Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
Uncategorized

Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Ekonom: Hanya Siklus Biasa, 5 Tahun Lagi Rupiah Tetap Loyo

Hadi Nugroho - donasikitabisa.com 4 mins read

Sebuah tonggak baru dalam sejarah perbankan sentral Indonesia tercapai ketika Komisi XI DPR RI mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia

Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Ekonom: Hanya Siklus Biasa, 5 Tahun Lagi Rupiah Tetap Loyo

Destry Damayanti Resmi Pimpin Bank Indonesia, Tantangan Struktural Rupiah Tak Berubah

Donasikitabisa.com – Sebuah tonggak baru dalam sejarah perbankan sentral Indonesia tercapai ketika Komisi XI DPR RI mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk masa jabatan 2026–2031. Pengesahan yang berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2026 itu menjadikan Damayanti perempuan pertama yang menempati kursi tertinggi di lembaga pengawas moneter nasional. Namun, di balik simbolisme historis tersebut, para pengamat ekonomi mengingatkan bahwa pergantian nakhoda bank sentral tidak serta-merta mengubah dinamika nilai tukar yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Siklus Kepemimpinan dan Batas Instrumen Moneter

Prof. Didik J. Rachbini, ekonom senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina, menilai pengesahan Damayanti sebagai bagian dari rotasi kepemimpinan yang lazim terjadi di institusi publik. Dalam keterangan tertulis yang ia sampaikan pada Minggu, 30 Agustus 2026, Didik menegaskan bahwa arah fundamental rupiah tidak akan bergeser hanya karena wajah baru di pucuk pimpinan BI.

“Pergantian kepemimpinan BI hanyalah siklus biasa yang 5 tahun lagi rupiah tetap loyo. Kendala utamanya ada pada struktur ekonomi kita yang lemah di sektor luar negeri, dan itu bukan hal yang bisa diubah oleh BI sendirian.”

Pernyataan tersebut merujuk pada keterbatasan mendasar instrumen moneter. Bank sentral memiliki ruang untuk mengatur suku bunga, operasi pasar terbuka, dan intervensi di pasar valuta. Akan tetapi, ketika tekanan pada rupiah bersumber dari defisit struktural neraca berjalan—yakni ketimpangan antara ekspor dan impor—maka kebijakan moneter semata tidak mampu menutupi celah tersebut. Didik menekankan bahwa persoalan ini bersifat makro-ekonomi dan memerlukan reformasi struktural yang melampaui wewenang satu lembaga.

Ekonomi Skala Besar dengan Orientasi ke Dalam

Indonesia kini masuk kategori ekonomi berskala besar dengan pasar domestik yang sangat luas. Didik berpandangan bahwa justru skala inilah yang membuat rupiah secara struktural sulit menguat. Ketika mayoritas aktivitas ekonomi berputar di dalam negeri, seluruh transaksi menggunakan mata uang rupiah sehingga tidak menghasilkan pasokan devisa baru bagi cadangan negara.

“Kepemimpinan baru ini diperkirakan juga tidak akan bisa mengubah struktur ekonomi ini.”

Perbandingan historis yang ia angkat menunjukkan pergeseran orientasi pelaku usaha. Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, banyak industri nasional berorientasi ekspor—mencari pasar luar negeri dan mendatangkan dolar ke dalam negeri. Kini, daya tarik pasar domestik yang mencapai ratusan juta konsumen membuat pelaku usaha lebih condong melayani permintaan dalam negeri. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto dan penciptaan lapangan kerja memang tercapai, tetapi model ekonomi semacam ini tidak secara otomatis memperkuat posisi devisa.

Rakus Devisa: Ketergantungan Impor Bahan Baku

Di balik pertumbuhan domestik yang tampak sehat, terdapat sisi gelap bagi neraca pembayaran. Proses produksi di dalam negeri sangat bergantung pada impor bahan baku, komponen, dan barang modal. Artinya, setiap rupiah yang beredar di pasar domestik pada akhirnya membutuhkan dolar untuk membayar impor tersebut.

“Pengusaha mendapat untung di pasar domestik, tetapi model ini rakus devisa karena kebutuhan impor yang tinggi. Ketika arus masuk devisa dari ekspor manufaktur lebih kecil dibanding permintaan dolar AS, nilai tukar akan selalu berada dalam posisi rentan.”

Kondisi ini menciptakan siklus yang sulit diputus: pertumbuhan domestik mendorong permintaan impor, sementara ekspor manufaktur tidak tumbuh secepatnya. Akibatnya, tekanan jual dolar terhadap rupiah menjadi kronis dan berulang setiap tahun, terlepas dari siapa yang memimpin bank sentral.

Cadangan Devisa dan Implikasi ke Depan

Per akhir Juli 2026, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 145,3 miliar dolar AS. Angka ini, meski masih di atas ambang batas keamanan yang umum digunakan, tetap mencerminkan tekanan struktural yang Didik soroti. Ketika orientasi ekonomi kurang mengarah ke luar, cadangan devisa menjadi lebih rentan terhadap guncangan eksternal—baik dari kenaikan suku bunga global, perlambatan mitra dagang, maupun volatilitas harga komoditas.

Bagi Gubernur baru Damayanti, tantangan lima tahun ke depan bukan sekadar menjaga stabilitas jangka pendek melalui intervensi pasar atau penyesuaian suku bunga. Tantangan sesungguhnya terletak pada mendorong transformasi struktural: meningkatkan nilai tambah ekspor manufaktur, mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku, dan membangun ekosistem industri yang mampu menghasilkan devisa secara berkelanjutan. Tanpa perubahan pada level kebijakan industri, perdagangan, dan investasi tersebut, setiap pergantian kepemimpinan di BI akan terus berhadapan dengan realitas yang sama—rupiah yang tertekan oleh arsitektur ekonomi yang belum berpihak pada sektor luar negeri.

Frequently Asked Questions

What is Destry Damayanti Jadi Gubernur BI Ekonom?

Destry Damayanti Jadi Gubernur BI Ekonom is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Destry Damayanti Jadi Gubernur BI Ekonom matter?

Destry Damayanti Jadi Gubernur BI Ekonom matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi