Talud TPU Ambon Ambruk Diterjang Longsor – 10 Kerangka Berserakan
Longsor Mengguncang Talud TPU Ambon, 10 Kerangka Jenazah Terbawa Benda-Benda Terseret
Talud TPU Ambon Ambruk Diterjang Longsor – Bencana alam berupa longsor mengguncang wilayah kota Ambon, Maluku, pada Selasa (28/4) malam. Bencana ini menyebabkan talud penahan Tempat Pemakaman Umum (TPU) di kawasan Galunggung, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, ambruk. Akibat kejadian tersebut, 10 kerangka jenazah terlempar ke bagian depan halaman masjid yang berdekatan.
Bencana hidrometeorologi ini terjadi setelah hujan deras mengguyur kota Ambon sepanjang hari. Angin kencang yang melanda seiring intensitas curah hujan meningkat, memperparah kondisi tanah yang telah lembap. Talud yang berfungsi sebagai penahan tanah tersebut tiba-tiba runtuh, menyebabkan material tanah dan batu-batuan mengalir ke wilayah sekitar. Sejumlah warga yang berada di sekitar TPU segera menyadari adanya kejadian tak terduga tersebut.
Kerangka Jenazah Tersebar di Halaman Masjid
Menurut Natsir Rumra, pengurus Masjid Muhajirin, situasi di TPU menjadi sangat kacau setelah talud ambruk. “Longsor itu juga merusak makam hingga kerangka jenazah berserakan bersama material longsor di halaman masjid,” kata Natsir, dilansir detiksulsel, Rabu (29/4/2026).
Kerusakan yang terjadi tidak hanya menimpa infrastruktur TPU, tetapi juga mengganggu pemakaman yang sedang berlangsung. Beberapa kerangka jenazah terlempar ke area masjid, sementara sebagian lainnya tertimbun oleh material tanah yang terjatuh. Natsir mengatakan, warga sekitar langsung bergerak untuk mengambil langkah darurat.
Dalam pernyataannya, Natsir menjelaskan bahwa kondisi di TPU sangat berbahaya setelah longsor terjadi. “Hujan deras yang tidak berhenti mengakibatkan talud penahan TPU di bagian kiri Masjid Muhajirin runtuh pada malam Rabu,” bebernya. Kebocoran air di tanah yang terjadi sebelumnya, menurut Natsir, membuat permukaan tanah lebih rentan terhadap tekanan berlebih.
Setelah talud ambruk, warga serta petugas kebersihan mulai mengevakuasi kerangka jenazah yang terseret. Mereka mengumpulkan bagian-bagian kerangka dan menempatkannya di area yang lebih aman. Proses evakuasi memakan waktu beberapa jam karena kondisi medan yang sulit dan jarak tempuh yang cukup jauh.
Natsir menambahkan bahwa dari total 10 kerangka jenazah yang berhasil ditemukan, 5 di antaranya berhasil teridentifikasi. “Saat ini, kerangka yang telah terlempar telah diserahkan ke pihak keluarga masing-masing,” jelas Natsir. Dia juga menyebutkan bahwa proses identifikasi masih berlangsung karena kondisi kerangka yang rusak.
Sejumlah warga mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap kejadian tersebut. “TPU adalah tempat bagi orang-orang yang sudah pergi, tapi sekarang justru menjadi tempat untuk kecelakaan,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan nama. Menurutnya, longsor ini tidak hanya merusak fisik, tetapi juga menimbulkan trauma psikologis bagi masyarakat sekitar.
Bencana alam ini juga mengganggu proses pemakaman yang berlangsung di TPU. Pasalnya, selain kerangka jenazah, sejumlah alat pemakaman seperti papan nisan dan peralatan pemotong kain kremasi ikut terseret. Sementara itu, material longsor yang berupa tanah dan batu-batu kecil masih menumpuk di sekitar masjid, menghalangi akses ke beberapa bagian area TPU.
Pihak kecamatan Sirimau, setelah menerima laporan dari warga, segera bergerak untuk mengirimkan tim penyelamatan. Tim tersebut terdiri dari petugas pemerintah, warga setempat, dan organisasi lokal yang mengetahui kondisi sekitar. “Kami berupaya mengumpulkan semua kerangka yang terseret dan memastikan tidak ada yang tertinggal,” kata salah satu anggota tim, yang meminta untuk tidak disebutkan nama.
Dalam upaya evakuasi, tim penyelamat menggunakan peralatan sederhana seperti kayu dan tali untuk mengangkat kerangka yang terjatuh. Namun, beberapa kerangka masih melekat pada batu besar yang sulit diangkat. Proses ini membutuhkan waktu beberapa hari karena hujan yang terus mengguyur menghambat kegiatan evakuasi.
Pengurus masjid juga berupaya membantu dalam proses identifikasi kerangka. Mereka mengumpulkan informasi dari keluarga korban dan mencocokkan dengan data yang ada. “Kami bekerja sama dengan pihak kepolisian dan dokter untuk memastikan identitas kerangka yang sempat tertimbun,” kata Natsir. Proses ini terbukti cukup melelahkan, terutama karena beberapa kerangka harus diangkat dari tempat yang sulit dijangkau.
Kejadian ini menunjukkan betapa rentannya wilayah Ambon terhadap cuaca ekstrem. Hujan deras yang mengguyur kota selama beberapa hari sebelumnya, bersamaan dengan angin kencang, menciptakan kondisi yang rentan terhadap longsor. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi TPU, tetapi juga menyebabkan kerusakan di sejumlah jalan raya dan bangunan lain di sekitar kawasan Galunggung.
Dalam situasi darurat, warga sekitar saling membantu. Beberapa dari mereka membawa alat seperti sekop dan cangkul untuk membersihkan material longsor. Sementara itu, warga lainnya mengumpulkan makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan para penyelamat. “Kami saling bergantian untuk mengerjakan tugas, tidak ada yang menyerah,” ujar seorang warga yang mengambil peran sebagai penjaga tempat evakuasi.
Bencana longsor ini juga memicu perhatian pihak berwenang. Pemkot Ambon dan Dinas Pemadam Kebakaran langsung bergerak untuk mengevaluasi situasi dan memberikan bantuan darurat. “Kami mengevaluasi dampak longsor tersebut terhadap kecamatan Sirimau dan sekitarnya,” kata seorang pejabat dari Dinas Pemadam Kebakaran.
Sebagai langkah pencegahan, pihak berwenang menyarankan warga untuk lebih waspada terhadap cuaca ekstrem. Mereka juga memperkuat sistem pengawasan di wilayah rawan longsor. “Kami berharap kejadian serupa tidak terulang lagi dengan langkah-langkah pencegahan yang lebih baik,” tutur pejabat tersebut.
Dalam upaya memulihkan kondisi, warga dan pihak berwenang menyatakan bahwa TPU akan diperbaiki segera setelah bencana diatasi. “TPU adalah bagian dari kehidupan masyarakat, jadi kami harus merawatnya dengan baik,” kata Natsir. Ia berharap, kejadian ini menjadi pelajaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana alam.
