6 Pelajar Tersangka Ricuh May Day di Bandung Positif Konsumsi Tramadol
6 Pelajar Tersangka Ricuh May Day di Bandung Positif Konsumsi Tramadol
Kabid Humas Polda Jabar Terungkap Penggunaan Narkoba Selama Kericuhan
6 Pelajar Tersangka Ricuh May Day – Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, mengungkapkan bahwa enam pelajar yang terlibat dalam kericuhan May Day di Bandung didapati dalam kondisi terpengaruh obat terlarang Tramadol saat melakukan aksi. “Ini sangat memprihatinkan, selain terlibat dalam tindakan anarkis, para tersangka juga ditemukan dalam pengaruh narkotika tersebut,” katanya, Sabtu (2/5/2026), seperti dilansir detikJabar. Tramadol, yang termasuk dalam kategori obat penghilang rasa sakit, sering digunakan secara ilegal untuk memicu perubahan mood atau efek antipsikotik. Kombes Hendra menyebutkan bahwa penggunaan obat ini memperburuk kondisi psikologis para pelajar, sehingga memungkinkan mereka melangsungkan aksi yang lebih intens dan berpotensi memicu konflik antar kelompok.
“Penggunaan Tramadol dan pengaruhnya terhadap emosi para pelajar menjadi faktor penting dalam menentukan kekuatan aksi mereka,” tambahnya.
Dalam penyelidikan lanjutan, polisi juga mengidentifikasi penggunaan narkoba terlarang sebagai bagian dari penindakan terhadap kejadian kericuhan. “Kasus ini tidak hanya mengenai kerusuhan, tetapi juga mengarah pada investigasi penggunaan obat-obatan terlarang,” jelas Hendra. Pihak kepolisian menegaskan bahwa obat-obatan yang ditemukan di tengah aksi tersebut bisa menjadi bukti terkait upaya mengendalikan emosi atau mengurangi rasa takut para pelajar. Penyitaan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mengungkap akar masalah yang mendasari tindakan mereka.
Psikotropika dan Atribut Kelompok Disita dari Tersangka
Dalam operasi penyitaan, petugas berhasil mengamankan berbagai jenis psikotropika dari salah satu tersangka. “Kami mengambil beberapa butiran Alprazolam, Mersi, Euforis, serta Risperidon sebagai bukti,” ujar Hendra. Alprazolam, yang sering digunakan untuk mengatasi kecemasan, dan Risperidon, obat anti-psikotik, berperan dalam mengubah perilaku pelajar dan meningkatkan keterbukaan terhadap aksi-aksi ekstrem. Selain itu, petugas juga menemukan atribut yang menunjukkan keanggotaan dalam kelompok “pelajar pembangkang” serta barang-barang antifasis yang disita dari tas para pelaku.
“Kami juga amankan berbagai simbol perlawanan yang mereka bawa, seperti poster atau bahan-bahan yang menunjukkan sikap menentang pemerintah atau sistem tertentu,” tambahnya.
Kelompok ini dituduh mencoba memanfaatkan para pelajar sebagai alat untuk memicu kekacauan. “Ada indikasi bahwa organisasi tertentu berusaha menyebarluaskan pengaruh narkoba guna mengubah orientasi pola pikir mereka,” kata Hendra. Penyelidikan terus berlanjut guna mengungkap apakah ada koordinasi terstruktur di balik aksi tersebut. Atribut yang ditemukan dianggap sebagai bukti bahwa para pelajar bukan hanya terlibat secara individu, tetapi juga termasuk dalam jaringan yang lebih luas.
Motif Aksi dan Upaya Pencegahan
Menurut Hendra, pihak kepolisian akan memeriksa asal-usul obat-obatan serta motivasi di balik simbol-simbol perlawanan yang dibawa oleh para tersangka. “Kami menelusuri apakah ada hubungan antara penggunaan Tramadol dan penggunaan simbol-simbol anti-status quo di tengah aksi,” lanjutnya. Penyelidikan ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai bagaimana kekuatan psikologis dan sosial digunakan untuk menggerakkan para pelajar dalam bentuk kekerasan.
“Kasus ini menjadi pembelajaran bagi orang tua agar lebih waspada terhadap pergaulan dan aktivitas anak-anaknya,” pungkas Hendra.
Dalam upaya pencegahan, Hendra menekankan pentingnya pengawasan orang tua terhadap lingkungan sosial anak-anak. “Kami mengimbau orang tua untuk memperketat pengawasan, terutama terhadap penggunaan narkoba dan pengaruh dari kelompok-kelompok tertentu,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa efek Tramadol bisa mempercepat reaksi emosional para pelajar, membuat mereka lebih rentan terhadap provokasi. “Kondisi ini mengancam kestabilan sosial dan harus segera diperhatikan,” tegas Kabid Humas tersebut.
Konteks May Day dan Dampak pada Masyarakat
Kericuhan May Day di Bandung, yang terjadi pada 2 Mei 2026, menimbulkan kekhawatiran terhadap keterlibatan pelajar dalam bentuk anarkisme. Aksi ini tidak hanya memengaruhi lingkungan sekitar, tetapi juga mengguncang masyarakat umum. “May Day adalah momen penting untuk mengekspresikan kekecewaan atau kemarahan, tetapi jika tidak dikendalikan dengan baik, bisa berubah menjadi pemicu konflik besar,” kata Hendra. Ia menyoroti bahwa penggunaan Tramadol dalam situasi seperti ini bisa mengurangi kemampuan para pelajar dalam mengontrol emosi dan membuat mereka lebih terbuka terhadap kerusakan yang mereka lakukan.
Langkah Kepolisian dan Keterlibatan Kelompok Tertentu
Polda Jabar menegaskan bahwa penyelidikan terus berjalan untuk menentukan keterlibatan kelompok tertentu dalam kejadian tersebut. “Kami sedang menyelidiki apakah ada organisasi atau kelompok yang secara sengaja memanfaatkan pelajar sebagai pihak yang terlibat dalam aksi,” ujar Hendra. Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa kejadian ini menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi kelompok anti-pemerintah atau gerakan yang ingin menunjukkan ketidakpuasan terhadap kebijakan tertentu.
“Kami akan menyelidiki seluruh aspek, termasuk motivasi di balik penggunaan Tramadol dan simbol-simbol perlawanan yang mereka bawa,” pungkasnya.
Dalam penyelidikan lebih lanjut, pihak kepolisian juga memperhatikan bagaimana narkoba digunakan sebagai alat penenang atau pengaruh pengambilalihan. “Tersangka mungkin memanfaatkan obat ini untuk mengurangi rasa takut atau kecemasan sebelum melakukan aksi,” jelas Hendra. Dengan demikian, kasus ini tidak hanya menyoroti peran narkoba dalam memicu kericuhan, tetapi juga mengungkap cara narkoba dijadikan sarana untuk menggerakkan perlawanan sosial.
