruh Ketidakjelasan dalam Komunikasi
Ketika seseorang menghilang tiba-tiba tanpa memberikan alasan, orang yang ditinggalkan sering merasa bingung dan sulit memahami peristiwa tersebut. Ketidakpastian ini memperlambat proses pemulihan emosional, meski kedua metode penolakan—ghosting dan penolakan langsung—secara umum memicu perasaan negatif yang sama.
Temuan ini didukung oleh penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior pada November 2025. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kejelasan dalam penolakan membantu seseorang mengatasi situasi lebih cepat, sedangkan ghosting meninggalkan rasa tidak tahu arah yang berpotensi memperpanjang kerusakan psikologis.
Metode Penelitian: Eksperimen dengan Catatan Harian
Untuk membandingkan dampak ghosting dan penolakan langsung, para peneliti dari University of Milano-Bicocca melakukan dua eksperimen berbasis catatan harian. Peserta diminta berinteraksi dengan asisten peneliti melalui aplikasi Telegram selama 15 menit sehari, selama enam hari berturut-turut.
Dalam tiga hari pertama, komunikasi berjalan normal dengan topik sehari-hari. Setelah itu, skenario diubah: sebagian peserta tetap berbicara seperti biasa, sebagian menerima penolakan langsung, sementara lainnya mengalami ghosting karena lawan bicara tiba-tiba berhenti merespons. Hasil menunjukkan bahwa penolakan langsung memberikan kejelasan yang mempercepat pemulihan emosional.
Keterbatasan dan Rekomendasi
Studi ini menegaskan pentingnya kejelasan dalam mengakhiri hubungan, tetapi masih memiliki batasan. Eksperimen dilakukan dalam lingkungan terkontrol dengan hubungan singkat, sehingga tidak sepenuhnya merepresentasikan dinamika hubungan jangka panjang yang lebih kompleks. Penelitian lanjutan dibutuhkan untuk memahami efek jangka panjang dari ghosting dalam konteks sosial yang lebih luas.
Meski begitu, hasil penelitian menyoroti bahwa ketidakjelasan dalam komunikasi memperparah rasa ditolak. Fenomena ghosting semakin umum karena kemajuan teknologi media sosial dan platform kencan, yang memungkinkan interaksi cepat namun juga akhir hubungan yang tiba-tiba.

