Pentagon AS: Perang Lawan Iran Telan Biaya USD 25 Miliar

Pentagon AS: Perang Lawan Iran Telan Biaya USD 25 Miliar

Pentagon AS – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah menarik perhatian dunia dalam beberapa bulan terakhir, dengan dampak yang terus berlanjut baik secara politik maupun ekonomi. Menurut laporan yang dirilis oleh kantor berita AFP pada Kamis, 30 April 2026, keuangan Departemen Pertahanan AS telah mengalami tekanan signifikan karena operasi militer yang terus berlangsung. Pelaksana tugas pengawas keuangan Pentagon, Jules Hurst, mengungkapkan bahwa anggaran untuk Operasi Epic Fury hampir mencapai 25 miliar dolar AS. Angka tersebut mencakup pengeluaran besar untuk pasokan senjata dan amunisi yang digunakan dalam serangan terhadap target Iran.

Pengeluaran untuk Operasi Epic Fury

Operasi Epic Fury, yang dirilis sebagai bagian dari respons AS terhadap serangan Iran, telah menjadi fokus utama bagi pengelolaan dana militer. Hurst menjelaskan bahwa sebagian besar dari 25 miliar dolar AS dialokasikan untuk mendukung operasi perang yang berlangsung di wilayah Timur Tengah. Menurutnya, pengeluaran tersebut terus meningkat seiring intensitas perang yang tidak menunjukkan tanda-tanda berkurang. “Kami telah menghabiskan sekitar 25 miliar USD untuk Operasi Epic Fury. Sebagian besar untuk amunisi,” kata Hurst kepada anggota parlemen. Ia menambahkan bahwa angka ini mungkin tidak sepenuhnya akurat, namun memberikan gambaran realistis tentang biaya yang diperlukan untuk mempertahankan operasi tersebut.

“Kami menghabiskan sekitar 25 miliar USD untuk Operasi Epic Fury. Sebagian besar untuk amunisi,” kata pelaksana tugas pengawas keuangan Pentagon, Jules Hurst, kepada anggota parlemen dilansir AFP, Kamis (30/4/2026).

Pernyataan Menteri Pertahanan AS

Dalam sidang kongres yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan penjelasan tambahan tentang angka biaya yang dikemukakan. Ia mengatakan bahwa 25 miliar dolar AS mungkin merupakan estimasi yang masih terbilang rendah. “Angka perkiraan tersebut kurang dari $25 miliar pada saat ini,” jelas Hegseth. Pernyataannya menunjukkan bahwa biaya perang bisa jadi lebih besar dari yang diungkapkan, tergantung pada evolusi situasi di lapangan.

Kepala Pentagon, yang saat ini belum memberikan detail lengkap mengenai biaya operasi militer, mengatakan bahwa angka tersebut bisa berubah seiring waktu. “Kami belum merinci biaya perang secara rinci,” tambahnya. Hal ini memicu pertanyaan tentang transparansi anggaran militer dan bagaimana pengelolaan dana dilakukan dalam kondisi darurat.

“Pertanyaan yang akan saya ajukan kepada komite ini adalah, berapa nilainya untuk memastikan bahwa Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir?” katanya.

Inti Konflik dan Serangan Udara

Perang antara AS dan Iran dimulai sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap militer Iran dan kekuatan kepemimpinan negara tersebut. Serangan tersebut menyasar fasilitas produksi senjata, pusat komando, dan aset penting lainnya yang dianggap menjadi ancaman terhadap keamanan regional. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan kembali terhadap Israel serta pangkalan militer AS di wilayah Timur Tengah. Serangan ini menimbulkan ketegangan yang lebih dalam, dengan perang saling tembak berlanjut di berbagai titik strategis.

Konflik ini tidak hanya memengaruhi wilayah Timur Tengah, tetapi juga berdampak luas ke seluruh dunia. Pasar keuangan global mulai merespons dengan fluktuasi nilai tukar mata uang, sementara harga minyak dan gas alam juga naik karena ketidakpastian geopolitik. Selain itu, angkatan bersenjata AS harus terus meningkatkan operasi di wilayah tersebut, termasuk memperkuat kehadiran militer dan melakukan pemantauan ketat terhadap kegiatan Iran.

Dampak Ekonomi dan Perpanjangan Gencatan Senjata

Sementara itu, Presiden Donald Trump telah memperpanjang gencatan senjata yang berlaku sebelumnya. Namun, meski ada kesepakatan untuk sementara waktu, konflik tersebut tetap berlangsung dengan intensitas yang tinggi. “Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memperpanjang gencatan senjata. Tetapi konflik tersebut — dan dampak ekonomi yang meluas — tetap belum terselesaikan,” tulis laporan tersebut.

Pemimpin militer AS mengakui bahwa biaya perang memang menjadi isu utama, terutama dalam konteks anggaran tahunan yang semakin ketat. Dengan adanya serangan udara besar dan respons balik dari Iran, angka pengeluaran diperkirakan akan terus meningkat. Dalam beberapa minggu terakhir, analis keuangan menyoroti bahwa operasi militer berkelanjutan bisa menyebabkan defisit anggaran yang signifikan, terutama jika perang berlanjut hingga akhir tahun.

Pentagon juga menghadapi tantangan dalam mengatur pengeluaran yang optimal, karena harus memenuhi kebutuhan operasi sekaligus mempertimbangkan kepentingan strategis dalam memperkuat posisi politik di Timur Tengah. Hurst menyatakan bahwa biaya operasi telah menjadi prioritas utama, namun kebutuhan untuk memantau kegiatan Iran tetap menjadi fokus utama. “Kami harus memastikan bahwa sumber daya yang diberikan benar-benar efektif dalam mencapai tujuan strategis,” tambahnya.

Kelompok kritikus menilai bahwa angka 25 miliar dolar AS mungkin hanya menunjukkan sebagian dari total pengeluaran, karena operasi militer bisa mencakup biaya tambahan untuk intelijen, logistik, dan pelatihan pasukan. Dengan perang terus berlangsung, biaya keuangan AS dalam konflik ini bisa melampaui proyeksi awal, terutama jika terjadi eskalasi yang lebih besar. Selain itu, dampak ekonomi dari perang ini juga bisa mengganggu stabilitas pasar global, terutama dalam konteks ketegangan geopolitik yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *